RIANG

by Slyika

RIANG dikala senang itu biasa, menjaga bahagia dikala persoalan menimpa, itu yang luar biasa.

Tertawa disaat rupiah melimpah itu biasa, tetap tersenyum menjaga rasa dikala sejuta prahara, itu yang luar biasa.

BERJALAN ibadah ketika kaki sehat itu biasa, tetap melangkah saat asam urat dirasa, itu yang luar biasa.

Damai ketika tak ada sengketa itu biasa, tetap berpelukan saat panas hati membara itu yang luar biasa. Mendoakan karena hubungan baik itu biasa, tetap kirim doa di tengah api menyala itu yang luar biasa.

MENJADI “alas kaki” itu lumrah, menjadi “kanebo” juga pasrah. Di belakang lemari juga santai aja, hilang dari sebutan pahlawan juga tak masalah. Terhempas dari ukiran sejarah tetap tertawa, apalagi hanya sekadar disebut manusia tak berguna.

MAKAN gak pakai lauk juga nikmat, duduk lesehan di depan ruko juga gak ngurangin rasa hormat. Naik mobil biasa aja, jalan kaki pun tiada mengapa. Ditemenin alhamdulillah, teman jauh emang lagi salahnya. Ada yang marah juga namanya manusia, ada yang senang mungkin sudah dapat hidayah.

PUNYA uang banyak emang lagi takdirnya, gak ada uang juga emang ada batasnya. Akrab sama orang juga anjuran agama, kalau lagi “diem-dieman”, ambil hikmahnya aja.

DIBERI anak banyak itu anugerah, berdua doang juga tetap endah. Dibilang bodoh emang dasarnya, kalau pinter juga karena bantuan-Nya. Lagi disanjung, cuekin aja, lagi dihina emang pas diuji kesabarannya.

ORANGTUA galak emang takdirnya, mertua lembut kan udah ngaji sama abuya. Bini cerewet emang umumnya, kalau pendiam takut sakit kepala. Lelaki emosi mungkin bawaan kerja, kalau lagi lembut memang sudah seharusnya.

ANAK ngeselin itu mah lumrah, kalau sudah waktunya entar juga pulang ke rumah. Tetangga kepo, ah gak seberapa, dibanding yang lain, ada yang lebih parah. Saudara bikin emosi, itu mah lagi bercanda, lebaran juga datang ke rumah.

HIDUP itu nikmat tiada tara, yang lain pada mati sebelum brojol di atas meja. Masalah mah disenengin aja, entar juga hilang kalau udah wayahnya. Kalau bisa sih banyakin “nerima”, biar pemilik Alam gak jadi murka. Hehe. MOHON maaf lahir dan bathin, Semoga bermanfaat, Wallahu’alam.

Nurcholis Qadafi
Wartawan Senior, Penceramah dan Usahawan

0 comment
1

Related Post

Leave a Comment