Rencana akan berkeliling mempromosikan partai anaknya Kaesang PSI untuk kepetingan Jokowi sendiri, Kaesang sang ketum, atau Gibran wapres jadi-jadian adalah haknya sebagai warga negara.
Akan tetapi mengingat posisinya sebagai mantan Presiden yang bertumpuk dosa, maka rencana itu adalah gambaran dari manusia ndableg yang tidak tahu diri.
Bukannya bertobat dan minta maaf pada rakyat malah bertambah kumat.
Sudah turun dari panggung bahkan panggungnya sudah ambruk Jokowi masih juga cari panggung.
Turun gunung ceritanya. Mungkin gunung telah meletus sehingga ia harus berlari-lari cari tempat berlindung.
Mau berlindung di Megawati PDIP tidak mungkin, pasti ditendang karena terkhianati.
Di Prabowo Gerindra paling sebentar lagi.
Prabowo tidak akan kuat menahan panas dan kuatnya perlawanan.
Akhirnya tempat berlindung itu hanya di payung kecil dan bocor PSI.
Dosa politik Jokowi sangat dahsyat.
Menginjak-injak demokrasi dengan kecurangan Pemilu untuk memenangkan diri dan anaknya, memperkosa hak-hak asasi melalui pembunuhan ratusan petugas Pemilu, penyiksaan sadis peserta aksi Bawaslu, serta pembantaian KM 50.
Menjual negara ke Cina, menyerahkan kedaulatan kepada oligarki, dan memeras menteri untuk memenuhi pundi-pundi korupsi.
Terkorup kelas dunia. Menjadi raja zalim yang penuh dengan kepalsuan dan kezaliman.
Jokowi adalah wajah bopeng negeri yang menjadi monumen hitam sejarah.
Manusia mistik paling materialistik. Penguasa munafik perusak moral dan ideologi bangsa.
Makhluk yang nampak tidak percaya pada kekuasaan Tuhan.
Cocok jika mati nanti dipajang sebagai mummy Fir’aun Jawa atau Indonesia.
Disembah dan jadi berhala bagi para pengikutnya. Baik kalangan jelata, pengusaha, pejabat, maupun kepala negara.
Atas kejahatannya, Jokowi layak dihukum mati. Ditembak mungkin terlalu bermurah hati.
Mengingat kejahatan terjadi sejak berlaku KUHP lama, maka opsi hukuman mati gantung patut untuk didalami.
Pasal 11 KUHP tentang algojo pengeksekusi cukup menarik hati. Jika dibuat referendum mungkin hukuman mati model begini yang akan direkomendasi.
Produk dari reformasi atau revolusi.
PSI sang partai gajah ditunggangi Abrahah yang ingin menghancurkan ka’bah.
Gajah-gajah kecil itu cukup dilawan oleh burung-burung kecil bersenjata kerikil.
Fondasi ideologi bersendi moral dan agama akan tetap kokoh.
Tidak akan goyah oleh perilaku manusia durjana perusak bangsa, negara, dan agama. Indonesia akan tetap berjaya.
Moga Jokowi sadar akan masa depan dirinya.
Bukan saatnya cari panggung, tuntutan rakyat atasĀ perilakunya adalah tangkap dan adili, lalu hukum gantung.
M Rizal Fadillah
Pemerhati Politik dan Kebangsaan
Redaktur: Abdul Halim
