Manfaat silaturahim itu luar biasa dan dahsyat. Saya sudah membuktikannya sendiri. Semuanya jadi mudah dari yang semula tidak terbayangkan. Kejadiannya sekitar sebulan yang lalu.
Bermula dari rencana ananda Azradina Fakhira dalam rangka ikhtiar mendapatkan kampus yang diharapkannya. Maka anak pertama saya tersebut berencana ikut ujian tulis masuk Universitas Lambung Mangkurat Banjarmasin, Kalimantan Selatan, pada Kamis, 8 Juli 2021 di Banjarmasin.
Salah satu pertimbangan memilih perguruan tinggi negeri tersebut karena neneknya (ibu saya) berasal dan tinggal di Barabai yg berjarak 165 km dari Banjarmasin.
Semua persiapan keberangkatan telah dipersiapkan dengan baik termasuk memesan tiket pesawat ke Banjarmasin untuk keberangkatan Rabu, 7 Juli 2021.
Namun tiba-tiba sore hari H-1, Azra mendapatkan pemberitahuan tentang perubahan pesawat dan waktu keberangkatannya.
Saat Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM) mikro tidak ada penerbangan langsung dari Yogyakarta International Airport Kulonprogo ke Bandara Syamsusdin Noor di Banjarbaru. Karena mencari tiket murah Azra memesan tiket Lion Air dengan rute penerbangan YIA-CGK dilanjutkan CGK-BDJ.
Masalahnya adalah waktu tunggu saat transit di Bandara Soekarno-Hatta menjadi lebih lama. Dari semula sekitar tiga am lebih sedikit menjadi 6 jam 50 menit. Hampir tujuh jam.
Dengan perubahan ini memunculkan kekhawtiran pada Bunda Azra (istri saya yang bernama Siti Maryam), mengingat baru pertama kalinya Azra pergi sendiri dan harus transit cukup lama di Bandara Soetta. Juga baru kali kedua didatanginya.
Pertama saat dia masih kelas 4 SD. Kala itu bersama banyak anggota rombongan. Kekhawatiran yang sama juga dirasakan keluarga besar kami baik di Kalsel maupun di NTB.
Terkait itu istri saya meminta saya agar ikut berangkat menemani Azra. Namun tidak memungkinkan berangkat mendadak karena pada masa PPKM Mikro ini untuk naik pesawat harus menyertakan bukti tes swab yang menyatakan negatif Covid-19.
Untuk mendapatkannya tidak bisa secara cepat. Sementara waktu berangkat tinggal besok pagi.
Malam itu kemudian saya langsung teringat seorang teman, Bapak Aqua Dwipayana yang setiap hari rajin mengirimkan berbagai tulisan yang inspiratif dan memotivasi. Semua kirimannya selalu saya baca.
Beliau adalah orang baik dan ringan tangan membantu siapapun tanpa pamrih dan pandang bulu. Juga karena kebiasaan silaturahimnya sehingga mempunyai banyak relasi termasuk dengan manajemen Lion Air Grup.
Seketika itu terpikir ingin meminta bantuan Pak Aqua. Namun keraguan muncul saat mau menyampaikan permohonan tersebut sebab selama ini saya jarang berkomunikasi dengan beliau.
Saya hanya menjadi pembaca pasif yang terkadang memberikan respon dengan ikon jempol. Akhirnya saya mengurungkan niat untuk menghubungi Pak Aqua.
Namun saat mengantarkan Azra ke pintu keberangkatan di Yogyakarta International Airport Kulonprogo, kembali kekhawatiran bunda Maryam disampaikan yakni bagaimana anak kita nanti selama transit di Bandara Soetta. Menunggu di sana sendirian. Pasti bosan dan lelah.
Seperti Orang Penting
Terpaksa saya memberanikan diri menulis pesan melalui Whatsapp kepada Pak Aqua. Dengan menceritakan semua rencana perjalanan Azra ke Banjarmasin yang transit sekitar tujuh jam di Bandara Soetta dan kekhawatiran keluarga terhadap putri sulung saya itu.
Sampai dengan Azra memberi kabar bahwa sudah bersiap masuk pesawat untuk berangkat, saya cek kiriman WA saya kepada Pak Aqua masih centang satu.
Saya lihat di bawah inisial nama Pak Aqua terlihat angka 00.18, yang berarti memang Pak Aqua belum membuka WA sehingga pesan yang saya kirimkan belum dibacanya.
Akhirnya saat meninggallan Yogyakarta International Airport Kulonprogo untuk kembali ke Kota Yogyakarta, saya pasrah. Sambil berdoa semoga perjalanan Azra aman, nyaman, dan dalam lindungan ALLAH SWT.
Saat baru saja melewati pintu keluar area Yogyakarta International Airport Kulonprogo, anak ketiga saya Azza Fadhila Yumna yang kelas 5 SD mengatakan, “Yah, ada WA dari Pak Aqua Dwipayana”. Sehingga saya yang menyetir mobil langsung menepi.
Membaca WA Pak Aqua. dimaksud. Pesannya, “Siap PAK IRFAN. Apa bantuan yang dibutuhkan AZRA dan berapa lama transit di Bandara Soetta? Bagaimana rencananya?”
Kemudian Pak Aqua minta dikirimkan nomor telefon genggam Azra dan foto boarding passnya. Beliau memberitahukan akan meminta tolong temannya di Lion Air Group untuk membantu Azra.
Bila bersedia akan diantarkan ke lounge Batik Air untuk menunggu hingga waktu keberangkatan ke Banjarmasin.
Saya respon semuanya sambil mengirimkan seluruh permintaan Pak Aqua. Sembari menyampaikan terima kasih dan memberitahukan bahwa istri saya menjadi tenang, tidak khawatir lagi.
Setelah memonitor perjalanan pesawat yang ditumpangi Azra melalui aplikasi radar dan mengetahui bahwa pesawat sudah mendarat di Bandara Soetta, tidak lama kemudian Azra memberitahu dia ditelefon seorang petugas Lion Air Group.
“Ada apa Yah?” Tanya Azra terheran. Saya menjawab agar nanti diikuti saja semua disampaikan petugas tersebut.
Beberapa saat kemudian Azra mengirim foto sedang berada di lounge Batik Air. Dengan nada surprise dia mengatakan, “Kok saya seperti orang penting dan orang kaya di sini”.
Saya senang ketika mendengar berita itu dari Azra. Sambil bercanda saya mengatakan di situ all you can eat lho, karena teringat dia hobi makan dan belum pernah masuk lounge saat bepergian melalui Bandara. Penyebabnya kami sering berangkat sekeluarga yang berjumlah lima orang.
Tentu harus mengeluarkan biaya tambahan yang jumlahnya tidak sedikit bila harus masuk lounge.
Di mobil, Muhammad Azka Fayyadha Irfani, anak kedua saya bertanya. “Kok bisa Kak Azra dijemput petugas dan diantar untuk menunggu di lounge dan bebas makan di sana?” Spontan bunda Maryamnya menjawab, “Itulah dahsyatnya silaturahim”.
Ingin Menerapkan Tiga Ilmu
Lalu saya jelaskan kepada Azka dan Azza kronologinya serta menceritakan kebiasaan Pak Aqua yang sering membantu banyak orang dengan ikhlas.
Terrmasuk secara finansial bila dihitung sangat besar dana yang telah dikeluarkan Pak Aqua untuk membiayai ratusan jamaah umrah, memfasilitasi reuni Cowas JP di Yogyakarta, mengajak puluhan panitia dan keluarganya jalan-jalan ke Bali, seeta banyak kegiatan lainnya.
Hari itu kembali saya mendapatkan bukti dahsyatnya manfaat bersilaturahim. Juga selama berkomunikasi lewat WA dengan Pak Aqua ada hal menarik yang merupakan ilmu yang insya ALLAH saya terapkan.
Ilmu ini baru terungkap kembali karena sudah lama tidak chating panjang dengan pak Aqua, sejak sekitar 3-4 tahun yang lalu.
Waktu itu tiba-tiba saya menerima WA dari Pak Aqua yang menyampaikan rencana beliau berkunjung ke kantor saya. Karena secara teknis saat itu saya masih berada di luar kantor dan waktu yang terbatas, akhirnya kami berjumpa di parkiran sebuah hotel di sekitar kampus Universitas Negeri Yogyakarta daerah Gejayan Yogyakarta.
Setelah berbincang beliau menyerahkan dua buku karyanya. Judul lengkapnya saya lupa karena kedua buku tersebut dipinjam, yang saya tidak ingat peminjamnya.
Kedua buku tersebut saya tempatkan di ruang tamu. Setiap ada tamu yang kemudian memegang buku itu, saya jelaskan secara singkat tentang isi bukunya dan profil penulisnya. Saya selalu mempersilakan untuk meminjam dan membawa pulang bagi yang berminat membacanya.
Kebiasaan itu membuat saya tidak pernah mengingat-ingat siapa yang meminjam buku-buku saya. Hanya saya berkeyakinan bahwa dimanapun buku itu insya ALLAH mendatangkan manfaat dan keberkahan bagi yang membacanya dan penulisnya.
Kembali kepada ilmu yang saya dapat saat chating dengan Pak Aqua, adalah setiap mengakhiri tulisan beliau, maka selalu diakhiri dengan kalimat, “Terima kasih banyak PAK IRFAN”. Dari kalimat itu setidakmya ada tiga ilmu yang ingin saya terapkan:
1. Selalu mengucapkan terima kasih banyak. Padahal dalam posisi kemarin justru beliau yang membantu kami sekeluarga. Namun Pak Aqua yang mengucapkan terima kasih. “Terima kasih” itu salah satu kata ajaib dalam menjalin komunikasi dan silaturahim dengan orang lain.
2. Penyebutan nama lawan bicara yang saya rasakan adalah munculnya rasa kedekatan Pak Aqua terhadap saya.
3. Penulisan nama dengan huruf kapital, menunjukkan bahwa adanya atensi atau perhatian yang sungguh besar dan penghormatan kepada saya. Karena kalau dari sisi teknis penulisan huruf kapital kan harus menekan capslock terlebih dahulu yang menambah ribet.
Semua itu sebagai bukti nyata menunjukkan kesungguhan dan ketulusan Pak Aqua selama ini dalam bersilaturahim. Beliau konsisten melakukannya.
Hanya terima kasih yang dapat saya ucapkan atas semua bantuan dan ilmu yang diberikan Pak Aqua. Diiringi doa yang tulus semoga beliau sekeluarga selalu sehat dan terus menebar kebaikan ke seantaro negeri dan mancanegara.
M Irfan Islami
Penulis adalah Sales Manager Asuransi Syariah Takaful Yogyakarta
