JAKARTA – Grand Final ajang Generasi Budaya Indonesia Top Model 2025 garapan Yayasan Pembina Model Indonesia (YAPMI) di TMII, Jakarta, mempertemukan para finalis muda dari berbagai daerah.
Mereka tampil dengan karakter yang kuat, memperlihatkan bahwa generasi baru mode tak sekadar mengejar gelar, tetapi juga membawa pesan tentang bagaimana budaya bisa tetap hidup di tangan anak muda.
Dari seluruh finalis, beberapa nama mencuri perhatian juri lewat konsistensi dan cara mereka menghadirkan unsur budaya tanpa terlihat dipaksakan.
Muhammad Adri Alfarizi, perwakilan DKI Jakarta, akhirnya keluar sebagai pemenang kategori maskot.
Ia tampil stabil sejak penyisihan dan tak sekali pun kehilangan fokus saat babak penentuan.
“Yang saya bawa di panggung itu sederhana: budaya harus dibicarakan dengan cara yang relevan untuk generasi saya,” ujar Adri usai penobatan.
Para finalis lain tampil dalam ritme yang menunjukkan perubahan cara pandang terhadap kompetisi mode.
Mereka memadukan teknik runway, storytelling, dan elemen visual yang membuat budaya tampak hidup, bukan hanya aksesori.
“Kami ingin membuktikan bahwa budaya itu bisa dibawa dengan gaya yang modern, selama niatnya bukan memotong makna,” tutur salah satu finalis putri.
Ketua penyelenggara YAPMI menilai para peserta tahun ini lebih berani mengambil interpretasi.
Menurutnya, keberanian itu penting agar generasi muda tidak lagi hanya menjadi penonton acara budaya.
“Kami melihat pola baru. Anak-anak muda ini tidak takut bereksperimen, tapi tetap menghargai konteks. Itu yang kami cari,” ujarnya.
Penampilan para juara pada malam final mempertegas pesan bahwa YAPMI bukan sekadar panggung kompetisi, melainkan ruang bertemunya tradisi dan kreativitas.
Dengan gaya yang bersih dan komunikasi panggung yang matang, para pemenang dianggap berhasil menyampaikan bahwa budaya tidak perlu dipertontonkan secara kaku.
Mereka menunjukkan versi yang lebih lentur, lebih mudah diakses, dan lebih dekat dengan generasi yang akan mewarisinya.
Pemenang Juara Top Model YAPMI. 2025
1. Muhammad Adri Alfarizi – Juara Maskot (DKI Jakarta)
Adri tampil menonjol dengan kontrol ekspresi yang stabil sejak sesi penyisihan. Ia menggabungkan gestur yang rapi dan interpretasi budaya tanpa kesan berlebihan.
Kepada jurnalis, Adri mengatakan ia hanya ingin menunjukkan bahwa budaya dapat dibawa dengan cara yang lebih dekat dengan bahasa generasi saya.
Konsistensi itu menjadi alasan utama dewan juri menempatkannya di posisi puncak kategori maskot.
2. Finalis Putri Kategori Budaya – Juara Utama
Finalis putri ini mencuri perhatian melalui pembawaan panggung yang bersih dan kemampuan mengolah busana bernuansa tradisi menjadi visual yang modern.
Ia menyebut bahwa tampil di panggung YAPMI memberinya ruang untuk “membuktikan bahwa budaya tidak harus diperlakukan sebagai pajangan.”
Juri menilai keberaniannya mengambil risiko justru membuat penampilannya terasa segar.
3. Pemenang Kategori Remaja – Interpretasi Budaya Terbaik
Di kategori remaja, pemenang ini menunjukkan kefasihan dalam menyelaraskan langkah runway dengan narasi visual yang ia bangun.
Ia tampil lepas namun tetap menjaga struktur.
“Kami ingin budaya itu punya ruang di masa depan, bukan hanya di museum,” ujarnya.
Penilaian juri menyoroti kemampuannya menjaga ritme penampilan tanpa kehilangan pesan.
4. Pemenang Kategori Busana Daerah – Eksekusi Panggung Terkuat
Peserta ini memenangkan kategori busana daerah karena keberhasilannya menghidupkan detail kostum lewat gestur yang tepat.
Penonton menyambutnya dengan tepuk tangan panjang ketika ia menyelesaikan putaran akhir.
Kepada panitia, ia berkata, “Saya hanya berusaha membuat penonton merasa budaya itu dekat, bukan formalitas.”
Eksekusinya dinilai paling matang pada malam final.
