Saat ini jam 14.00 waktu Indonesia siang, namun Andi menatap kosong pada daftar tugas. Tinggal 2 lagi yang tersisa tetapi Andi tidak sanggup mengumpulkan energi untuk melakukan keduanya.
Saya, Andi dan Anda pasti sudah tidak asing lagi dengan apa itu burnout dan kewalahan pada pekerjaan merupakan salah satu penyebab tertinggi.
Dilansir dari CNN Indonesia, berdasarkan survei yang dilakukan kepada pembacanya pada tahun 2021, sebanyak 77,3% dari 321 pembaca pernah mengalami burnout pada saat bekerja.
Data menunjukkan, ada banyak pekerja Indonesia yang masih berusia produktif mengeluhkan bahwa mereka mengalami burnout karena bekerja.
Penyebabnya bisa berupa keharusan untuk siap siaga di luar jam kerja, tingginya beban kerja, hingga banyaknya jadwal rapat (meeting) yang harus diikuti.
Apa
Menurut kbbi, burnout diartikan 1 kelelahan fisik, emosional, dan mental: kalau benci terhadap pekerjaan Anda telah tertimpa; 2 stres dan kelelahan emosional, frustasi, dan keletihan yang terjadi jika rangkaian peristiwa dalam suatu hubungan, misi, cara hidup, pekerjaan, atau bisnis tidak menghasilkan sesuatu yang sesuai dengan harapan.
Mengutip sejumlah penelitian, burnout syndrome dijelaskan sebagai kumpulan gejala munculnya kelelahan fisik dan mental karena tingkat stres yang tinggi akibat beban kerja yang berlebihan (Inta, 2021).
Ketika mengalami burnout syndrome, seseorang mungkin akan merasa tidak terhubung dengan pekerjaannya sehingga segala usaha dan aktivitas yang dilakukan terasa tidak berarti (Raftopoulos, Charalambous, & Talias, 2012).
Bahkan, ketika sedang mengalami burnout syndrome, seseorang dapat merasa tidak bahagia akan dirinya dan merasa tidak puas dengan pencapaian-pencapaiannya (Schorn & Buchwald, 2006).
Gejala
Burnout syndrome termanifestasi dalam dua jenis, yaitu gejala fisik dan gejala perilaku (Freudenberger, 1974 dalam Franco, 2015).
Secara fisik: seseorang mudah merasa sangat kelelahan dalam melakukan pekerjaannya. Mengalami perubahan pada nafsu makan. Menderita sakit kepala atau nyeri otot.
Selain itu, perasaan mengantuk yang berlebihan dan tidak sesuai waktu tidur juga dapat menjadi salah satu tanda seseorang mengalami burnout syndrome (Amaral, Galdino, & Martins, 2021).
Gejala sosial dan perilaku terdiri dari: sulit dihubungi (dijangkau) Isolasi sosial. Tidak kompeten dalam menjalankan tanggung jawab. Sering marah karena pekerjaan.
Sedangkan ciri-ciri psikologis ditandai dengan: Kekurangan motivasi. Meragukan diri sendiri.
Cenderung merasa gagal atau kesepian. Tidak merasa puas dalam hidup (Schorn & Buchwald, 2006).
Fase
Burnout tidak sama dengan stres, meskipun sama-sama menggambarkan kondisi mental yang menurun ketika kita bekerja.
Sedangkan burnout adalah stres yang sudah menumpuk (akumulasi stres).
Burnout adalah siklus perasaan sibuk dan terganggu yang membuat seseorang menarik diri.
Burnout juga muncul karena seseorang menginvestasikan terlalu banyak emosi, intelektual, bahkan fisik pekerjaan tanpa adanya upaya untuk memulihkan diri mereka.
Burnout tidak serta-merta muncul dalam hidup kita. Burnout adalah sebuah spektrum, yang di dalamnya terdapat beberapa mode pengalaman berbeda, yang dapat kita sebut sebagai profil burnout.
1. Fase antusiasme: mata cerah, lampu menyala terang
Seperti masa honeymoon dalam pernikahan, pada tahap ini Anda merasa optimis dan penuh energi. Baik itu saat memulai pekerjaan baru atau menghadapi tugas baru, Anda mengalami kepuasan sehingga merasa produktivitas dan mampu menggali sisi kreatif Anda.
Fase ini ditandai dengan kepuasan kerja yang tinggi, komitmen, energi, dan kreativitas.
Namun, masalah utamanya terletak pada pola strategi apa yang mulai Anda kembangkan untuk menghadapi tekanan kerja.
Secara teori, jika Anda menghadapinya dengan positif, adaptif, Anda akan merasa optimis terhadap pekerjaan.
Sayangnya, hanya sedikit orang yang mampu melakukannya dan lebih banyak lagi yang mengalami fase kedua.
2: Fase mandek (timbulnya Stres)
Tahap honeymoon mulai meredup, dan Anda mulai merasa stres, mulai merasakan ketidakpuasan terhadap pekerjaan.
Sakit kepala dan berbagai keluhan fisik umumnya mulai muncul pada fase ini. Anda juga akan merasa tidak produktif dalam bekerja. Gangguan tidur juga umumnya sering muncul pada fase ini.
Tahap ini ditandai dengan sulit berkonsentrasi atau kurang produktif saat menyelesaikan pekerjaan. Secara fisik, kelelahan mulai terasa sehingga sulit tidur atau menikmati kegiatan di luar pekerjaan.
3: Fase Stres Kronis (kecewa)
Di tahap ini, stres mulai menjadi kondisi yang lebih serius (berbagai gejala yang muncul pada fase kedua akan terasa lebih parah), tetapi belum mencapai tahap burnout.
Saat tekanan meningkat, stres secara konsisten mempengaruhi pekerjaan. Contohnya adalah perasaan apatis, tidak menyelesaikan pekerjaan tepat waktu, terlambat datang atau menunda-nunda saat bekerja.
4: Fase Burnout (krisis)
Pada fase ini, tanda-tanda burnout akan semakin memburuk hingga dapat dikategorikan gawat. Anda mungkin akan merasa tidak bertenaga untuk beraktivitas dan sering kali mengabaikan pekerjaan.
Terkadang, seseorang juga merasa mati rasa dan meragukan dirinya secara serius. Gejala fisik mulai muncul, seperti sakit kepala berkepanjangan atau gangguan pencernaan.
5: Fase Burnout Berkepanjangan: intervensi
Tahap ini muncul jika burnout tidak bisa diobati. Burnout berkepanjangan dapat menyebabkan kecemasan atau depresi.
Orang yang burnout juga mulai mengalami kelelahan mental dan fisik dalam tahap kronis yang mencegah produktivitas.
Pada fase ini, Anda mungkin akan lebih terbuka dalam menerima bantuan orang lain untuk mengatasi masalah burnout yang dialami.
Cara Mengatasi Burnout
Penelitian menemukan bahwa kepemilikan akan seorang mentor ketika menjalani pekerjaan memiliki manfaat dalam menghilangkan perasaan burnout (Attenello, et al., 2018).
Berbagai penelitian pun telah membuktikan bahwa keberadaan support system merupakan salah satu hal yang dapat mencegah burnout (Zhang, 2020; Zhang, 2021)
Terakhir, untuk mencegah burnout syndrome, penting untuk menerapkan work-life balance, yaitu mendistribusikan waktu antara pekerjaan dan hal lainnya, seperti keluarga, kegiatan pribadi, dan keterlibatan dalam masyarakat (Smith, Smith, & Brower, 2016).
Kesimpulan
Burnout bukanlah kondisi yang muncul secara tiba-tiba, melainkan akumulasi stres dan informasi sehingga mengurangi produktivitas.
Ketika burnout mencapai puncaknya, hal ini tidak hanya ditandai dengan gejala emosional tetapi juga gejala fisik yang intens, seperti sakit kepala kronis, kesulitan tidur, dan perubahan nafsu makan.
Tidak ada resep yang pasti untuk burnout karena setiap individu adalah unik. Karena itu, tetaplah untuk berpikiran terbuka saat mempertimbangkan pilihan. Temukan keseimbangan antara kesibukan pekerjaan dengan kesehatan.
Jika burnout dirasa sudah mengganggu dan berlangsung lama. Maka tidak ada salahnya untuk meminta bantuan profesional untuk mengatasinya.
