Belajar dari Anies Baswedan itu sederhana. Bukan tentang kecerdasan dan prestasi kepemimpinannya semata.
Paling fundamental sekaligus prinsipil adalah kesabaran dan keikhlasan dalam semua pengabdiannya, terutama ketika banyak pejabat publik mengalami kelangkaan subsidi Ketuhanan dan kemanusiaan.
Maa syaa Allah, barakallahu fiik. Yaumil milad Anies Rasyid Baswedan.
Kemarin, 7 Mei, tepatnya 57 tahun yang lalu. Pasangan Rasyid Baswedan seorang Dosen dan Aliyah Rasyid seorang Guru Besar mendapat anugerah berupa kelahiran seorang putra istimewa bernama Anies Rasyid Baswedan.
Cucu dari H. Abdurahman Baswedan (A.R Baswedan) seorang yang diakui negara sebagai pahlawan nasional dan pendiri Partai Arab Indonesia (PAI).
Anies Baswedan jelas terbukti mewarisi mental dan karakter pejuang seperti kakeknya, dan intelektual pemikir dari ayah ibunya.
Begitu juga terhadap putra-putrinya, Anies Baswedan tak luput memberikan warisan pendidikan yang tak lekang oleh zaman.
Dari Mutiara Annisa, Mikail Azizi, Kaisar Hakam, dan Ismail Hakim, mengalir rekam jejak seperti mengikuti arus trah dan sejarah keluarga Baswedan yang membanggakan.
Sejatinya Anies Baswedan lahir, tumbuh dewasa, dan terbentuk dari generasi ke generasi yang menjaga sekaligus merawat tradisi keilmuan, keadaban, dan ketaqwaan hidup.
Itu semua dimanifestasikan sebagai pengabdian pada negara.
Jika Kusno kecil yang kemudian dikenal sebagai Soekarno, lahir laksana Putra Sang Fajar di awal abad 19 yang menjadi salah satu figur penting kemerdekaan Indonesia dari kolonialisme dan imperialisme lama.
Maka Anies Baswedan layak disebut pemimpin perubahan dan perbaikan yang ikut berkontribusi membebaskan Indonesia dari kegelapan akibat kolonialisme dan imperialis modern.
Anies Baswedan, sepertinya tak bisa menghindari takdir Sang Penguasa Semesta Alam, Allah SWT, untuk terpanggil, terpilih, dan memegang amanat penderitaan rakyat.
Tak ubahnya dengan para pahlawan bangsa terdahulu yang memberikan segalanya (harta, darah, dan nyawa) untuk kemerdekaan Indonesia. Sebuah ikhtiar, tekad kuat, dan penyerahan diri pada sang Ilahi demi melepaskan rakyat dari belenggu penjajahan dan penindasan baik oleh bangsa asing maupun bangsanya sendiri.
Sekaligus mewujudkan cita-cita Proklamasi Kemerdekaan Indonesia dan keinginan luhur para pendiri bangsa, menghadirkan kemakmuran dan keadilan bagi semua anak bangsa, tanpa terkecuali.
Rangkaian perjalanan hidup yang sarat prestasi dari aspek akademis dan organisasi sejak muda.
Membuat Anies menjadi lebih dari sekadar seorang aktivis, politisi dan birokrat yang populis dan disegani.
Anies Baswedan juga telah mengukuhkan dirinya sebagai intelektual pembebasan, bukan intelektual pelacur apalagi kapitalis birokrat, atau bahkan sebagai pengkhianat bangsa yang menjadi komparador asing (baca: antek asing).
Pengayaan dirinya pada prinsip akhlakul karimah, membuat segala perilakunya yang meliputi pikiran, ucapan, dan tindakannya.
Senantiasa kental dengan aroma pengetahuan, keindahan dan pesona kata serta ketinggian adab.
Anies menjadi salah satu dari sedikit pemimpin yang kuat dalam wilayah konseptual dan praksis. Kebijakan lintas teori dan praktik tercermin lewat Indonesia Mengajar dan Aksi Bersama Anies Baswedan, meski tak berada dalam struktur pemerintahan.
Dalam birokrasi saat menjabat menteri dan gubernur, Anies Baswedan memberi contoh sekaligus cermin dalam hal yang fundamental selain kebermanfaatan, yakni bersih diri dari korupsi, kejahatan, dan termasuk kepalsuan ijazah pendidikannya.
Seorang Anies Baswedan tidaklah hidup di ruang hampa dan tidaklah tinggal di menara gading.
Pun, dengan pengabdian dan prestasinya yang diakui secara nasional dan internasional.
Anies Baswedan bagaikan hidup dalam samudera isu, intrik, dan fitnah.
Kerap menghadapi badai stereotif. Terbiasa menerima gelombang permusuhan dan kebencian.
Melewati perangkap yang berupaya menenggelamkan dirinya, berupa kriminalisasi dan pembunuhan karakter hingga fisik.
Semua hujan terpaan dan terjangan kedzoliman itu tak serta merta membuat Anies Baswedan reaksioner apalagi menghadapinya dengan emosional dan kemarahan lahir batin.
Anies Baswedan tetap menghadapinya dengan sikap keramahan yang hangat, dengan mengedepankan sopan santun penuh atitute, senyum yang selalu merekah penuh ketulusan, dan rasionalisasi yang edukatif dan inspiratif.
Rektor Universitas Paramadina periode 2007-2014 (dilantik pada 15 Mei 2007 dalam usia 37-38 tahun).
Menteri Pendidikan dan Kebudayaan periode 2014-2017 (dilantik dan berakhir 27 Juli 2014 -27 Juli 2017), hingga menjabat Gubernur Jakarta periode 2017-2022.
Telah menjadi pembuktian dan tak terbantahkan pada Anies Baswedan, bahwasanya pemimpin bisa mengabdi dan berprestasi tanpa larut dalam KKN, tensi tinggi arogansi dan menghidupkan eksistensi tirani.
Impresif dengan pendekatsn kesabaran dan keteladanan, Anies Baswedan menghadapi tantangan kepemimpinannya dengan nilai-nilai kejujuran, kebenaran, dan keadilan.
Lebih dari menjunjung etos kerja yang berbasis kapabilitas, akuntabilitas, dan transparansi.
Kepemimpinan Anies Baswedan yang identik dengan integritas itu, juga dilingkupi kecerdasan intelektual, emosional, dan spiritual yang masih terus memancar terang dan menyinari Indonesia di tengah kegelapan.
Anies Baswedan telah memberikan yang terbaik pada negara dan bangsa, dan masih memegang teguh keyakinan pada pengabdian tanpa titik akhir.
Di tengah serbuan konspirasi mewujud reduksi dan distorsi kekuasan yang terus meniadakan eksistensi, prestasi, dan figur kepemimpinannya.
Anies Baswedan senantiasa membangun benteng pertahanan sekaligus kekuatan berupa kesabaran dan keikhlasan sebagai rakyat dan sebagai pemimpin.
Anies Baswedan menyadari betapa menjadi pemimpin itu menderita.
Jalan kepemimpinan itu adalah jalan penderitaan.
Jalan yang menuntun pemimpin itu, terkadang mengorbankan dirinya demi kemaslahatan umat manusia.
Bukan jalan meraih kekayaan dan kesenangan duniawi.
Apalagi jalan yang membawa kemudharatan dan kesengsaraan hidup rakyat.
Seiring itu, Anies Baswedan benar-benar menangkap makna seutuhnya dari pepatah “Setiap orang ada zamannya dan setiap zaman ada orangnya”.
Begitupula dengan “Setiap pemimpin ada masanya dan setiap masa ada pemimpinnya”.
Maka pengabdian Anies Baswedan dalam bingkai kesabaran dan keikhlasan itu menjadi semakin bertambah kedewasaan sekaligus kematangan dirinya.
Bukan, bukan sekadar bertambah atau berkurangnya umur. Menjadi sehat dan panjang umurnya.
Bukan juga soal dihinggapi ujian penyakit dan menjemput kematian. Ini soal apa yang bisa dilakukan sepanjang umur.
Menjalankan umur yang menghamba sekaligus mengabdi pada Ilahi.
Umur yang berasal dan kembali kepada Tuhannya. Umur yang seharusnya terukur dari logika dan transendental.
Anies Baswedan telah menginsyafi, hidup adalah pilihan, apakah memilih berbuat yang hak atau yang batil.
Kesadaran krisis dan kesadaran makna pada Anies Baswedan telah membawanya pada jalan Ketuhanan dan kemanusiaan yang hakiki.
Menentukan pilihan atau keseimbangan yang bijak, antara kesadaran ideal spiritual dan kesadaran rasional material.
Sebagaimana ayat Alquran yang artinya :
“Manusia yang paling mulia adalah manusia yang paling bertaqwa”, dan berdampingan dengan Hadist yang memberi motivasi : “Sebaik-baik manusia adalah yang paling banyak memberi manfaat pada sesama manusia”.
Atau meminjam salah satu frasa Bung Karno yang menggelitik, “Tuhan bersemayam di gubuk si miskin, Tidak ada pengabdian pada Ketuhanan tanpa pengabdian pada kemanusiaan”.
Dari Soekarno Putra Sang Fajar, dan boleh jadi Anies Baswedan Pemimpin Perubahan dan Perbaikan itu, bisa juga belajar dan mengambil hikmah dari Proklamator Kemerdekaan RI dan Pemimpin Besar Revolusi itu.
Sekali lagi, yaumil milad, maa syaa Allah barakallahu fiikum Anies Baswedan.
Perjalanan hidup seorang pemimpin hingga usia ke-57, dan in syaa Allah panjang umur dalam keadaban, kebermanfaatan,dan keberkahan untuk rakyat, negara dan bangsa Indonesia.
Anies Baswedan dan umur yang terukur.
Aamiin yaaa rabbal aa’laamiin
Yusuf Blegur, Penulis Pengamat Politik Nasional
Redaktur: Abdul Halim
