TAK terkecuali burung, pesawat terbang pun jika melintas di atas area makam kramat Jalan Nipah, Kramat Petogogan, Blok P, belakang Kantor Wali Kota Jakarta Selatan, berhenti mendadak dan terjatuh.
Begitu pun, ketika para pejuang melawan dan mencegat konvoi pasukan penjajah, kawasan makam kramat tersebut menjadi benteng pertahanan.
MENGAPA? Dikisahkan, bom atau tembakan yang dilemparkan dan diarahkan ke area tersebut tak jadi meledak.
Begitu pun alat perang lainnya, tak bisa menembus daerah tersebut. Pendek cerita, wilayah itu menjadi tempat paling aman untuk pos perlawanan sekaligus berlindung dari serangan penjajah.
PERISTIWA ini membuat heran pasukan Belanda yang menyerang Batavia, saat itu.
Maka, area itu termasuk yang paling dihindari untuk dijadikan medan perang karena karomah yang dipancarkan dari makam tersebut. Begitu kurang lebih riwayat bercerita.
SEKITAR 1721 Masehi (1131 H) di kawasan yang kini berganti nama Kebayoran Baru tersebut pernah didiami tuan tanah kaya raya bernama Saimun.
Setelah sekian lama berobat tak kunjung sembuh, beliau bernazar barang siapa yang bisa menyembuhkan penyakitnya akan dinikahkan dengan putrinya yang bernama Sakinah.
TERSEBUTLAH Habib Abdullah bin Muhammad Aidid, ulama asal Hadramaut, Yaman, yang menjadi pria beruntung kala itu.
Kedatangannya yang bermaksud menyebarkan Agama Islam itu diberi kelebihan oleh Allah SWT untuk menyembuhkan Saimun.
SAIMUN menepati janjinya dan langsung menikahkan putrinya dengan Habib Abdullah.
Dari pernikahan tersebut lahirlah seorang putri yang diberi nama Wan Syarifah Fatmah binti Muhammad Abdullah Aidid.
Fatmah tumbuh dan berkembang menjadi seorang putri yang cantik dan solekha.
Sekitar umur delapan tahun, sudah mampu hafal Al Qur’an dan dapat mengobati orang yang sakit.
Sayangnya, menginjak usia sembilan tahun bersamaan saat haid pertamanya, dan ketika selesai suci beliau meninggal dunia.
HABIB Abdullah menguburkan jasad putrinya di lokasi tersebut.Dalam kesendiriannya setelah ditinggal istri, mertua, dan anaknya beliau memutuskan untuk kembali ke Yaman.
Semua hartanya dihibahkan kepada pembantunya sambil berpesan untuk menjaga dan merawat makam putrinya.
ALHAMDULILLAH, atas izin Allah SWT penulis ditakdirkan untuk berziarah ke lokasi. Tergambar sekali aura kesucian seorang putri yang solekha, sehingga tak banyak sesuatu yang disentuh, termasuk gambar yang diambil demi menghormati sohibul makam.
SEMOGA kisah ini menjadi inspirasi pembacanya untuk memotivasi belajar putra-putrinya untuk menguasai ilmu agama, termasuk menghafal Al Qur’an.
Untuk Wan Syarifah Fatmah binti Muhammad Abdullah Aidid, bisirril fatikha.
MOHON maaf lahir dan bathin. Semoga bermanfaat. Wallahu’alam.
H Nurcholis Qadafi
Penceramah, Usahawan dan Jurnalis
