JAKARTA – Majelis Pimpinan Wilayah Pemuda Pancasila (MPW-PP) Provinsi DKI Jakarta menggelar seminar bertajuk ‘Tantangan Politik Indonesia di Masa Depan’.
Diskusi diinisiasi Bidang Pendidikan Sumber daya Manusia, Pariwisata dan Seni Budaya MPW PP DKI, berlangsung di Grand Kemang Hotel, Jakarta, Sabtu (12/8/23).
Diskusi ini digelar dalam rangkaian menyambut peringatan HUT Kemerdekaan Republik Indonesia ke-78 dan juga sebagai bentuk sumbangsih dan pengabdian kepada bangsa yang menghadirkan pembicara utama DR Wahyu Prasetyawan, dosen jurusan Manajemen Dakwah Fakultas Dakwah dan Ilmu Komunikasi UIN Syarif Hidayatullah Jakarta.
Acara dibuka Ketua MPW PP DKI Jakarta Ilyas Abdullah dan dihadiri Ahmad Ridwan desk Pemilu 2024 MPN PP, Sekretaris MPO MPW Ali Umar.
Kemudian wakil ketua, ketua/sekretaris bidang, ketua badan dan lembaga PP, caleg dan anggota serta kader di wilayah DKI Jakarta.
Ketua MPW PP DKI Jakarta Ayas Abdullah mengatakan, politik adalah hal yang berkaitan dengan penyelenggara publik, pemerintah dan negara.
“Semoga seminar ini memberikan manfaat pendidikan politik bagu masyarakat, khusus para caleg dari MPW DKI, karena pendidikan politik bagi masyarakat sangatlah penting, selain untuk mengubah pola pikir, juga untuk meningkatkan partisipasi masyarakat. Terlebih menjelang pelaksanaan PEMILU pada 2024 mendatang,” ujar Ayas Abdullah.
“Mari sama-sama kita serap apa yang dipaparkan oleh Prof. Wahyu, semoga menjadi ilmu yang bermanfaat bagi kita semua,” tambahnya.
Dalam paparannya, Profesor Wahyu menjelaskan perkembangan dari politik identitas ke arah populisme sangat bergantung pada bagaimana pemerintah mengelola pertumbuhan ekonomi.
Di Indonesia, pertumbuhan ekonomi sejak 2014 hingga 2017 mengalami peningkatan dari 5 persen menjadi 5,2 persen.
Meski ada pertumbuhan, kondisi ini disebut masih terbilang tidak terlalu baik.
Kesenjangan ekonomi rakyat pada level akar rumput juga masih perlu diperhatikan.
Mereka masih bergelut dengan persoalan pengangguran, pendapatan rendah, daya beli rendah, dan buruknya pelayanan publik.
Kemudian peran media sosial yang digunakan sebagai saluran informasi alternatif dan disinformasi. Media sosial terbukti menjadi ruang publik alternatif bagi media arus utama.
“Demokrasi yang sehat memerlukan ruang publik, termasuk yang digital, sebagai saluran informasi yang setara dan tidak dimonopoli oleh satu pihak tertentu,” papar Wahyu yang juga visiting assistant professor di Graduate National Institute for Policy Studies (GRIPS), Tokyo, Jepang.
Ketua Bidang Pendidikan Sumber Daya Manusia, Pariwisata dan Seni Budaya MPW PP Denny Wardhana mengatakan, acara ini digelar untuk pembekalan pengetahuan politik bakal calon anggota legislatif yang juga anggota Pemuda Pancasila DKI Jakarta.
“Ini sekedar pengetahuan politik, yang dapat MPW berikan kepada bacaleg PP. Sebelumnya ada permintaan dari teman-teman bacaleg, nah kita penuhi dengan menghadirkan pakar ekonomi politik dari UIN. Setelah acara ini kita akan ada pembekalan lebih lanjut dari pengurus pusat,” ungkap Denny.
“Total Bacaleg PP DKI ada dua puluh delapan orang. Saya berdoa mudah-mudahan lebih dari 50 persennya terpilih menjadi anggota dewan,” tambah Denny.
Sekretaris Umum MPW PP DKI Arudi mengingatkan berbagai tantangan Bacaleg yang menjadi perwakilan Pemuda Pancasila di masa depan.
“Kedepannya kita bangun komitmen teman-teman MPW untuk fokus membangun Indonesia lebih maju,” ujarnya.
“Saya juga berharap acara ini dapat lebih di tindaklanjuti dengan kerja keras, kerja cerdas, kerja nyata dengan hasil-hasil yang bisa dinikmati masyarakat agar kedepannya kita lebih semangat dan sukses,” tambahnya.
Dari paparan materi ekonomi politik yang diberikan Dr Wahyu, Arudi berharap bacaleg PP mendapatkan pengetahuan pemahaman bagaimana Indonesia di masa depan.
“Apabila nanti mendapatkan amanah dan jika terpilih menjadi wakil rakyat, para kader dapat menjalankan aspirasi rakyat yang memilihnya, jangan sampai setelah terpilih meninggalkan kewajibannya dan juga mengabaikan rakyat yang telah memilihnya,” ujarnya.
Menurut Arudi nilai-nilai dasar Pemuda Pancasila ada di mana-mana dan tetap di mana- mana, utuh dalam koridor Pemuda Pancasila.
“Pemuda Pancasila DKI siap dimana- mana tapi tidak kemana-mana untuk menjunjung tinggi harkat dan martabat Pemuda Pancasila,” ungkap Arudi.
Acara dimoderatori Berlian Benyamina Rungkat B.BA, S.Sos yang juga Bacaleg DPR-RI Partai Golkar Dapil DKI Jakarta 3 (Jakarta Barat, Jakarta Utara, Kepulauan Seribu).
Menurut Berlian pentingnya memahami tantangan politik Indonesia Pasca Reformasi yang rentan dengan berita hoakx yang menyesatkan dan menyebabkan perpecahan anak bangsa.
Pemilihan umum 2019 berlangsung keras dan berdarah-darah dengan meninggikan kelompoknya dan menghujat, memfitnah dan mengeluarkan ujaran kebencian kepada lawannya yang dipertontonkan di ruang publik.
“Hal tersebut merusak akal sehat, melanggar keamanan dan degradasi moral bangsa. Sekarang yang kita persiapkan adalah memilih pemimpin yg cerdas di Pemilu 2024, karena Indonesia di tahun 2025 memasuki masa bonus demografi dan pada tahun 2045 memasuki tahun Indonesia Emas (100 tahun Indonesia Merdeka),” paparnya.
