“Dalam hidup tidak ada yang tidak mungkin. Mereka yang selalu bekerja ikhlas hanya mengharapkan balasan dari ALLAH SWT. Makasih banyak.”
Demikian pesan yang Senin pagi (27/12/21) saya kirimkan kepada seorang teman. Sebagai tanggapan atas komentarnya mengenai kalimat bijak yang saya kirim ke ribuan anggota Komunitas Komunikasi Jari Tangan.
Sekitar pukul 03.00 dini hari, di saat sebagian orang masih tidur nyenyak, bahkan mungkin ada yang lagi bermimpi, di mobil dalam perjalanan dari rumah Bogor, Jawa Barat, ke Bandara Soekarno-Hatta Tangerang, Banten, saya mengirimkan kalimat bijak kepada ribuan anggota Komunitas Komunikasi Jari Tangan.
Isi kalimat bijak tersebut adalah “Menyemangati tenaga kesehatan tidak harus memberi mereka uang. Cukup dengan apresiasi yang tulus ikhlas, mereka sudah senang.”
Langsung puluhan respon saya terima. Sebagian besar memberikan tanggapan positif. Sebagai apresiasi yang tinggi kepada para tenaga kesehatan (nakes) yang merupakan patriot bangsa.
Hanya seorang saja yang berkomentar berbeda. Isi tanggapannya adalah sebagai berikut. “Ya ndak mungkin…nyata Anggrn C19…terserap honor Nakes,,…~900T. Diantaranya utk nakes bahkan ada yg doble..temuan BPK.”
Cerminan Dirinya
Setelah membaca tanggapan saya di atas (alinea pertama), dia merespon dengan menulis. “Ya pekerja sosial pak.”
Kemudian saya menanggapi dengan mengatakan, “Saran saya agar jangan selalu menyamakan semua manusia dengan diri kita. Masih banyak di muka bumi ini orang yang berhati mulia. Bekerja hanya mengharapkan balasan dari ALLAH SWT. Makasih banyak.”
Komunikasi di atas pagi ini hanya satu dari banyak contoh berkomunikasi melalui media sosial. Setiap hari, banyak orang saling “berbalas pantun” lewat media seperti ini.
Apa yang disampaikan seseorang termasuk memberikan komentar adalah cerminan tentang dirinya. Mereka yang selalu melihat sesuatu dari sudut pandang yang baik, biasanya menanggapi sesuatu dengan positif.
Sebelum menulis dan mengirimkan tanggapannya lebih dulu berpikir reaksi orang lain yang menerima dan membaca pesan tersebut.
Sebaliknya kalau dalam dirinya didominasi pada hal-hal yang kurang baik, selalu melihat yang salah dari seseorang atau sekelompok orang maka komentarnya cenderung negatif. Baginya tanggapan yang disampaikan adalah yang paling benar.
Selain itu kecenderungannya berpikir orang lain sama dengan dirinya. Menyamaratakan semua orang. Padahal realitanya tidak seperti itu.
Kelancaran Berkomunikasi
Belajar dari pengalaman di atas, biasakanlah mengedepankan hal-hal yang positif dalam hidup, termasuk saat memberikan komentar. Hal ini sangat penting karena menyangkut penilaian orang pada dirinya.
Berkomentar positif sama sekali tidak ada ruginya. Sedangkan untungnya banyak sekali termasuk buat diri sendiri dan orang lain. Memberikan kenyamanan dan kelancaran dalam berkomunikasi.
Sebaliknya jika selalu memberikan tanggapan negatif, akan merugikan diri sendiri dan orang lain. Cepat atau lambat rezekinya akan berkurang karena sikapnya tidak menjaga hubungan baik dengan orang lain.
Jika itu sampai terjadi paling merasa rugi adalah dirinya dan orang di sekitarnya. Biasanya setelah terjadi baru timbul penyesalan atas hal negatif tersebut.
Sebelum terlambat, biasakanlah untuk selalu berpikir positif. Sehingga rezekinya banyak yang terus mengalir dan hidupnya selalu nyaman. Aamiin ya robbal aalamiin…
Dari Bandara Soekarno-Hatta Tangerang, Banten, saya ucapkan selamat membiasakan diri berpikir dulu baru berkomentar, agar tidak timbul penyesalan. Salam hormat buat keluarga.
Dr Aqua Dwipayana
Pakar Komunikasi dan Motivator Nasional.
