Bhinneka Tunggal Ika adalah suatu kata atau frasa dalam Kakawin atau Syair Susastra Jawa Kuno dari Bahasa Sansekerta dengan aksara Bali dalam Kitab Sutasoma, oleh Mpu Tantular pada abad ke-14 M.
Suatu frasa sosio-kultural yang dipakai sebagai tali pengikat toleransi kerukunan antara umat Hindu Siwa dan umat Buddha kala itu.
Bhinneka yang berarti beragam, berbeda, majemuk, plural itu menyiratkan kondisi bangsa ini yang begitu penuh warna.
Tunggal yang berarti satu, manunggal, menyatu dan Ika yang berarti satu itu juga, satu secara integral, satu kesatuan utuh.
Perbedaan yang merupakan fitrahNya itu merupakan kuasa Tuhan yang membuat bangsa kita terhimpun dari berbagai perbedaan atau keanekaragaman yang ada.
Perbedaan suku bangsa, agama, ras, kultur atau budaya, antar golongan di masyarakat adalah atas kehendakNya yang mana kita melalui perjalanan historis bangsa ini dipersatukan melalui para pendiri bangsa ini.
Mengingkari ke-Indonesiaan kita, sama saja dengan mengingkari, meniadakan kuasa Tuhan atas bangsa ini.
Kohesi sosial sebagai bangsa sudah terbukti dan teruji demikian kokoh. Ada ikatan emosional-psikologis yang sangat kuat diantara sesama anak bangsa besar ini.
Perjalanan historis bangsa membuktikan bahwa dengan alasan apapun sangat sulit dan sangat tidak mungkin untuk memecah belah kuatnya anugerah rasa Persatuan dan kesatuan kita sebagai sebuah bangsa.
Dari Sabang-Marauke, Miangas-Rote, Nusantara ini terhampar amat luas, seluas hati kita untuk tetap terus menjaga dan merawat ke-Indonesiaan kita.
Kita memiliki saudara sebangsa dan setanah air. Saudara yang dipilih oleh Yang Maha Kuasa untuk mendampingi kita hidup bersama dalam harmoni kebhinnekaan sebagai sebuah bangsa besar.
Oleh sebab itu menjaga saudara sebangsa dan setanah air sama saja dengan menjaga pilihan Tuhan atas bangsa ini.
Sumatera, Jawa, Madura,Bali, NTB, NTT, Kalimantan, Sulawesi, Maluku, Papua, dengan beragam suku bangsa penghuninya merupakan kehendak Sang Pencipta yang harus kita jaga dan rawat baik-baik.
Negeri besar ini laksana sebuah taman bunga luas nan harum semerbak yang terdiri dari beraneka-ragam jenis bunga dengan pesona beragam eloknya warna yang Tuhan telah berikan.
Kalau Sang Maha Prakarsa itu ingin menghendaki berbagai bunga warna-warni itu tersebar dan terserak di seantero taman bunga dunia, maka bunga-bunga itu tentunya tak kan pernah saling bersanding bersama dalam sebuah taman Indonesia, sebagai sesama bunga sebangsa di taman Tanah Air ini. Taman Tanah Air Indonesia.
Oleh karenanya taman Tanah Air, Taman Bunga Nusantara ini haruslah terus dirawat dan dijaga keharum-semerbakannya dan ke-elok-indahannya sebagai suatu anugerah besar Tuhan Sang Maha Pencipta yang telah memberikan cinta-kasih dan kasih-sayangnya pada kita semua, insan bangsa besar ini.
Maka bukanlah suatu kebetulan jikalau Kang Ujang, Mas Yono, Cak Broto, Gus Rohman, Tubagus Arya, Den Budi, Cep Dani, Lae Ucok, Bang Hasan, Uda Faisal, Bli Nyoman, Broer Tommy, Koko Akiong, Bung Robert, Kaka John, walau lahir dari rahim Ibunda biologis yang berbeda namun atas kuasa kehendakNya, Sang Maha Pengasih dan Maha Penyayang itu, mereka dilahirkan dari satu rahim Ibunda ideologis yang sama yakni Ibu Pertiwi Indonesia, Ibu Pertiwi Nusantara Bumi PANCASILA.
Ibu Pertiwi yang telah mengandung dan melahirkan kebhinnekaan segenap putra-putrinya.
Ibu Pertiwi Indonesia Bumi PANCASILA yang telah membekali anak-anaknya dengan Nilai-nilai universal Ke-Tuhanan dan kemanusiaan sejati di dalam Taman Bunga Nusantara ini, taman bunga yang mengayomi semua anak bangsa dalam kedamaian, kerukunan sejati.
Taman Bunga IKN Nusantara, Taman Bunga Bhinneka Tunggal Ika. Salam Bhinneka Tunggal Ika, Salam Nusantara.
HD Febiyanto
Motivator Strategi Komunikasi-Pemerhati Pengembangan Karakter Kebangsaan & Kenegarawanan
