MADIUN – Usia lanjut usia (lansia) dan sakit stroke tidak menghentikan seseorang untuk berkarya. Bahkan termotivasi “melawan” sakitnya. Santoso, wartawan senior ini telah membuktikannya dan berhasil.
Saat ini berusia 65 tahun dan sedang proses penyembuhan dari stroke, Santoso aktif menulis buku. Juga terus membagikan pengalaman jurnalistik kepada para generasi muda.
Semua pengalamannya itu diceritakan kepada pakar komunikasi dan motivator nasional Dr Aqua Dwipayana saat silaturahim ke rumahnya, minggu lalu.
Begitu jari dan tangannya terasa pulih dan bisa mengetik pasca kena serangan stroke, Santoso menulis buku berjudul “MELAWAN STROKE”. Buku itu dicetak mandiri pada Agustus 2020.
“Alhamdulillah bukunya terjual lumayan, hingga saya bisa menambah kontrak setahun rumah yang habis kontrak pada bulan September 2020,” tutur Santoso dengan wajah gembira.
Kebiasaannya beberapa tahun terakhir ini adalah rutin setiap tahun menulis buku. Tujuannya selain menyalurkan kemahirannya menulis, juga untuk mendapatkan uang buat bayar kontrak rumahnya selama setahun.
“Saat ini saya sedang menyiapkan buku berjudul “MY WIFE MY TREASURE”. Itu untuk mengapresiasi kesetiaan dan kegigihan istri saya selama mendampingi saya terutama saat stroke. Tentu juga untuk bayar kontrakan lagi,” paparnya terus terang.
Santoso mentargetkan buku itu terbit sebelum September 2021. Agar uang hasil penjualannya bisa dipakai untuk bayar kontrakan rumahnya selama setahun.
Belakangan dia jadi tenang karena ada seseorang yang minta identitasnya dirahasiakan berkenan membayarkan kontrak rumahnya. Santoso sama sekali tidak menyangka hal tersebut. Dia bersama istrinya bersyukur campur haru.
“Jadi saya tidak perlu “ngoyo” menyelesaikan bukunya, karena sudah ada orang yang mau membayarkan kontrakan rumah saya,” jelasnya tertawa.

Sebelumnya Santoso sudah menulis banyak buku. Diantaranya berjudul “Bondet (Sisi Hitam Seorang Wartawan)”, “Love in Formosa” (novel), “Mengejar Bintang” (Otobiografi pengusaha Migas Tarmadji boedi Harsoyo), “Sang Penerus: (True Story Ketua Umum SH Terate Tarmadji Boedi Harsoyo).
Juga “Sang Penari” (Antologi cerpen), “Sandal Kumal” (antologi puisi), “Desah Napas Pahlawan Devisa”, dan “Cinta Pudar di Kaohsiung” (novel).
“Selagi masih sehat dan kuat saya insya Allah terus menulis buku. Targetnya setiap tahun minimal satu buku,” ungkap Santoso. (abd)
