Home Opini Merdeka, Terjajah, atau Kemerdekaan yang Terjajah

Merdeka, Terjajah, atau Kemerdekaan yang Terjajah

by Slyika

Sudah dua tahun ini, saya tidak melihat euphoria perayaan Kemerdekaan Indonesia, pandemi masih betah rupanya menggelayut pada ibu pertiwiku yang cantik namun lelah.

Saya pikir tak mengapa juga dengan euphoria yang hilang, selama semangat kemerdekaan itu masih menggeliat dalam diri kita masing-masing. Tapi, apa iya masih ada??

Banyak yang berfikir bahwa lepas dari penjajahan ya sudah itulah merdeka. Merujuk kepada saya yang seorang guru SD menggaungkan nilai-nilai dan makna dari kemerdekaan yang hakiki bukan perkerjaan yang mudah.

Apa benar sebagai manusia, mahluk Tuhan paling sempurna, kita sudah merdeka? Hak kemerdekaan yang hakikinya dibawa dari lahir.

Saya merasakan merdeka tapi saya masih terjajah.
Saya terbelenggu oleh bentuk lain dari penjajahan. Pelan tapi pasti mereka mengkonsumsi kualitas baik dalam diri saya. Dan saya harus menghentikan ini.

Saya terbelenggu oleh kemalasan saya melihat lebih detil, seeing the bigger picture of everything. Bahwa semua elemen dalam dunia ini saling berkaitan erat, tak ada yang berdiri sendiri.

Maka saya harus melihat lebih luas, dengan begitu tak akan ada lagi rasa menghakimi ketika saya dihadapkan pada satu masalah. Memandang semua dengan kejernihan fikiran dan perasaan, berusaha melihat dari berbagai sudut pandang, menemutujukan, menyelaraskan.

Saya terbelenggu oleh ketidakpedulian saya akan kerjasama yang baik, kecenderungan untuk menampilkan kesempurnaan melalui versi saya.

Keegoisan yang enggan melihat tehnik atau cara lain dalam berhadapan dan melakukan sesuatu, maka saya akan biarkan saya terbuka untuk berbagai hal baru yang baik dan membawa kebaikan.

Berusaha memahami jalan yang oranglain pilih, atau cara meraih dan menuju hal-hal yang ingin dicapai, lembut hati, lembul akal, tidak cepat marah jika tidak sesuai.

Sejatinya didalam kelas saat belajar semua harus bekerja sama, menciptakan kenyamanan bagi penghuninya, layaknya penduduk dalam suatu bangsa yang tentram damai hidup didalamnya.

Jikalah kemerdekaan artinya lepas dari segala sesuatu yang membelenggu, hari ini saya merdeka. Merdeka dalam mengajar dan belajar.

Merefleksi, berkolaborasi dan mengejar mimpi yang tidak perlu sama, tapi yang jelas mimpi itu harus indah. Dalam situasi dan kondisi apapun, kemerdekaan itu harus tetap ada, semangatnya harus tetap bergeliat dan sesekali menyetrum aliran darah agar hidup lebih terasa.

Bukankah sudah dijanjikan tak akan perubahan datang tanpa kita mengubahnya sendiri. Dan bukankah hanya si pemberani yang mampu belajar pada semua situasi, pada siapapun yang ditemui. Afterall..life is never flat.

Dirgahayu ke 76 Negeriku Indonesia
44 tahun jadi WN

Flamingga

You may also like

1 comment

Gabriel Dewa Batistuta 16 Agustus, 2021, 08:01 - 08:01

Semoga Indonesia bangkit dari virus ini sehingga kita bisa merayakan dan mengahyati arti kemerdekaan, Bangkitlah Indonesiaku.💪💪💪💪

Reply

Leave a Comment