Home Opini Saat Mereka yang Menyakiti Menghubungi

Saat Mereka yang Menyakiti Menghubungi

by Slyika

Pengalaman adalah guru yang terbaik. Untuk itu selalulah belajar dari pengalaman. Manfaatnya banyak sekali, baik buat diri sendiri maupun orang lain.

Terkait itu, saya punya pengalaman menarik. Sudah terjadi berkali-kali. Hal itu membuat saya lebih hati-hati, waspada, dan mawas diri.

Pengalaman tersebut adalah mereka yang pernah menyakiti saya termasuk ingkar sama janjinya, atas “perintah” TUHAN, menghubungi saya. Alasan mereka berkomunikasi dengan saya beragam.

Saya yakin sekali bahwa TUHAN yang “mengetuk” hati dan pikiran mereka. Sehingga meski pernah menyakiti, dengan menekan rasa malu yang mendalam pada dirinya berusaha menghubungi saya.

Ketika mereka menghubungi, saya bisa membayangkan gejolak yang terjadi pada diri mereka. Berkomunikasi dengan orang yang pernah disakiti. Perasaannya pasti campur aduk, seperti “gado-gado”.

Pasti ada perasaan bersalah. Juga merasa malu. Semuanya jadi satu.

Umumnya mereka terpaksa menghubungi karena membutuhkan bantuan. Mungkin sudah mencoba kontak orang lain untuk tujuan yang sama, namun tidak berhasil. Akhirnya mengontak saya.

Permohonan Maaf
Biasanya mereka yang berjiwa besar, lebih dulu menyampaikan permohonan maaf atas semua kesalahannya.

Diiringi rasa penyesalan yang mendalam karena telah berbuat negatif kepada saya. Kemudian berjanji tidak akan mengulanginya lagi.

Setelah itu baru menyampaikan maksud dan tujuannya kepada saya. Biasanya minta tolong sesuatu kepada saya.

Sedangkan mereka yang tidak berjiwa besar, saat menghubungi saya, kesannya seperti tidak pernah terjadi apa-apa pada kami.

Lupa atas semua perbuatannya yang pernah menyakiti termasuk ingkar janji kepada saya.

Saat mengawali komunikasi, baik lewat telefon maupun WhatsApp (WA) call, tidak pakai basa-basi, langsung ke inti pembicaraan.

Maksud dan tujuannya sama. Meminta tolong sesuatu kepada saya.

Kualitas Diri Mereka Rendah
Menyikapi mereka, saya biasa-biasa saja. Kepada yang meminta maaf, saya sampaikan sudah memaafkannya begitu mereka berbuat salah.

Saya tidak mau menyakiti diri sendiri dengan menyimpan “sampah-sampah” dalam hati dan pikiran saya. Disertai pesan agar tidak mengulangi kesalahan serupa.

Sedangkan mereka yang sama sekali tidak minta maaf atas kesalahannya, saya biarkan saja. Paling tidak, pelajaran berharga yang saya peroleh semakin mengetahui rendahnya kualitas diri mereka.

Pelajaran sangat berharga yang saya dapatkan adalah begitu TUHAN berkehendak, apapun bisa terjadi.

Salah satunya “menggerakkan” hati dan pikiran orang yang pernah menyakiti untuk kembali menjalin silaturahim. Setelah terputus sekian lama karena ulah mereka.

Di sisi lain, saya menjadi “plong” karena akhirnya bisa berkomunikasi kembali dengan mereka. Para sahabat yang telah lama “hilang” dan “menghilang” karena khilaf.

Semoga semua pelajaran dan pengalaman berharga itu membuat semakin banyak orang yang berjiwa besar.

Dengan serius dan sungguh-sungguh serta penuh penyesalan Mlminta maaf atas semua kesalahannya. Aamiin ya robbal aalamiin…

Dalam perjalanan dari Bandara Soekarno-Hatta Tangerang menuju Bogor, saya ucapkan selamat berusaha untuk tidak menyakiti sesama dan berjiwa besar. Salam hormat buat keluarga.

Dr Aqua Dwipayana
Pakar Komunikasi dan Motivator Nasional

 

You may also like

Leave a Comment