Sekitar 18 tahun terakhir, ketika atasan satu-satunya hanya Allah SWT tidak ada yang lainnya setiap awal pekan atau hari Senin, kebiasaan saya hampir sama. Dengan sangat bersyukur dan bahagia sekali menyambutnya.
Bangun tidur sekitar pukul 02.00 dini hari. Di saat banyak orang sedang terlelap istirahat. Setelah menikmati liburan panjang, baik sehari maupun dua hari.
Persiapan sekitar satu jam. Itu termasuk mandi, sholat tahajud, dan sahur ketika puasa. Sebelumnya pada malam hari mempersiapkan barang-barang yang akan dibawa.
Sekitar pukul 03.00 meninggalkan rumah Bogor. Alternatifnya ada dua. Naik taksi atau pakai bus Damri. Tujuannya relatif sama, ke Bandara Soekarno-Hatta atau Bandara Halim Perdanakusuma.
Empat Rezeki
Dengan penuh semangat saya “menjemput” rezeki. Saya memaknai rezeki tidak semata-mata uang. Itu bagian kecil dari pemberian Tuhan.
Bagi saya, selain keluarga, rezeki itu ada empat. Rezeki yang pertama, mendapat kesehatan yang prima.
Harus banyak bersyukur ketika sehat dan berusaha optimal mempertahankannya bahkan meningkatkannya.
Rezeki yang kedua, memiliki banyak saudara dan teman di berbagai kota di dunia. Terus berusaha menjaga, memelihara, mengembangkan, dan meningkatkan silaturahim dengan mereka.
Caranya dengan menjaga hati dan pikiran tetap jernih dan bersih: mengupayakan selalu memberi bukan menerima.
Rezeki yang ketiga, mendapatkan banyak amanah baik dari individu maupun institusi.
Mengoptimalkan semua kepercayaan dengan berusaha menghasilkan yang terbaik agar yang memberi amanah senang dan bahagia.
Rezeki yang keempat, memperoleh materi. Jumlahnya relatif. Berapa pun harus disyukuri. Paling utama bukan jumlahnya namun keberkahannya.
Saya sangat menyadari bahwa semua rezeki itu adalah titipan dari Tuhan. Setiap saat: detik, menit, jam, dan hari, semuanya harus dipertanggungjawabkan. Jadi perlu hati-hati menggunakannya. Apalagi bukan milik sendiri.
Tepat Waktu dan Banyak Teman
Kembali ke aktivitas rutin di awal pekan selama 18 tahun terakhir. Kenapa memilihnya dini hari dan Senin?
Karena kondisinya segar dan hari pertama. Jadi harus selalu semangat menyambut dan memulai aktivitas untuk sepekan.
Sengaja pagi hari karena penerbangan pertama umumnya tepat waktu. Jarang pesawatnya telat, kecuali ada hal-hal yang luar biasa.
Pesawat yang berangkat pagi hari dari dua Bandara besar di Jakarta, umumnya “menginap”. Bukan yang datang dari kota lain, sehingga berangkatnya tepat waktu.
Selama 18 tahun terakhir saat di Bandara pada pagi hari, saya sering ketemu banyak teman yang tujuannya ke berbagai kota.
Mereka biasanya Jumat sore atau malam kembali karena keluarganya tinggal di Jakarta dan sekitarnya.
Pertemuan itu saya manfaatkan untuk silaturahim. Meski waktunya singkat namun bermanfaat. Paling utama adalah kualitas saat berkomunikasi, bukan kuantitasnya.
Setiap ketemu teman-teman, saya sangat bersyukur dan bahagia sekali. Apalagi saat menyimak berbagai kabar gembira dari mereka, saya makin senang karena mendapat energi positif.
Semua itu awal yang baik di awal pekan. Semangat modal yang sangat positif untuk menjalani semua aktivitas sepanjang pekan hingga kembali ke rumah Bogor pada Jumat malam. Alhamdulillah.
Semoga keberadaan saya di mana saja bermanfaat untuk sesama. Aamiin ya robbal alaamiin. Apalagi bagi Tuhan, sebaik-baiknya manusia adalah yang bermanfaat untuk banyak orang.
Dr Aqua Dwipayana
Pakar Komunikasi dan Motivator Nasional
