Dari hari ke hari bukan memaklumi apalagi memulihkan keterpurukan Rismon Hasiholan Sianipar yang datang ke Solo untuk meminta maaf kepada Jokowi dan mengajukan Restorative Justice.
Yang terjadi adalah ejekan dan kutukan masyarakat atas perubahan drastis dari pejuang membongkar kepalsuan ijazah Jokowi menjadi pembela keaslian ijazah.
Uji forensik analog maupun pembuktian lain sesungguhnya belum usai.
Publik yang mengikuti proses perjuangan mencari kebenaran status ijazah S-1 Jokowi hingga kini meyakini bahwa ijazah itu palsu.
Fenomena yang mudah disimpulkan ialah 4 tahun dokumen itu disembunyikan dan keyakinan atas foto diri pemilik ijazah itu yang bukan Jokowi.
Tetapi Dumatno, Hary Mulyono, atau lainnya. Kajian Rismon sebagai ahli digital forensik juga sangat meyakinkan dan memperkuat.
Tiba-tiba setelah sebulan dua bulan “tidak bisa tidur” dan tuduhan ijazah palsu S-2 dan S-3 Yamaguchi Jepangnya dilaporkan ke Polda Metro Jaya, maka Rismon mulai berubah.
Ditambah isu penggunaan Surat Kematian palsu untuk membebaskan diri dari tagihan dana beasiswa studi di Jepang yang bermasalah.
Moral buruk sang peneliti “independen” dan “obyektif” bertahap terangkat ke permukaan. Ia kemudian mendeklarasikan keaslian ijazah Jokowi dan melakukan ritual pengakuan dosa di Solo.
Menghasilkan Restorative Justice dan berharap SP3.
Nampaknya kebebasan dari proses hukum laporan Jokowi akan didapat sebentar lagi.
Jokowi gembira, Rismon bahagia. Urusan teman seperjuangan ya masa bodohlah.
Mereka kan bukan ahli digital forensik “gue penentu, kok”, kilahnya mungkin seraya mengimbau agar teman-teman dapat mengikuti langkahnya.
Ijazah berhasil disulap asli, digital forensik seolah sihir, tapi Rismon lupa rakyat sudah tidak percaya lagi pada peneliti plintat-plintut, tidak memiliki harga diri, menjilat ludah sendiri, maling teriak maling, atau pengecut.
Bertekuk lutut pada Gibran, berbohong soal obyek eksploitasi, serta menghinakan diri sendiri. Tamu itu diantar Gibran keluar dan segera ditutup pintu. Rismon kebingungan bagaimana membawa parcel.
Lalu berjalanlah jauh menuju mobil dengan membawa parcel berdua pengacara Jahmada Girsang. Tidak ada yang membantu.
Disorot kamera media peliput Istana dengan pandangan iba hampir tak percaya bahwa pembawa parcel lebaran itu adalah Rismon Hasiholan Sianipar sang harimau sumatera yang galak, berani, bahkan siap mati. Sungguh memilukan dan menyedihkan.
Rismon ‘Parcel’ Sianipar sudah menjadi tikus yang siap dimangsa kucing.
Kucing garong dewasa bernama Jokowi dan anak kucing Gibran namanya.
Keduanya mempermainkan mangsanya itu sebelum dimakan.
Rismon akan mati sebentar lagi. Kebodohan membawanya pada ketidakberdayaan.
Penghianatan telah menggiring sang peneliti ke tiang gantungan.
Gantungan itu dibuat oleh dirinya sendiri. Rismon Endgame.
M Rizal Fadillah, Pemerhati Politik dan Kebangsaan
Redaktur: Abdul Halim
