Setiap akan melaksanakan acara sharing komunikasi dan motivasi, saya selalu mengusulkan kepada panitianya untuk mengundang teman-teman wartawan.
Tujuan agar kegiatan itu terpublikasi dengan baik dan memberi hasil positif tidak hanya buat penyelenggara tetapi juga untuk para pembaca media.
Di sisi lain saya ingin mengetahui sejauh mana hubungan penyelenggara yang mengundang saya dengan media.
Sekaligus bertujuan mengedukasi mereka.
Umumnya mereka merespon positif usulan saya tersebut.
Bahkan ada yang meminta masukan media apa saja yang diundang dan jumlahnya berapa banyak.
Ada juga yang memberikan tanggapan sebaliknya.
Tidak perlu mengundang media dengan alasan acaranya internal sehingga tidak membutuhkan publikasi.
Sebagian panitia jumlahnya sedikit lebih memilih untuk tidak mengundang media.
Meski begitu, mereka mengirimkan siaran pers atau rilis dan foto-foto kegiatan ke berbagai media.
Mereka memiliki relasi para wartawan.
Semua yang dilakukan di atas ada alasan dan pertimbangan masing-masing.
Saya banyak belajar dari yang mereka lakukan.
Sebagai mantan wartawan di berbagai media besar selama 6 tahun (1988 – 1994) dan pernah 10 tahun (1995 – 2005) jadi humas di Semen Cibinong, wawasan dan pengetahuan saya bertambah dengan melihat pilihan panitia tersebut.
Sekaligus tahu plus minusnya.
Mereka yang sengaja mengundang berbagai media untuk meliput acara, sangat paham bahwa publikasinya masif dan beragam.
Setiap wartawan yang hadir akan menulis sesuai dengan ketertarikannya. Semua beritanya pasti positif.
Tidak hanya itu, biasanya wartawan yang hadir akan membagikan berita yang dibuatnya ke teman-teman sesama jurnalis yang tidak hadir.
Tujuannya agar mereka memuatnya di media masing-masing.
Selain itu, kehadiran para wartawan yang meliput tersebut makin mendekatkan hubungan dengan pihak yang mengundang mereka.
Dekat secara fisik dan hati.
Kondisinya berbeda kalau hanya “komunikasi” lewat rilis.
Tidak ada sentuhan batin karena pertemuannya jarak jauh.
Apalagi kalau berhubungan hanya saat butuh saya. Itu seperti transaksional.
Saya selalu menyarankan supaya narasumber intens berkomunikasi dengan media.
Ada ataupun tidak ada berita agar tetap berhubungan.
Saya konsisten melakukan itu, baik saat sebagai wartawan maupun ketika menjadi humas.
Intens berkomunikasi sehingga hubungannya sangat pribadi.
Bahkan sampai hari ini masih terjalin baik hubungan dengan mereka (wartawan dan narasumber).
Setelah berhenti jadi wartawan (32 tahun lalu) dan tidak lagi jadi humas (21 tahun lalu) sampai sekarang saya tetap menjalin hubungan baik dengan mereka yang pernah jadi narasumber saya dan para jurnalis.
Kualitas persahabatan sama bahkan lebih meningkat.
Kami tetap berkomunikasi dan saling menghargai.
Saat ketemu salah satu yang dibicarakan sinergi masa lalu yang saling menguntungkan.
Memberi manfaat untuk pekerjaan masing-masing.
Menyajikan Berita Positif
Setiap melaksanakan aktivitas positif termasuk kegiatan Sharing Komunikasi dan Motivasi, sebaiknya mengundang banyak media.
Tujuannya agar terpublikasi secara masif dan beritanya beragam.
Tanpa diminta, para wartawan yang hadir untuk meliput akan menyajikan berita positif.
Mereka melihat langsung kejadiannya, merekam, mengolah, dan mempublikasikannya.
Kondisinya berbeda jika hanya mengirimkan rilis.
Beritanya cenderung seragam dan monoton.
Tidak menarik karena isinya relatif sama.
Wartawan yang kreatif, biasanya tidak langsung memuat rilis di medianya.
Lebih dulu mengolahnya dengan mengutamakan hal-hal yang menonjol sehingga menarik untuk dikonsumsi.
Masalahnya, tidak semua wartawan yang menerima rilis seperti itu.
Kecenderungannya banyak wartawan copas alias copy paste.
Begitu menerima kiriman rilis, tanpa mengedit langsung memuat di medianya.
Kepada para wartawan terutama jurnalis muda, saya selalu menyarankan untuk menghindari kebiasaan copas.
Ini menyangkut kredibilitas mereka di mata narasumber dan pembaca.
Sebaiknya begitu menerima rilis, langsung membaca dan mengedit beritanya.
Dari semua informasi melihat mana yang paling penting untuk memuatnya pada alinea pertama.
Ini biasa disebut teras berita (lead).
Teras berita yang baik adalah memberikan informasi atau gambaran kepada pembaca sehingga bisa memahami esensi berita dengan cepat dan memudahkan.
Dengan membaca alinea pertama jadi punya pandangan isi beritanya secara keseluruhan.
Upayakan membuat teras berita yang menarik dan singkat.
Dengan begitu setiap orang yang membacanya, dalam hitungan detik jadi tertarik untuk menuntaskan bacaan tersebut.
Selain itu supaya menjawab unsur 5W+1H: What (apa), Who (siapa), Where (dimana), When (kapan), dan How (bagaimana).
Berita yang baik memenuhi hal tersebut.
Di samping dalam penulisan beritanya agar melakukan struktur piramida terbalik.
Menempatkan informasi paling penting, krusial, dan menarik di bagian awal atau alinea pembuka.
Selanjutnya informasi pendukung disusun berdasarkan tingkat kepentingan yang menurun, dengan detail sekunder atau pelengkap di bagian akhir.
Melakukan itu agar memudahkan redaktur yang mengedit berita untuk “memotong” atau menghapus alinea yang tidak penting.
Biasanya teras berita berisikan inti berita yang menjawab 5W+1H.
Dilanjutkan dengan tubuh berita (body).
Merupakan keterangan mendalam, kutipan, atau konteks tambahan dari poin-poin teras berita.
Terakhir ekor berita (tail) yang merupakan tambahan informasi.
Biasanya hal-hal yang tidak penting.
Kalah Bersaing
Saya masih sering menemukan humas yang tidak punya kemampuan membuat berita. Ironis mereka tidak mau belajar tentang itu.
Menjejali informasi peristiwa yang terjadi tanpa melihat sistematikanya.
Tidak jarang dalam penulisan beritanya terbalik-balik.
Hal paling penting diletakkan di bawah atau di tengah.
Sedangkan yang tidak penting ditempatkan di alinea pertama.
Humas yang tidak punya hubungan baik apalagi kedekatan pribadi dengan wartawan dan redaktur, jika rilisnya seperti itu, kecil kemungkinan dimuat di media.
Kalah bersaing dengan rilis-rilis lainnya.
Begitu wartawan atau redaktur menerima rilisnya, jika tidak menarik apalagi kalau penulisannya tidak mengikuti kaidah jurnalistik, langsung dihapus.
Media tidak akan memuatnya.
Sebaliknya kalau punya hubungan baik apalagi sangat pribadi, wartawan dan redaktur yang menerima rilis, setelah mengedit, memuatnya.
Mereka akan membantu menyempurnakan berita itu.
Berdasarkan pengalaman itu, humas harus mampu membuat rilis sesuai kaidah jurnalistik yakni penyusunan beritanya berupa piramida terbalik.
Juga memenuhi unsur 5W+1H.
Mereka yang paham tentang manfaat bermitra yang baik dengan media, selalu mengoptimalkan kemitraannya.
Menjaga, memelihara, mengembangkan, dan meningkatkan kolaborasi strategis tersebut sepanjang masa.
Dr Aqua Dwipayana
Pakar Komunikasi dan Motivator Nasional
