Home Opini Menteri Agama Jangan Melecehkan Adat dan Budaya Aceh

Menteri Agama Jangan Melecehkan Adat dan Budaya Aceh

by Slyika

Sebagian masyarakat dan pemerhati adat budaya Aceh menyampaikan sikap keberatan resmi kepada Menteri Agama Prof Dr Nasaruddin Umar MA terkait penggunaan pakaian adat Aceh dalam penyampaian ucapan yang berkaitan dengan simbol dan perayaan keagamaan non Muslim.

Menurut mereka, hal itu menimbulkan keresahan dan ketersinggungan, karena pakaian adat Aceh memiliki makna mendalam yang tak terpisahkan dari nilai budaya, sejarah, dan syariat Islam.

Dalam kehidupan berbangsa yang majemuk, menjaga toleransi adalah kewajiban bersama.

Namun, toleransi juga harus berjalan beriringan dengan penghormatan terhadap identitas budaya dan keyakinan masyarakat daerah yang memiliki kekhususan sejarah dan nilai-nilai religius yang kuat.

Aceh bukan hanya sebuah wilayah administratif, tetapi juga daerah yang memiliki kekhususan berdasarkan konstitusi dan undang-undang.

Pakaian adat Aceh bagi masyarakatnya bukan sekadar busana budaya, melainkan simbol kehormatan, sejarah perjuangan, serta keterikatan dengan nilai-nilai syariat Islam yang telah lama hidup dalam masyarakat.

Karena itu, apabila ada sebagian masyarakat Aceh yang merasa keberatan atau tersinggung atas penggunaan pakaian adat Aceh dalam konteks tertentu, maka suara tersebut patut didengar dengan bijaksana, bukan dihadapkan secara emosional ataupun politis.

Aspirasi budaya adalah bagian dari hak masyarakat adat yang dijamin negara.

Di sisi lain, kita juga perlu melihat bahwa semangat persatuan nasional tidak boleh berubah menjadi ruang saling mencurigai.

Sangat mungkin suatu tindakan dilakukan dengan niat membangun kebersamaan dan penghormatan terhadap keberagaman, namun dalam praktiknya tetap memerlukan sensitivitas budaya yang lebih mendalam.

Karena itu, jalan terbaik bukan memperbesar polemik, melainkan membangun dialog yang saling menghormati.

Pemerintah pusat, tokoh adat, ulama, dan masyarakat perlu duduk bersama agar simbol budaya daerah tetap dihormati, sekaligus semangat persaudaraan kebangsaan tetap terjaga.

Indonesia dibangun bukan dengan menyeragamkan identitas, tetapi dengan saling memahami batas-batas penghormatan terhadap keyakinan, adat, dan budaya masing-masing.

Bijaksana dalam bersikap, santun dalam menyampaikan kritik, dan terbuka untuk saling memahami, itulah akhlak kebangsaan yang seharusnya kita rawat bersama.

KH Dr Ir Narmodo MAg 

Ulama, Akademisi dan Ketua PD Muhammadiyah Jakbar

Redaktur : Abdul Halim.

You may also like

Leave a Comment