Dalam praktik ritual berkeagamaan, tentunya setiap agama memiliki cara, doktrin, dogma agamanya masing-masing dalam upaya setiap pemeluknya untuk menjalin relasi hubungan spiritual dengan Sang Pencipta, Tuhan Yang Maha Kuasa.
Setiap upaya itu adalah merupakan wujud implementasi rasa keimanan dan ketakwaan pada Sang Maha Agung, Sang Empunya misteri kehidupan dan kematian itu.
Setiap apapun landasan iman dan takwa pada Tuhan Semesta Alam, Sang Maha Pengasih dan Penyayang itu, pastilah meyakini dan mempercayai akan adanya satu sosok Yang Maha Agung, yang mengatur segala-galanya dalam misteri hidup dan mati setiap umat manusia, hambaNya yang ciptaanNya itu.
Pun demikian dengan makhluk hidup lain dan alam semesta raya ini.
Semua agama dan aliran kepercayaan pada sosok yang Agung itu sudah barang tentu memiliki nilai-nilai kebaikan hakiki yang esensial bagi segenap umat manusia sebagai satu-satunya makhlukNya yang memiliki perangkat rohaniah, batiniah, kekalbuan, kesanubarian paling sempurna.
Akal budi dan nurani yang diperlengkapiNya bagi setiap insan manusia adalah suatu wujud betapa sangat mengasihi dan menyayanginya, Tuhan Semesta Alam itu bagi setiap kita, umat manusia.
Konsepsi keberagaman, perbedaan, kebinnekaan, kemajemukan, pluralisme yang ada dalam kehidupan di sekitar kita, baik secara lokal, regional, nasional, maupun global, adalah mutlak, absolut sebagai fitrah kuasa anugerah dari Sang Maha Besar itu bagi mulianya peradaban kemanusiaan itu sendiri, suatu peradaban bagi kemuliaan kehidupan di setiap jengkal tanah di seantero muka bumi ini.
Konsepsi akan sebuah keanekaragaman adalah mutlak, absolut sebagai sebuah keagungan kuasaNya yang tidak ada sama sekali kuasa lain selain hanya kuasa Sang Maha Segala Pencipta itu yang hanya satu-satunya konsepsi kekuasan mutlak nan absolut-tunggal yang menguasai semua yang ada, artinya bahwa Tuhanlah satu-satunya Yang Maha Agung itu dan tak ada yang lain selain Beliau Yang Maha Segala itu.
Fitrah perbedaan sebagai yang tunggal dan satu-satunya konsepsi yang hanya milik Tuhan semata itu harus dan mutlak secara tulus-sejati kita letakkan pada tempat tertinggi yang paling terhormat.
Mengingkari akan konsepsi Tuhan itu adalah sama saja dengan mengingkari kuasa Sang Maha Pencipta atas kita semua. Beliau Sang Maha Pengasih dan Penyayang itu adalah Tuhan Sang Pencipta segala, Sang Pencipta segenap umat manusia yang dikonsepkanNya beragam plus segenap makhluk hidup lain beserta alam semesta raya ini.
Tuhan telah betapa sangat memuliakan umat manusia dengan segala kuasa anugerah Kasih dan SayangNya itu untuk kita saling hidup dan menghidupkan antar sesama pun demikian dengan yang saling berbeda sekalipun, sebab inilah amanat Tuhan yang harus kita patuhi dengan iman dan takwa kita.
Iman dan takwa kita adalah sia-sia bilamana tanpa perbuatan, suatu perbuatan nyata bagi sesama kita sebagai sama-sama ciptaanNya itu.
Universalitas nilai-nilai kehidupan atas konsepsi nilai KeTuhanan dan nilai kemanusiaan sejati yang merupakan keagungan anugerahNya itu adalah wujud nyata implementasi keimanan dan ketakwaan sejati setiap umat manusia padaNya, Sang Ilahi nan Maha Suci itu.
Dalam artian yang lebih sederhana adalah bahwa sejatinya Tuhan ingin kita tulus sejati memberikan penghargaan atas setiap manusia sebagai sesama ciptaanNya, disamping pada saat yang bersamaan Tuhan menginginkan setiap kita untuk selalu dekat padaNya.
Dekat dengan iman dan takwa yang tulus sejati padaNya dan dekat dengan amal dan kebajikan pada sesama manusia.
Secara kesejatian spiritualitas, hal inilah yang dinamakan dengan dimensi iman dan takwa yang selaras dengan amal dan kebajikan.
Suatu dimensi spiritualitas vertikal nun tinggi di tempat yang teratas nan sejatinya tak jauh di kalbu, sekaligus suatu dimensi spiritualitas horisontal ke atas sedikit, ke kanan, kiri maupun ke bawah.
Perjumpaan inilah yang dinamakan dengan kesempurnaan di dalam kita beribadah atau beribadat padaNya. Suatu titik temu sejatinya sebuah kesempurnaan relasi hubungan yang begitu lekat dan dekat dengan Sang Pencipta sekaligus dekat dan lekat dengan sesama kita, baik yang diciptakanNya sama, maupun yang diciptakanNya berbeda.
Suatu titik perjumpaan mata batin yang tulus-sejati dan teramat mengagumkan antara sebuah kesalehan formal dan sebuah kesalehan sosial, sebagai sebuah nilai kesempurnaan ber-KeTuhanan sejati dalam setiap rutinitas-ritualitas peribadahan, peribadatan pada sosok Yang Teramat Besar, Agung dan Suci itu sebagai terbangunnya hubungan komunikasi batiniah, kekalbuan, kesanubarian yang sempurna tanpa mengesampingkan sebuah penghargaan dan apresiasi yang tinggi pada nilai universal kemanusiaan sejati.
Suatu titik jumpa yang bisa membuat Sang Maha Kasih-Sayang tersenyum dan makin bangga atas setiap kita. Setiap kita yang selalu hidup dalam harmoni kedamaian hati. Damai Sejati untuk Indonesia dan dunia. Salam Kebajikan
HD. Febiyanto,
Motivator Strategi Komunikasi-Pemerhati Pengembangan Karakter Kebangsaan dan Kenegarawanan
