SAYA ikut mengingat bahwa setiap tanggal 30 September bagi bangsa Indonesia dicatat sebagai Hari Berkabung Nasional akibat terjadinya peristiwa yang dikenal sebagai G 30 S/PKI.
Namun di sisi lain, tanggal 30 September merupakan hari yang penting dan bersejarah bagi Dr Aqua Dwipayana. Tepat 17 tahun lalu pada 30 September 2005, dengan penuh keyakinan dan mantap mengambil keputusan untuk berhenti bekerja sebagai karyawan. Setelah 17 tahun jadi pegawai di enam perusahaan yang berbeda. Beralih menjadi manusia merdeka yang hanya memiliki TUHAN sebagai satu-satunya atasan beliau.
Kedua peristiwa itu tepat berselang 40 tahun, apakah sudah dirancang oleh Pak Aqua? Tentu hanya beliau yang paham.
Saya ingat ketika beliau akan mengambil keputusan tersebut, PakAqua melakukan komunikasi dengan keluarganya. Istrinya Ibu Retno Setiasih serta kedua anak mereka yakni Alira Vania Putri Dwipayana yang saat itu berusia sembilan tahun dan Savero “Ero” Karamiveta Dwipayana yang berumur enam tahun.
Menjadi manusia merdeka sejatinya adalah keinginan setiap orang yang bekerja pada instansi yang memiliki struktur atasan dan bawahan. Dengan menjadi manusia bebas maka terhindar dari perintah-perintah yang datang baik dari atasan langsung maupun atasan dari atasan langsung dan yang lainnya.
Tentu seperti yang pernah saya tulis, dengan meminjam istilah yang sudah lazim dipakai di kalangan masyarakat “Dilarang melakukan apabila bukan profesional”. Karena untuk mengambil keputusan mundur dari sebuah pekerjaan, apalagi posisi Pak Aqua saat itu cukup strategis dengan penghasilan yang lumayan.
Kini 17 tahun sudah Pakar Komunikasi dan Motivator Nasional itu menjalani sebagai manusia merdeka. Alhamdulillah, karena dengan perhitungan yang sangat matang dan rasa yakin atas ridho ALLAH SWT maka kiprahnya semakin luar biasa.
Pak Aqua telah memotivasi jutaan orang, baik di dalam maupun di luar negeri, lebih kreatif dan produktif menulis buku sehingga banyak yang masuk kategori super best seller terutama buku Trilogi The Power of Silaturahim.
Tidak kalah pentingnya, motivator laris ini telah memberangkatkan orang-orang yang beruntung untuk melaksanakan ibadah umroh ke Baitulloh secara berjilid-jilid, seperti menulis buku saja. Banyak teman akrabnya yang mendukung program ini sebagai donatur tetap.
Di samping itu, kekhawatiran teman/sahabat/orang lain bahwa paska mengundurkan diri, bakalan tidak ada lagi yang memperdulikan, itu sama sekali tidak terbukti. Bahkan kuantitas dan kualitas persahabatannya makin meningkat.
Dari waktu ke waktu semakin banyak temannya yang latar belakangnya beragam. Dengan senang hati Pak Aqua dikenalkan ke orang-orang baru.
Semuanya senang dan bahagia berteman sama Pak Aqua. Mereka tidak terbebani, malah sebaliknya gembira karena mendapat banyak masukan dan bantuan. Itu sesuai dengan kebiasaannya sejak lama yang telah mendarah daging yakni lebih senang memberi daripada menerima.
Selain itu beliau tidak aji mumpung. Meski memiliki banyak teman yang sukses baik sebagai pengusaha maupun pimpinan perusahaan swasta dan Badan Usaha Milik Negara serta para kepala daerah.
Kenapa Pak Aqua bersikap seperti itu? Sebab beliau sangat yakin rezeki setiap orang termasuk dirinya sudah diatur oleh ALLAH SWT jauh sebelum alam semesta ini diciptakan TUHAN. Sehingga tidak perlu khawatir dengan hal tersebut.
Semua keyakinan itu membuat beliau sama sekali tidak ada sedikit pun keraguan saat memutuskan berhenti jadi pegawai. Malah mengawali jadi orang bebas merdeka sampai sekarang ini menjalaninya dengan penuh kegembiraan dan optimisme.
Saat ini saja, Pak Aqua nyaris jarang pulang ke rumahnya di Bogor. Terus bergerak keliling Indonesia terutama untuk silaturahim dan memenuhi undangan Sharing Komunikasi dan Motivasi dari berbagai pihak yang datang bertubi-tubi. Pandemi Covid-19 tidak menghalanginya untuk melaksanakan aktivitas mulia itu.
Sebelum pandemi Covid-19 bahkan sering melakukan kegiatan serupa di mancanegara. Sudah 34 negara dikunjunginya.
Sejak beberapa tahun terakhir, sebagian besar waktunya didedikasikan buat kegiatan sosial. Jumlahnya mencapai 90 persen, bahkan mungkin sudah lebih. Sedangkan 10 persen atau kurang dari itu untuk aktivitas yang lain-lain.
Pak Aqua juga telah meraih gelar akademik tertinggi, yakni Doktor bidang Komunikasi dari Universitas Padjadjaran Bandung pada 15 April 2016. Waktu itu banyak tamunya yang hadir dan karangan bunganya ratusan, rekor tertinggi selama ada promosi doktor di perguruan tinggi negeri tersebut.
Pencapaian itu merupakan wujud dari semangatnya untuk selalu belajar dan berupaya mewujudkan hadist Rasululloh Muhammad SAW yang berbunyi “Tholabul ‘ilmi minal mahdi ilal lahdi”.
Akhirnya saya mengucapkan selamat atas konsistensi Pak Aqua menjalani kehidupan sebagai orang merdeka. Selama 17 tahun beliau telah menunjukkan eksistensi dan kiprahnya buat banyak orang.
Semoga Pak Aqua sekeluarga senantiasa diberikan limpahan nikmat sehat dan barokah dari ALLAH SWT karena keberadaan mereka dibutuhkan oleh masyarakat luas.
Wadah alas tenun untuk beranda.
Meja licin kena minyak segelas.
Sudah 17 tahun menjadi orang merdeka.
Dr Aqua semakin banyak berguna bagi masyarakat luas.
Joko Sudarmawan
Manajer Solusi dan Kemitraan Kantor Pusat PT Pos Indonesia (Persero)
