Home Opini Tukang Kayu…

Tukang Kayu…

by Slyika

TERSEBUTLAH seorang tukang kayu yang berada di dusun terpencil. Meskipun sudah puluhan tahun, hidupnya tak kunjung kaya. Apalagi rumah layak, sekadar untuk makan sehari-hari, terkadang harus meminta-minta. Begitu kurang lebih cerita faktanya.

DATANGLAH tukang kayu ini kepada seorang ulama untuk meminta amalan agar cepat menjadi orang kaya. “Wahai Kyai, berikan amalan dzikiran yang bisa membuat kami kaya,” ucap tukang kayu ini blak-blakan.

SANG Kyai pun langsung meresponnya. “Baik, baca ya… Ya Hayyu, Ya Qoyyum,” ujar Kyai polos.
“Baca apa Kyai?” sahut Tukang Kyai kembali bertanya. “Ya Hayyu, Ya Qoyyum,” jawab Kyai dengan meninggikan suaranya agar bisa didengar tukang kayu ini. “Ooooh…Ya Kayyuku, Ya Kayyumu,” ujarnya.

MENDENGAR ucapannya yang salah, Sang Kyai menegur,” Bukan Ya Kayyuku, Ya Kayyumu, tetapi Ya Hayyu, Ya Qoyyum,” tandas Kyai. “Iya saya tahu, Ya Kayyuku, Ya Kayyumu,” sambut tukang kayu ngeyel.

MESKIPUN sudah berulang kali dibenarkan lafal pengucapannya, tetapi tetap tak bisa mengucapkan kalimat, Ya Hayyu, Ya Qoyyum. Sang Kyai pun hanya bisa pasrah. Dia memaklumi karena orang yang berada di hadapannya memang setiap hari bekerja sebagai tukang kayu.

“Ya sudah terserah kamu. Mau Ya Hayyu, Ya Qoyyum, atau Ya Kayyuku Ya Kayyumu, terserah. Asalkan kamu yakin dalam membacanya,” timpal Kyai dengan nada senyum. Ia pun menyuruh tukang kayu ini pulang agar segera mengamalkannya.

BEBERAPA tahun kemudian, tanpa disangka, tukang kayu ini kembali datang ke rumah Sang Kyai. Kali ini, tidak datang dalam keadaan mengeluh, tetapi dengan membawa kendaraan mewah dan sedikit harta di dalam mobilnya.

TUKANG kayu ini pun langsung bersemangat menemui Sang Kyai sambil berujar dengan nada tinggi, disertai wajah sumringah, “Terimakasih Kyai, amalan dzikiran Ya Kayyuku, Ya Kayyumu yang engkau ajarkan, membuat saya kaya raya!” katanya bangga.

SANG Kyai pun menjawab, “Alhamdulillah. Itu rezeki dari Allah SWT yang harus disyukuri dan digunakan untuk kebaikan umat,” sahut Sang Kyai dengan wajah mesem-mesem, sambil pikirannya menerawang masa lalu saat membenarkan lafal dzikiran yang salah.

TERNYATA, keyakinan yang kuat tak mengurangi bobot kualitas nilai dzikiran, karena keterbatasan. Sehingga amalan seorang tukang kayu pun diterima dan dikabulkan oleh Allah SWT, sekali lagi, karena keyakinannya yang luar biasa. Semoga Allah SWT menambahkan keyakinan kepada kita disertai pemahaman yang kuat. Aaamiiin YRA. Mohon maaf lahir bathin.
Wallahu’alam.

Nucrholis Qadafi
Wartawan Senior, Penceramah dan Usahawan

You may also like

Leave a Comment