Manusia sebagai insan lahir-batin yang berakal-budi dan nurani, sejatinya harus selalu berusaha untuk mengoptimalkan segenap potensi akal, ruh serta fisik, ragawinya untuk terus membaca setiap pesan Tuhan Yang Maha Agung melalui pesan-pesan alam sebagai cara bahasa komunikasi Tuhan untuk setiap saat menghampiri dan menyapa setiap kita.
Upaya manusia untuk mencapai kesana dengan menterjemahkan setiap pesan-pesan Sang Maha Kuasa itu laksana sebuah rangkaian makna hakiki yang utuh dari sebuah perjalanan spiritual nan panjang dalam makin mematangkan jiwa, nurani, kalbu, sanubari ini.
Hingga tiba pada suatu waktu, tersuguhkan dihadapan mata batin kita atas seluruh peran yang telah kita jalani dalam sebuah drama kosmik anugerah kehidupan ini kepada Sang Maha Kasih-Sayang, Sang Maha Pencipta, Sang Maha Sutradara yang tunggal itu.
Fenomena kegelisahan spiritual ditengah-tengah masyarakat akhir-akhir ini sangatlah mengusik nurani setiap kita, manusia.
Kuatnya radikalisme dan formalisme yang nyaris terjadi di setiap agama di dunia yang membuat makin teralienasinya manusia dari semesta, disamping pengaruh dari perkembangan ilmu pengetahuan dan modernitas teknologi yang cenderung menempatkan semesta secara mekanis dan parsial.
Sebuah pemahaman utuh akan dua sisi dari sebuah agama, yakni sisi esoterik (esensi) dan sisi eksoterik (formal) sangatlah diperlukan bagi setiap insan manusia agar mereka tidak melihat dua unsur agama itu secara terpisah yang menghindari penempatan satu sisi di atas sisi yang lain atau mengabaikan yang lain dengan memilih salah satunya.
Passing over sebagai sebuah perjalanan spiritual merupakan semangat untuk melintasi, menyelami perspektif tradisi berbagai agama yang bisa dijadikan sebuah cara yang esensial (esoteris) tanpa meninggalkan sisi formal agama yang dianutnya untuk makin mematangkan jiwa, nurani, sanubari, suara Tuhan dalam kalbu ini dalam menyelami,menterjemahkan setiap pesan-pesan Ilahiah dalam setiap irama kehidupan ini.
Passing over sebagai suatu pemaknaan pesan-pesan KeTuhanan, ke-Ilahian atas berbagai jalan keselamatan Tuhan dalam hidup ini melalui perspektif berbagai agama dengan nilai-nilai spesifik tradisi-tradisi keagamaannya itu.
Semangat passing over adalah semangat untuk memperkaya pengalaman batiniah akan berbagai khazanah tradisi-tradisi keagamaan lain sebagai suatu pengembaraan spiritual yang bukanlah untuk menetap pada suatu titik huni tertentu tetapi melintas sementara untuk sebuah studi spiritual atas ketulus-sejatian sebuah jalinan silaturahim pada sesamanya yang berbeda.
Pengembaraan khazanah spiritual ini merupakan sebuah pengalaman batiniah yang sangat-sangat indah dan tidak akan pernah terlupakan bagi kita yang selalu dahaga akan sebuah perjumpaan dengan Tuhan, Sang Maha Cinta-Kasih itu.
Perbedaan, keanekaragaman, kemajemukan, pluralisme, kebhinekaan yang merupakan fitrah anugerahNya yang sangat-sangat indah ini haruslah seyogyanya kita rayakan senantiasa dengan semangat rasa syukur dan kebahagiaan bagi semua makhluk, terlebih bagi kita manusia, makhluk mulia hambaNya itu.
Sehingga kebhinekaan yang Tuhan sudah anugerahkan pada kita manusia ini haruslah menjadi sumber kekuatan, sumber inspirasi, sumber cahaya kehidupan untuk sebuah kebaikan umum, kemaslahatan khalayak, kebajikan publik, bonnum publicum, public goodness bagi kita semua.
Perbedaan yang merupakan anugerah-Nya ini sejatinya bukanlah sarana untuk sebuah konflik perpecahan, keterbelahan atas nama apapun.
Keanekaragaman adalah kekuatan pemersatu untuk kita bersama-sama berkomitmen teguh makin membangun dan memajukan harmoni peradaban kemanusiaan. Sebuah semangat peradaban untuk tulus-sejati memanusiakan sesama manusia pun atas sesamanya yang berbeda seraya tulus-sejati meng-Agungkan, memuliakan, mengkuduskan dan meninggikan kesakralan nilai KeTuhanan yang sejati.
Semangat passing over adalah sebuah semangat spiritualitas atas sebuah jalinan silaturahim sejati yang berangkat dari sebuah ketulusan hati untuk melakukan pengembaraan perjalanan spiritual ke dalam jantung agama lain.
Passing over atas sebuah perjalanan keanjangsanaan yang merupakan lawatan batiniah yang melintasi batas-batas formal agama lain tanpa mengurangi sisi formal (eksoteris) agamanya.
Suatu lawatan ke-kalbuan yg bening, suci, sakral dan kudus sebagai refleksi dari sebuah cicipan teologis dari keheningan hati, kepekaan rasa, kedalaman makna yang melampaui kadar rasio umum atau supra-rasional.
Passing over adalah semangat ke-sanubarian yang menekankan esensi, substansi, realitas, kualitas, nilai, isi dari sisi terdalam agama daripada manifestasi bentuk, simbol, identitas, label dan kulit luar atau kulit lahiriah belaka.
Semangat passing over memberikan oase air spiritual penyejuk batiniah dari sebuah formalisme kaku yang kering dalam berkeagamaan.
Passing over sebagai suatu kesadaran yang mengagumkan dan mempesona atas sebuah kerinduan untuk menyapa sesama saudara dalam kemanusiaan yang kebetulan berbeda dalam keyakinan dan agama.
Tuhan Sang Maha Pengasih dan Maha Penyayang itu sejatinya sangat dekat dan ada dimana-mana, ada dalam segala sesuatu.
Termasuk Tuhan ada dalam setiap keyakinan dan agama-agama yang berbeda.
Perlintasan tradisi budaya dalam agama-agama melalui passing over, menjadikan kita memiliki lentera dan lensa cinta untuk menajamkan mata batin untuk merasa dan melihat lebih dalam.
Pengembaraan spiritual ini adalah perjalanan nuraniah yang simpatik dari agamanya sendiri kepada agama-agama lain yang memperkaya pemahaman dan penelaahan atas tokoh-tokoh sentral keagamaan yang menjadi suri tauladan ke-Nabian yang teramat mulia dari agama-agama lain.
Rasa takut akan pengembaraan spiritual ini ke dalam jantung agama lain harus dihilangkan. Bekal pengetahuan keagamaannya sendiri dan agama-agama lain harus benar-benar memadai dan mumpuni untuk siap melintas dan kembali dari perjalanan atau pengembaraan spiritual untuk memberikan pencerahan wawasan, cakrawala, horison baru dalam sakralnya hidup berkeagamaan di tengah indahnya keberagaman.
Passing over adalah kedalaman suatu perjalanan spiritual yang bukan hanya sekedar bertoleransi semata atau saling menghargai, menghormati dalam perbedaan atau kemajemukan, melainkan terlebih suatu perjalanan spiritual untuk mengenal lebih dalam sesamanya yang berbeda plus keyakinan dan agama dari sesamanya yang berbeda itu.
“Cintai dan sayangilah secara tulus-sejati sesama kita yang berbeda sebagai saudara kita dalam kemanusiaan di hadapan Sang Pencipta yang sama”. Salam Kebajikan
HD. Febiyanto
Motivator Strategi Komunikasi-Pemerhati Pengembangan Karakter Kebangsaan & Kenegarawanan
