MENGAPA Sunan Gunung Jati (Syekh Syarif Hidayatullah) membangun Masjid Cipta Rasa di sebelah baratnya dan mendirikan pasar (kawasan bisnis) di sebelah timurnya, di area Komplek Pendopo Kasepuhan Cirebon, Jawa Barat?
AGAR ada keseimbangan antara perkara dunia dan akhirat. “Kalau waktunya sholat, pedagang segera datang masjid yang berada di seberangnya,” kata Satu, pemandu wisata sejarah Keraton Kasepuhan Cirebon.
DI antara keduanya terdapat alun-alun yang diberi nama Sangkala Buana. Tempat berkumpulnya prajurit keraton dan kini menjadi tempat olahraga dan permainan anak-anak di hari libur.
Memasuki mulut pintu masuk keraton, persis di tengah, terdapat jagongan (pendopo), tempat dimana Sunan Gunung Jati “berkomunikasi” dengan prajuritnya dari jarak jauh (Mande Malang Semirang).
DI belakangnya, tempat pengiring sultan (Mande Pengiring). Sebelah kanan, tempat “silahnya” Sang Penasehat/Penghulu Mbah/Ki Kuwuh Sangkan duduk (Mande Semar Tinandu).
Sebelah kirinya, pengawal/staf sultan (Mande Pendawa Lima). Satu lagi, tempat untuk pemain pengiring musik/gamelan (Mande Karasemen) .
SEMUA tempat ada sejarah dan filosofisnya sebagai pusat Kerajaan Islam di Cirebon. Detil, termasuk kandungan syiar setiap ornamen bangunan, misalnya jumlah tiang lima yang berarti rukun Islam, tiang enam (rukun iman), tiang 20 (sifat wajib Allah SWT). Tertata dan beretika setiap sudutnya.
BANGUNAN cagar budaya yang mencapai 25 hektare itu dirintis oleh uwaknya Sunan Gunung Jati yang bernama Mbah/Ki Kuwuh Sangkan (Pangeran Cakra Buana/Walang Sungsang/Ki Somadillah/Haji Abdulloh Iman).
MBAH Kuwuh Sangkan anak pertama dari Raja Padjajaran Prabu Siliwangi, disusul Prabu Kian Santang (Sunan Rahmat Suci) dan Nyi Rara Santang (Ibunda Sunan Gunung Jati).
Sepulangnya menuntut ilmu di Jazirah Arab, Sunan Gunung Jati ditunjuk oleh Mbah/Ki Kuwu Sangkan untuk menahkodai Kesultanan Cirebon yang di hari kemudian berubah menjadi Kasepuhan Cirebon.
SEMAKIN masuk ke dalam area tersebut seakan dibawa ke era 600 tahun yang lalu sekitar 1400 Masehi.
Ketika hendak memasuki ruang utama, Satu melarangnya. “Sengaja pintui dikunci, semua demi keamanan bersama,” katanya.
Aneka barang peninggalan raja keraton hanya terlihat dari jarak jauh, mulai kursi, meja, dan pernak-pernik kerajaan.
SUASANA kramat mulai terasa ketika, Setu mengajak ke area kiri keraton, di mana tempat “spiritualitas” Sunan Gunung Jati dan Mbah Kuwu Sangkan berada. Sumur Keagungan,
Kejayaan, tempat yang pernah digunakan keduanya untuk bersih-bersih dan berwudhu. Di dekat area tersebut juga ada Paseban, tempat para Walisongo Bermusyawarah. Kini, dikunci demi keamanan dan keaslian bangunan.
MASIH di area itu, juga ada tempat I’tikaf Sunan Gunung Jati dan Mbah/Ki Kuwu Sangkan. Sebelahnya ada bangunan yang rusak, hanya sisa batu bata yang tak tepakai.
“Ini adalah tempat keraton pertama yang dibangun Ki Kuwu Sangkan,” kata Satu sambil menunjuk bangunan lawas.
Sengaja batu bata tidak dibuang, karena dikhawatirkan ada kandungan mahluk lainnya. “Di sini, semuanya kramat. Makanya tidak sembarangan.”
BAGI yang ingin mandi di Sumur Keagungan dan Kejayaan juga tak boleh sembarangan. Boleh mandi, tetapi, maaf, tak boleh pipis, termasuk buang kotoran lainnya.
Ketika akan melakukan pergerakan fisik atau buang apapun, dianjurkan selalu membaca Bismillahirrahmanirrahim, karena alasan ke-kramatan di area tersebut.
BERSYUKUR atas karunia Allah SWT yang luar biasa, diizinkan berziarah persis di depan makam Sunan Gunung Jati (Gunung Sembung) dan esok harinya diperkenankan melihat dari dekat “rumah” beliau di Keraton Kasepuhan Cirebon di Jalan Kasepuhan Nomor : 43, Kelurahan Kasepuhan, Kecamatan Lemahwungkuk, Kota Cirebon, Jawa Barat.
SEMOGA dapat mengadopsi cara pikir dan cara gerak Sunan Gunung Jati yang luar biasa, tanpa meninggalkan kepatuhan dan ketaatan kepada Allah SWT.
Bersamaan dengan 12 Dzulhijjah (12 Juli) lalu adalah haul Sunan Gunung Jati. Untuk beliau, bisirril fatikha.
TERIMAKASIH tak terhingga kepada Mubaligh dan Mubalighoh Kamtibmas Polres Jakarta Barat dan Polda Metro Jaya. MOHON maaf lahir dan bathin. Semoga bermanfaat, Wallahu’alam.
Nurcholis Qadafi
Penceramah, Usawahan dan Jurnalis
