Home Opini Paling Esensi Perbedaan Sikap dan Menghormati Orang Tua, Bukan Nama Jenderalnya

Paling Esensi Perbedaan Sikap dan Menghormati Orang Tua, Bukan Nama Jenderalnya

by Slyika

“Pak Aqua mohon info nama kedua jenderal yang menghindari komunikasi sama Buya Syafii Maarif karena kasus Ahok.”

Pesan senada di atas saya terima dari banyak anggota Komunitas Komunikasi Jari Tangan. Mereka sangat penasaran dan ingin sekali mengetahui nama kedua jenderal yang saya tulis.

Perasaan itu muncul pada mereka setelah membaca tulisan berjudul Ketika Dua Jenderal Menghindari Komunikasi sama Buya Syafii Maarif karena Kasus Ahok yang saya bagikan kepada ribuan anggota Komunitas Komunikasi Jari Tangan, pada Sabtu malam (29/5/22).

Di bawah ini kutipan sebagian tulisan saya.

Prof. Dr. K. H. Ahmad Syafii Maarif yang selama ini akrab disapa Buya Syafii meninggal dunia pada usia 87 tahun di Rumah Sakit PKU Muhammadiyah Gamping Sleman, Yogyakarta, pada pukul 10.15 WIB. Saya langsung mendoakan almarhum.

Saat itu juga saya teringat kejadian sekitar enam tahun lalu atau 2016. Ketika itu, dua jenderal teman akrab saya, dalam kesempatan berbeda sama-sama menyampaikan curahan hati (curhat)nya kepada saya yang terkait Buya Syafii.

Mereka duduknya persis di kursi yang sama di rumah Yogyakarta. Hanya waktunya saja yang berbeda. Jarak pertemuannya sekitar sebulan antara jenderal yang satu dengan yang lain.

Waktu itu lewat ajudannya, Buya Syafii mengontak kedua jenderal itu. Pesannya sama agar mereka telefon langsung Buya Syafii.

Topik yang mau dibicarakan tentang pembelaan yang disampaikan anak bungsu dari empat bersaudara pasangan Ma’rifah Rauf Datuk Rajo Malayu dan Fatimah kepada terdakwa Basuki Tjahaja Purnama atau Ahok atas kasus penodaan agama.

Buya Syafii di pengadilan dengan tegas  membela Ahok. Dia mengatakan Ahok tidak bersalah, di tengah gelombang pasang umat Islam yang sedang marah kepadanya. Buya Syafii tidak gentar terhadap hal itu.

Belakangan dalam fakta hukum di persidangan, Ahok terungkap melakukan penodaan agama gara-gara menyinggung Surah Al Maidah Ayat 51 saat berpidato di depan warga di Pulau Pramuka, Kepulauan Seribu, DKI Jakarta pada 27 September 2016.

“Jadi jangan percaya sama orang, kan bisa saja dalam hati kecil bapak ibu enggak bisa pilih saya ya kan? dibohongi pakai Surah Al-Maidah 51, macam-macam itu. Itu hak bapak-ibu ya. Jadi kalau bapak-ibu perasaan enggak bisa kepilih nih, karena saya takut masuk neraka karena dibodohin gitu ya, enggak apa-apa,” kata majelis mengutip ucapan Ahok.

Kedua jenderal itu yang selama ini sangat hormat pada Buya Syafii, salah satu wujudnya setiap ketemu mencium tangan mantan Ketua Umum Pengurus Pusat Muhammadiyah tersebut, tidak ingin menyakiti hati Buya Syafii karena berbeda pendapat dengan beliau terhadap kasus Ahok.

Meski tanpa ada pembicaraan dan janjian, sikap kedua jenderal itu sama. Untuk sementara menghindari komunikasi langsung sama Buya Syafii. Mereka “cari aman” untuk menjaga perasaan orang tua yang sangat mereka hormati tersebut.

Kemudian kedua jenderal itu menceritakan pandangan mereka secara pribadi tentang kasus Ahok yang waktu itu sedang marak-maraknya. Saya lebih banyak menyimak. Sekali-kali menimpali sambil menyampaikan pendapat saya.

Biasakan Melihat Isi Bukan Kulit
Dengan rendah hati saya menyampaikan permohonan maaf kepada mereka yang minta informasi nama kedua jenderal itu. Saya tidak memberitahukannya. Cukuplah saya saja yang tahu.

Paling esensi dari tulisan tersebut bukanlah nama kedua jenderal itu. Namun perbedaan sikap mereka dengan Buya Syafii terhadap kasus Ahok dan cara menghormatinya yang telah dianggap sebagai orang tua mereka sendiri.

Mereka dengan tegas menunjukkan perbedaan pendapatnya dengan Buya Syafii. Namun tidak ingin menyampaikannya secara langsung karena khawatir beliau tersinggung dan perasaannya tidak enak.

Untuk itu sementara waktu mereka sengaja menghindari berkomunikasi langsung dengan Buya Syafii. Mereka menunggu waktu yang pas dan momen yang tepat.

Terkait itu, biasakanlah saat melihat dan menilai sesuatu dari isinya bukan kulitnya. Pasti banyak pelajaran dan pengalaman berharga yang bisa diperoleh.

Jika melihat dari kulitnya, hanya tahu di permukaan saja dan sedikit sekali. Padahal bagian dalamnya jauh lebih menarik. Di samping itu banyak hikmah yang bakal diperoleh.

Semoga banyak orang mencontoh keteladanan dari dua jenderal yang sangat rendah hati dan karirnya cemerlang tersebut. Aamiin ya robbal aalamiin…

Dari kawasan Nusa Dua Badung, Bali, saat menikmati liburan bersama keluarga, saya ucapkan selamat belajar dari pengalaman orang lain. Salam hormat buat keluarga.

Dr Aqua Dwipayana

Pakar Komunikasi dan Motivator Nasional

You may also like

Leave a Comment