SADARKAH kamu, bahwa tokoh antagonis dalam kisah hidup kita bukanlah ayah kandung rasa ayah tiri
Daddy Doddy, supir Joddy atau om Teddy
Teman-teman julid bin khianat
Atau pun kesopanan seseorang hingga bisa menyelamatkan diri dari bui
Namun sungguh, sering kali adalah diri yang tidak peduli ataupun insecurity
Iyez yakin deh, bagi kamu yang merasa diri terlihat good morning sedang yang lain tampak good looking.
Percayalah, untuk kamu yang ngerasa orang lain pada cantique sedang diri malah terlihat full problematique.
Sulit percaya diri, mudah insecurity. Maka sudah saatnya untuk mau belajar terampil memiliki konsep diri positif.
Apa itu konsep diri? Konsep diri merupakan tema utama psikologi humanistik. Pendapat Wiliam James, bapak psikolog Amerika menjabarkan konsep diri secara filosofis. James membedakan antara “the I” diri kita yang sadar dan aktif, dan “the me”, diri yang menjadi objek renungan kita.
Nah kegiatan merenung aktif ini biasa disebut sebagai refleksi. Sebagaimana menurut Cooley (dalam Rakhmat, 1994:112) disebut dengan istilah “looking glass self” yaitu bagaimana orang lain menilai penampilan kita dalam diri cermin.
Pertanyaan selanjutnya, dekatkah kamu pada sosok di depan cermin itu? Sudahkah bucin atau malah jangan–jangan merasa asing. Alih-alih mengenali sosok yang sejak lahir 24 jam bersama, malah acuh. Pantaslah apabila merasa jauh antara jasmani, rohani dan energi. Boro-boro merasa utuh sebagai satu kesatuan makhluk ciptaan tuhan yang paling unik dan pasti menarik. Sehingga wajarlah apabila diri rentan dengan penderitaan mental, terjebak dalam labirin kekusutan pikiran berlebih semacam, pusing membandingkan ketimbang menerima untuk menyandingkan, emosian, gampang menghakimi daripada mau untuk memahami, kesepian, tidak aman dan lain sebagainya.
Berita baiknya adalah kita tidak sendiri. Kita? Iya, kita itu “Kamu dan aku”. Bu Anita Taylor (dalam Jalaluddin Rakhmat, 2007: 100) memberi petuah “All you think and feel about you, the entire complex of beliefs and attitudes you hold about yourself”. Fix, berarti konsep diri meliputi apa yang kita pikirkan tentang diri kita sendiri dan yang kita rasakan tentang diri kita sendiri.
Dengan demikian ada dua komponen konsep diri, yakni komponen kognitif dan komponen afektif. Dalam psikologi sosial, komponen kognitif disebut dengan citra diri (self image), sedangkan komponen afektif disebut dengan harga diri (self esteem).
Sederhanya, citra diri (self image) merupakan deskripsi yang sangat sederhana, misalnya aku seorang mahasiswa, aku seorang kakak, aku berambut pendek, aku bertubuh gendut dan lain sebagainya. Sedangkan harga diri (self esteem) meliputi suatu penilaian terhadap perkiraan mengenai pantas diri (self woth).
Dari dua pembagian di atas, maka konsep diri mencakup pandangan individu akan dimensi fisiknya, karakteristik pribadinya, motivasinya, kelemahannya, kegagalannya dan sebagainya. Lengkapnya, pandangan ini bisa bersifat psikologis, sosial, dan fisik, yaitu gambaran yang dimiliki seseorang tentang dirinya.
Konsep ini merupakan gabungan dari keyakinan yang dimiliki seseorang tentang dirinya sendiri, menyangkut berbagai macam hal diantaranya, karakteristik fisik, psikologis, sosial, dan emosional, aspirasi dan prestasi.
Jadi guys, mulailah dengan hal yang sederhana, sesimple saat kalian bercermin. Maulah untuk mencoba tersenyum dan sampaikan rasa cinta serta terima kasih dengan tulus, sepenuh hati kepada sosok di depan cermin. Seperti halnya rambut yang berantakan atau alis yang tebal sebelah, tentu bukan cerminnya yang diperbaiki namun rambut yang di sisir dan alis yang dikoreksi. Meriset pola pikir untuk mau peduli pada diri akan membuahkan rasa syukur dan cinta yang akan berpeluang memenangkan semesta besar dan akan menenangkan semesta kecil juga meraih kejutan combo, menjadi pribadi yang menyenangkan. Selamat berproses dan bertumbuh. (sinse_novi)
