“Setop perang. Perang itu menyengsarakan umat manusia, dan membahayakan dunia.” Presiden Joko Widodo, dalam kicauannya di Twitter, Jumat, 24 Februari 2022.
Tidak butuh waktu lama. Beragam tanggapan penghuni dunia maya memenuhi kolom komentar Tweet Bapak Presiden.
Mereka mempertanyakan, kenapa Presiden Joko Widodo tidak secara kongkrit menyebutkan dukungan untuk siapa diantara pihak yang berperang.
Bahkan, seorang politikus dari partai pengusung Presiden Joko Widodo memberikan kritikan dan cenderung prihatin, melihat Presiden dan Kementerian Luar Negeri—yang juga menerbitkan kicauan yang menyinggung “serangan militer di Ukraina”—karena memberikan penyataan yang tidak tegas.
Tak ketinggalan, media massa pun turut bersuara. “Ada yang hilang dari kicauan Presiden Joko Widodo terkait invasi Rusia ke Ukraina. “Rusia” sama sekali tidak disebut,” kritik mereka.
Berangkat berbagai komentar dan kritikan itu, menarik untuk menemukan, wacana apa sebenarnya yang ingin disampaikan Presiden Joko Widodo melalui kicauannya tersebut.
Untuk menemukan wacana dari kicauan itu, tidak cukup dengan melihat dari unsur penggunaan bahasa saja, melainkan coba mengaitkannya dengan konteks.
Konteks dimaksud yakni penggunaan bahasa yang sesuai dengan situasi dan kondisi tertentu sehingga tujuan yang diinginkan pemilik kicauan tercapai.
Teks bukanlah sesuatu yang bermakna nyata dan menjelaskan sesuatu secara apa adanya. Ada konteks dibalik penggunaan bahasa dalam teks tersebut. Demikian dalam analisis wacana kritis.
Van Dijk menyebutkan, ada beberapa karakteristik penting dari analisis wacana kritis, berupa tindakan, konteks, histori, kekuasaan dan ideologi.
Melalui kicauannya di Twitter, Joko Widodo sebagai Presiden Republik Indonesia telah melakukan sebuah tindakan dengan memberitahukan apa yang menjadi menjadi keinginannya.
Apa keinginannya? “Setop Perang”. Karena menurut Presiden Joko Widodo, perang itu menyengsarakan umat manusia dan membahayakan dunia.
Dari penggunaan bahasa dalam teks itu, sangat jelas Presiden Joko Widodo memberitahukan sikapnya bahwa perang harus dihentikan. Perang menimbulkan kerugian dan membahayakan.
Dikaitkan dengan konteks, kicauan Presiden Joko Widodo sulit dilepaskan dari peristiwa serangan militer Rusia terhadap Ukraina. Tergambar dari waktu kicauannya di Twitter, yang pada waktu bersamaan telah terjadi serangan militer oleh Rusia ke Ukraina.
Untuk lebih memahami kicauan Presiden Joko Widodo, aspek historis yang melatarbelakangi teks itu dibuat, menjadi penting untuk dianalisa.
Pada saat yang bersamaan, miltar Rusia tengah melakukan serangan ke Ukraina. Perang pun tak dapat dielakkan. Korban luka hingga kehilangan nyawa jadi konsekuensi suatu perang. Belum lagi kerugian seara ekonomi.
Presiden Joko Widodo dalam kicauannya tegas meminta “setop perang”. Tidak ada manfaat dari perang, melainkan menyengsarakan umat manusia karena korban berjatuhan dan membahayakan dunia.
Kedamaian bernegara—dalam lingkup Kawasan maupun internasional—yang sudah tercipta, pasti terpengaruh perang itu. Tidak saja bagi pihak bertikai, dampak perang Rusia dan Ukraina juga dirasakan negara lain.
Termasuk Indonesia. Meskipun tidak banyak, warga negara Indonesia ada yang bermukim dan bekerja di Ukraina. Dengan adanya perang, kedamaian mereka terganggu.
Bagaimana dengan aspek kekuasan dari kicauan Bapak Presiden. Pertarungan kekuasaan yang dapat dilihat dari kicauan itu, Presiden Joko Widodo sama sekali tidak menyebut pihak bertikai.
Presiden Indonesia memantapkan posisinya untuk tidak menempatkan diri pada pihak bertikai, melainkan menegaskan apa yang dilakukan pihak yang bertikai hanya akan menyengsarakan umat manusia dan membahayakan dunia.
Tentu, sikap Presiden Joko Widodo tidak lepas dari ideologi tertentu yang ingin ditegaskan. Wacana bukan sesuatu yang betul-betul netral apa adanya.
Suatu wacana akan memunculkan ideologi untuk mendominasi, atau jika tidak mau disebut mendominasi, bisa dikatakan untuk berebut pengaruh.
Kata yang digarisbawahi Presiden Joko Widodo dalam kicauannya, adalah “perang”. Beliau sama sekali tidak menyebut, apalagi sampai menyatakan mendukung salah satu pihak yang berperang, sebagaimana dipertanyakan banyak pihak.
Itu tidak lepas dari ideologi yang melatarbelakangi Joko Widodo sebagai Presiden Indonesia, suatu negara yang khusus menempatkan Gerakan Non Blok (GNB) dalam politik luar negerinya.
Indonesia kerap berperan dalam upaya peningkatan peran GNB untuk menyerukan perdamaian dan keamanan internasional, mengedepankan proses dialog dan kerja sama dalam upaya penyelesaian damai konflik-konflik intra dan antar negara, dan upaya penanganan isu-isu dan ancaman keamanan global baru.
Kicauan Presiden Joko Widodo sudah menegaskan tindakannya atas apa yang terjadi Ukraina. Beliau menyinggung dampak perang di saat terjadi serangan militer Rusia ke Ukraina.
Tanpa menyebut apalagi sampai mendukung pihak yang berperang, teks dalam kicauan itu sudah sangat jelas menggambarkan konteks dan historis yang terjadi sehingga melatarbelakangi munculnya kicauan tersebut.
Sebagai bagian GNB, Presiden Indonesia Joko Wibowo tidak menempatkan dirinya pada salah satu pihak, tidak juga mencoba melihat secara utuh sebab-akibat dari serangan militer Rusia ke Ukraina.
Presiden Joko Widodo berupaya tidak mencampuri urusan dalam negeri orang lain namun tetap menegaskan penolakannya terhadap penggunaan atau ancaman kekuatan dalam hubungan internasional.
PIlihan itu diambil karena beliau ingin menempatkan Indonesia independen, namun tetap merefefleksikan sikap dan kepentingan Indonesia, sesuai dengan arah dari GNB itu sendiri.
Ada tujuan lebih besar dari sekadar memberikan dukungan pada salah satu pihak. Setop perang dan hidup berdampingan secara damai, poin besar yang ingin disampaikan Presiden Indonesia.
Fakhrur Haqiqi
Pranata Humas Ahli Muda Lembaga Perlindungan Saksi dan Korban (LPSK)
