MENCINTAI Rasulullah SAW, juga harus mencintai keluarganya, sahabatnya, keturunannya (dzuriyah) sampai pada mencintai umatnya.
Kepada putri tercintanya, Sayidatuna Siti Fatimah Az-Zahra, umat Islam juga harus mencintainya.
BERKISAH tentang Sayidatuna SIti Fatimah Az-Zahra, pasti tak mampu menahan bendungan air mata.
Hidupnya sangat sederhana, meskipun putri seorang nabi. Beliau tak lantas jumawa, apalagi harus menjadi besar karena keturunannya.
KETIKA ditinggal wafat ibundanya, Siti Khadijah Al Kubro, beliau ikut membantu dakwah Rasulullah SAW karena cintanya.
Melihat langsung bagaimana kaum Quraisy menyakiti dari mulai ucapan hingga tekanan fisik kepada Sang Ayah yang sangat penyabar.
Kerap kali, Sayidatuna Siti Fatimah menangis tak kuasa melihat intimidasi.
Tetapi, Rasulullah SAW tetap membesarkan hati putrinya yang wajahnya paling mirip dengan Baginda Nabi Besar Muhammad SAW.
SAYIDATUNA Fatimah mendapatkan julukan Az Zahra yang berarti bunga, bercahaya, berkilau. Meskipun merupakan anak dari pemimpin tertinggi Islam, namun kepribadiannya begitu sederhana.
Bahkan, Rasulullah SAW pernah berkata bahwa Fatimah merupakan bidadari yang menyerupai manusia.
SUATU hari, Sayidatuna Fatimah dihampiri oleh Abdurrahman bin Auf yang mengabarkan bahwa Rasulullah SAW sedang menangis setelah menerima wahyu dari Malaikat Jibril.
Abdurrahman datang ke sana karena mengetahui bahwa satu hal yang bisa membuat beliau bahagia adalah dengan melihat putrinya itu.
DICERITAKAN dalam kitab al-Aqthaf ad-Daniyyah melalui riwayat Umar bin Khattab, setelah mendengar kabar itu, Fatimah Az Zahra berkata, “Baik. Tolong menyingkirlah sejenak hingga aku selesai ganti pakaian.”
KEDUANYA lalu berangkat ke tempat Rasulullah SAW. Beliau menyelimuti tubuhnya hanya dengan pakaian yang usang, ada 12 jahitan di dalam lembar kain tersebut.
Juga serpihan dedaunan kurma yang tampak menempel di sela-selanya.
SAYYIDINA Umar bin Khattab menepuk kepala ketika melihat penampilan Fatimah sambil berkata dalam artian bebas.
“Betapa nelangsa putri Muhammad SAW. Para putri kaisar dan raja mengenakan sutra-sutra halus sementara Fatimah anak perempuan utusan Allah SWT puas dengan selimut bulu dengan 12 jahitan dan dedaunan kurma.”
KEMUDIAN berkata, “Ya Rasulullah, tahukah bahwa Umar terheran-heran dengan pakaianku? Demi Dzat yang mengutusmu dengan kemuliaan, aku dan Ali (Ali bin Abi Thalib, suaminya) selama lima tahun tak pernah menggunakan kasur kecuali kulit kambing.”
KELUARGANYA juga memakai kulit kambing tersebut hanya di waktu malam hari.
Sementara pada siang hari, kulit tersebut berubah fungsinya menjadi tempat makan unta. Bantal mereka juga hanya terbuat dari kulit yang berisi serpihan dedaunan kurma.
SETELAH mendengarkan ucapan dari Fatimah Az Zahra, Rasulullah SAW kemudian berkata kepada Umar: “Wahai Umar, tinggalkan putriku. Mungkin Fathimah sedang menjadi kuda pacu yang unggul (al-khailus sabiq),” katanya kepada sahabatnya.
MAKSUD dari kata kuda pacu tersebut sebenarnya merujuk pada pengertian mengenai keutamaan sikap Fatimah yang mengungguli seluruh putri-putri raja lainnya. “Tebusanmu (wahai Ayah) adalah diriku,” sahut Fatimah.
SEBENARNYA, dengan kedudukan dan kharisma luar biasa dari ayahnya, Fatimah bisa memperoleh apa saja yang dia inginkan.
Akan tetapi, beliau telah mewarisi kepribadian Rasulullah SAW yang bersahaja.
Rasulullah SAW bersabda: “Pemuka perempuan ahli surga ada empat: Maryam binti Imran, Fatimah binti Rasulullah SAW, Khadijah binti Khuwailid, dan Asiyah.” (HR Muslim).
KISAH Fatimah Az Zahra yang menerima kebenaran wahyu Allah SWT pada usia lima tahun, sudah seharusnya menjadi inspirasi.
Keunggulan sifat dan karakter tersebut seolah melengkapi kecantikan Fatimah yang bersinar. Wajahya kerap digambarkan berkulit putih dengan pipi kemerahan.
DALAM penanggalan hijriah, 20 Jumadil Akhir adalah kelahirannya (Harlah) atau bersamaan pada Ahad, 23 Januari 2022.
Mabruk alfa mabruk, alaiki mabruk. Mabruk alfa mabruk, yaumiladuki mabruk, duhai putri Rasulullah SAW, kebanggaan umat Islam. Kami semua mencintaimu. Teruntuk Fatimah Al Batul (Suci), Alfatikha.
MOHON maaf lahir dan bathin. Semoga bermanfaat. Wallahu’alam
Nucholis Qadafi
Penceramah, Usahawan dan Jurnalis
