Home Opini Filosofi Semar, Filosofi Karakter Tulus-Sejati Dalam Melayani

Filosofi Semar, Filosofi Karakter Tulus-Sejati Dalam Melayani

by Slyika

Sebagai sosok atau figur yang sangat berkarakter dalam kisah-kisah pewayangan (wayang kulit) Jawa yang sarat dengan pesan-pesan moral kemanusiaan. Semar yang bertubuh gemuk-subur dan pendek.

berjambul dan memiliki bagian bawah-belakang yang besar dan menonjol ke belakang itu adalah wujud tokoh yang sanggup mengekspresikan sifat kejantanannya (maskulin) maupun sifat kebetinaannya (feminin).

Ia adalah tokoh wayang yang luwes-fleksibel, rendah-hati, peka-sensitif dalam menyesuaikan suasana hati lingkungan sosialnya.

Semar sangat dipandang sebagai sosok, figur yang sangat peduli pada sesamanya.

Eyang Semar, demikian Semar sering mendapat julukan nama penyebutan ini ketika dihadapkan pada situasi dimana ia ‘didudukkan’ oleh alam sebagai tokoh yang muncul sifat bijaksana, adil dan jujurnya karena karakter mulianya itu.

Karakter yang muncul ketika ada rasa keadilan yang mengusik batinnya yang teramat dalam.

Semar memiliki watak atau karakter yang penuh cinta-kasih, penyabar dan halus budi-bahasanya walaupun ia selalu merasa riang gembira dan hampir tak pernah sedih dan marah, ia mudah iba dan menangis apabila ada ketidakadilan merajalela di sekitarnya.

Matanya yang selalu berair setiap waktu, akan makin mengeluarkan tetesan air-mata sebagai wujud ekspresi rasa marahnya yang terpendam dalam.

Filosofi Semar adalah atas sosok yang sangat paradoks. Semar benar-benar sosok pribadi yang asyik, unik, spesifik, nyentrik, klasik, romantik, eksentrik, apik yang sangat jauh dari sifat licik dan munafik (hipokrit).

Semar yang paradoks adalah Semar yang selalu merasa bersyukur dan bahagia, namun ia bisa sontak bersedih bila ada sesamanya yang dilanda kemalangan.

Ia pun begitu geram dan marah bila ada ketidakadilan terjadi dihadapan matanya, walau hanya dilampiaskan dalam keterpendaman kerisauan batinnya atas situasi yang terjadi dengan air-mata yang terus berurai dan (maaf) tak henti-hentinya membuang angin.

Ekspresi marahnya cukup dilampiaskan melalui intensnya ‘frekuensi ‘curhat-nya’ pada Sang Maha Agung itu, yang selalu ia lekatkan didalam mata-batin, sanubari, kalbunya itu.

Semar bisa begitu ke-Bapak-an sekaligus bisa begitu ke-Ibu-an. Ia bisa begitu maskulin pun bisa begitu feminin.
Maka betapa sangat paradoksnya Eyang Semar ini.

Dalam pakem Hindu-Budha-Tantra yang sangat mewarnai dunia pewayangan Jawa, Semar juga disebut Betara Ismaya, saudara dari Betara Guru, putra dari Sang Hyang Tunggal.

Dewa-dewa pun dianggap berada di bawah telapak kaki Semar, karena secara kosmologi Semar dianggap sebagai personifikasi roh Nenek Moyang yang menganut agama atau kepercayaan asli Nusantara Raya, Indonesia ini, jauh sebelum adanya agama Hindu dan Budha.

Walaupun demikian terdapat wajah paradoks yang lain dari sosok Semar ini. Semar yang dianggap berasal dari ketinggian absolut ini, berkenan menjadi pelayan seorang raja.

Di titik inilah filsafat Semar berada. Dalam hal kemuliaan jiwa, Semar adalah Yang Tertinggi, Maha Majikan bagi para dewa sebagai para hamba sahajanya.

Tetapi terhadap raja-raja di dunia, Semar adalah maha pelayan yang mengabdi, mengawula.

Di Dunia Atas atau alam transenden, Semar bersifat paternalistik yang ke-Bapak-an secara Ilahiah, sedangkan di dunia manusia atau alam imanen, Semar bersifat maternalistik yang ke-Ibu-an secara Ilahiah.

Semar yang di dunia luhur adalah sosok Semar yang penuh kuasa, penjaga keadilan-kesejahteraan-kedamaian sejati dan Semar yang di dunia bawah, dunia manusia adalah sosok Semar yang lemah-lembut, penuh cinta-kasih dan mengawula, menghamba-prasaja, sahaja sejati.

Maka tak jarang di alam keluhurannya itu, Semar yang dimuliakan, diagungkan dan dipuja, pada saat yang bersamaan, ia justru kerap tidak dianggap, diperlakukan tidak adil sebagai seorang abdi atau pelayan bagi kebajikan rahayat banyak dan bahkan diperlakukan tidak manusiawi, dihina-nistakan.

Dualisme wajah watak atau karakter dari Semar ini memang agak sulit bila dicerna dengan akal, nalar, rasio, logika semata.

Karakter ini mutlak harus ‘dibaca’ dengan spiritualitas bahasa mata batin, bahasa rohani, bahasa kalbu, bahasa ke-sanubari-an yang sangat dalam.

Bahasa yang harus dicerna dengan pendekatan filsafat atau filosofi budaya dan sastra.

Sosok Eyang Semar yang bijak ini adalah sosok yang membingungkan setiap kita yang selalu memanjakan dunia, kebendaan, mata lahir.

Namun pada kenyataannya, ia hadir di dunia ini dan bisa muncul dalam bentuk apa saja. Dan dalam konteks kekinian, Eyang Semar ini ada disekitar kita, entah siapa, dimana dan kapan Eyang Semar ini muncul untuk ‘menertibkan’ dan ‘mendamaikan’ yang tidak tertib dan tidak gemar berdamai, guyub-rukun.

Singkat kata, Semar akan hadir untuk ‘meluruskan’ yang ‘bengkok-bengkok’. Sejatinya dewa itu Semar, maka dewa-dewa kekuasaan yang ada di dunia ini adalah dewa setengah jadi atau bahkan dewa-dewa palsu yang tidak pernah hadir di tengah manusia.

Dewa yang tidak bisa memahami makna terang karena belum pernah mengenal sama sekali apa dan bagaimana sesungguhnya kegelapan itu.

Semar adalah dewa yang melayani. Semar yang Mbabar Jati Diri, Semar yang mengaktualisasi diri, Semar yang memanusia, Semar yang mengawula-menghamba.

Semar bukanlah tukang perintah, tetapi Semar adalah pelayan setia, jujur, amanah dan berintegritas dalam melayani pimpinan dalam menjalankan perintah atasan, perintah atas nama kebajikan khalayak, bonnum publicum, kemaslahatan-kebaikan bersama.

Laku atau lelakon atau peran Semar itu sejatinya memerintah, namun tanpa perintah. Manusiawi Sang Dewa yang mengejawantah, memanusia ini bisa marah, namun tanpa marah-marah, ia sangat kaya namun tanpa materi.

Sugih tanpo bondo. Melawan musuh tanpa harus membinasakan. Nglurug tanpo bolo. Semar Sang Penguasa dunia atas mandat Sang Maha Penguasa Semesta Alam ini selalu rendah-hati, merahayat.

Melalui sosok Eyang Semar yang ‘dipinjam’ oleh Sang Maha Segala, Sang Hyang Maha Tunggal, Sang Maha Tinggi itu hadir dalam wujud yang maha rendah.

Dalam perspektif sifat, karakter, jiwa-jiwa kenegarawanan kita, Eyang Semar adalah sebuah cermin sosok, figur pemimpin yang negarawan sejati.

Bukan politisi atau politikus. Ia selalu hadir sebagai penyejuk di tengah kegersangan dan ketandusan pekerti.

Eyang Semar selalu steril dan jauh dari kepentingan, ambisi pribadi, intrik, polemik dan konflik kepentingan.

Eyang Semar adalah sebuah filosofi karakter melayani yang tulus-sejati. Karakter yang melayani Gusti Sang Maha Pengasih dan Penyayang dan sesama ciptaanNya secara tulus-sejati.

Dalam perspektif ke-Indonesia-an kita ini, tanah-air dari negeri besar yang sangat kita cintai ini. NKRI tercinta ini sangatlah membutuhkan banyak ‘Eyang Semar’ untuk tumpah-darah, Tanah Tumpah Darah Ibu Pertiwi ini ke depan.

Sang Semar yang selalu mengedepankan rasa cinta tanah-air, rasa kebangsaannya, jiwa-jiwa patriotisme untuk kepentingan sesamanya.

Sesama warga-bangsanya ‘Eyang Semar’ Sang Negarawan Sejati yang selalu mengalami ‘perjumpaan’ dengan-Nya dan senantiasa ‘bertemu dalam taman hati’ pada sesamanya secara mengagumkan.

Sebuah kekaguman atas kesejatian iman dan takwa pada Sang Ilahi, sekaligus sebuah kekaguman atas penghargaan universalitas nilai-nilai peradaban kemanusiaan sejati.

Nilai-nilai yang menghindari sifat kebencian pada sesama. Nilai-nilai yang selalu memadamkan api kebencian dengan air cinta-kasih sejati.

Nilai-nilai keluhuran pekerti yang selalu mengejar kesempurnaan nilai keutamaan hidup yang menghidupkan.

Berbudi pekerti luhur untuk mencapai kebajikan sejati (Hanggayuh Kasampurnaning Hurip. Berbudi Bawaleksana. Ngudi Sejatining Becik).

Dalam spiritualitas adi luhur dan adi luhung universalitas nilai Ke-Tuhan-an dan kemanusiaan sejati, sosok, figur Semar adalah perlambang kehadiran Sang Hyang Tunggal sebagai pengejawantahan ‘living God’ di dalam dunia manusia. Di dalam kalbu, suara mata batin kita. Salam Eyang Semar, Salam Kebajikan Sejati.

HD. Febiyanto
Motivator Komunikasi Strategis-Pemerhati Pengembangan Karakter Kebangsaan & Kenegarawanan

You may also like

Leave a Comment