Home Opini KYAI

KYAI

by Slyika
TERSEBUTLAH seseorang yang hidup dalam kemiskinan datang kepada sang kyai yang tinggal di desa.
Tujuannya, ingin mencari solusi agar nasibnya berubah menjadi orang kaya. Setelah menceritakan kesusahannya, dengan santainya sang kyai memberikan jalan keluarnya yaitu begadang tiap malam di masjid sebelah rumahnya.
“SILAHKAN kamu menunggu masjid, nggak usah ngapa-ngapain. Syaratnya, kalau malam jangan tidur,” begitu katanya. “Saya tak perlu dzikir dan mengaji?” timpal pria beristri dan beranak ini terheran-heran.
“YA, kamu gak usah ngapa-ngapain. Asal kalau malam jangan tidur. Silahkan kamu makan, minum, merokok dan sebagainya,” jawab sang kyai rileks.
DALAM benaknya, mudah sekali kalau hanya begadang, tanpa kewajiban ibadah. Hari berganti, minggu, bulan, hingga setahun. Si pria ini pun lama-lama terbiasa dengan “kehidupan” masjid.
Ketika pagi, harus sholat Subuh berjamaah, karena tak elok dilihat jamaah lainnya. Juga Dzuhur, Ashar, Maghrib, hingga Isya, mau tidak mau menyesuaikan irama lingkungan masjid.
SETIAP malam, ia masih tetap menjaga dari kantuknya. Begadang hingga pagi, meski tak berkewajiban beribadah. Nilai malam hari, memang lebih mahal daripada siang hari.
Banyak peristiwa mulia dan turunnya rahmat terjadi pada malam hari. Minimalnya, menjadi saksi keberkahan kandungan malam bagi pria si pengejar mimpi. Tanpa tidur dilakukan berulang-ulang, hingga suatu hari ada peristiwa yang luar biasa.
SEORANG pria tak dikenal tiba-tiba datang ke kediaman sang kyai. Kepada beliau, pria ini menanyakan perihal seorang lelaki yang beberapa tahun lalu datang ingin merubah nasib.
“Iya benar. Lelaki itu sedang menunggu masjid,” jawab sang kyai.
PRIA ini pun berkisah, bahwa lelaki tersebut adalah teman sekolahnya. Sudah lama ia mencarinya, hingga mendatangi rumahnya.
Kata istrinya, suaminya sudah lama meninggalkan rumah mencari nafkah untuk menutupi kebutuhannya. “Setelah saya cari-cari katanya ada di rumah seorang kyai, makanya saya datang ke sini,” tutur pria tak dikenal tersebut.
AKHIRNYA sang kyai itu mengantarkannya ke masjid. Lalu, apa yang terjadi ? Pria penunggu masjid itu kaget, karena tak menyangka pria berpenampilan perlente teman karibnya itu mendatanginya.
Mereka bergantian memanggil, tanda saling kenal. Berpelukan, melampiaskan rasa kangen, tak terasa tetesan air mata keluar dari satu persatu mata kedua sahabat tersebut.
SAMBIL berangkulan, sang teman berkata lirih tetapi meyakinkan; “Kemana aja kamu. Saya sengaja mencari, karena saya butuh direktur untuk perusahaan saya. Saya punya lebih dari dua perusahaan, tetapi yang satu nggak keurus. Tolong, kamu urus perusahaan saya. Kamu yang jadi direkturnya,” katanya memastikan.
MENDENGAR janji tersebut, pria yang tengah dilanda kesusahan itupun langsung bersemangat menjawab; siap meski masih kaget tak menyangka akan perubahan nasibnya.
Sambil menengok kepada sang kyai, ia pun mengucapkan kata terimakasih. Sang kyai hanya tersenyum dan menganggukkan kepala, pertanda mengizinkan untuk meninggalkan masjid yang selama ini ditempatinya.
MOHON maaf lahir dan bathin. Semoga bermanfaat. Wallahu’alam.
Nucholis Qadafi
Penceramah, Usahawan dan Jurnalis

You may also like

Leave a Comment