Dewasa ini, banyak perubahan terjadi karena dipicu adanya dampak globaliasi. Namun, tidak dapat dipungkiri globalisasi di era revolusi industri 4.0 sudah merambat hingga ke berbagai aspek kehidupan.
Laurence E. Rothernberg berpendapat, globalisasi adalah percepatan dari intensifikasi interaksi dan integrasi antara orang-orang, perusahaan dan pemerintah dari negara yang berbeda.
Menurut Achmad Suparman, pengertian globalisasi adalah suatu proses yang menjadikan sesuatu benda atau perilaku sebagai ciri dari setiap individu di dunia tanpa dibatasi oleh wilayah.
Sedangkan menurut Barker (Suneki, 2012:308) globalisasi merupakan koneksi global ekonomi, sosial, budaya dan politik yang semakin mengarah ke berbagai arah di seluruh penjuru dunia dan merasuk ke dalam kesadaran kita.
Dari sini dapat disimpulkan bahwa globalisasi merupakan proses percepatan yang menjadikan koneksi global ekonomi, sosial, budaya dan politik dari seluruh dunia tanpa dibatasi oleh wilayah merasuk ke dalam kesadaran kita.
Peningkatan globalisasi bergerak dengan pesat hal ini karena adanya teknologi yang memudahkan mobilisasi persebaran informasi menjadi lebih cepat dan mudah sebagai tanda awal mulanya globalisasi mulai berkembang.
Bidang tersebut merupakan penggerak globalisasi. Dari kemajuan bidang ini kemudian mempengaruhi sektor-sektor lain dalam kehidupan, seperti bidang politik, ekonomi, sosial, budaya dan lain-lain.
Tentu saja revolusi zaman seperti ini mengharuskan umat manusia dapat beradaptasi di dalamnya yang merupakan cara untuk bertahan hidup, meskipun dengan cara konvensional tetap dapat digunakan.
Namun, hal ini tentu akan menyulitkan di tengah terpaan berbagai sistem yang sudah mulai diperbarui ke dalam bentuk yang lebih modern.
Revolusi industri dan globalisasi seakan menjadi satu kesatuan yang tak terlepas dari kehidupan manusia.
Segala hal sudah tentu memiliki dampak positif maupun negatif, begitu halnya dengan globalisasi.
Ada yang beranggapan bahwa globalisasi merupakan suatu keuntungan, namun tidak sedikit pula yang beranggapan bahwa globalisasi merupakan suatu hal yang merugikan.
Cepat dan mudahnya persebaran informasi pada satu sisi jelas menguntungkan berbagai pihak karena tidak perlu mengeluarkan biaya yang besar apabila dibandingkan dengan media konvensional.
Namun, berbarengan dengan hal tersebut tentu saja memiliki berbagai dampak negatif dsalah satunya yaitu mengenai permasalahan mental health di kalangan generasi milenial.
Istilah generasi milenial bukan hal asing lagi untuk didengar pada zaman modern seperti saat ini.
Generasi milenial adalah mereka yang lahir sejak tahun 1980- an sampai dengan 2024, yaitu generasi muda saat ini yang berusia sekitaran 15-34 tahun. (Sarlin, Juli 2020).
Meningkatnya penggunaan alat komunikasi, media dan teknologi informasi yang digunakan, seperti: internet, MP3 player, youtube, facebook, instagram dan lain sebagainya berbarengan dengan munculnya generasi milenial.
Generasi ini merupakan generasi yang sangat mengandalkan teknologi untuk melakukan perubahan diberbagai aspek kehidupan sehingga dapat dikatakan bahwa generasi milenial merupakan inovator.
Generasi ini tumbuh besar dalam lingkungan budaya pop yang sudah mapan atau tersedia dengan baik di lingkungannya masing-masing, (Faisal, 2017).
Dalam hal ini teknologi menyediakan platform atau tempat untuk personalisasi dan memberikan kepuasan di semua aspek kehidupan.
Milenial dianggap spesial karena generasi ini sangat berbeda dengan generasi sebelumnya, apalagi dalam hal yang berkaitan dengan teknologi.
Berbagai tantangan harus dihadapi oleh generasi milenial di era globalisasi ini yang tinggal dimanapun baik di kota besar maupun di daerah pedesaan seperti tuntutan sekolah yang bertambah tinggi, akses komunikasi/internet yang bebas, dan juga siaran media baik tulis maupun elektronik.
Masa remaja merupakan masa yang kritis dalam siklus perkembangan seseorang. Ada banyak sekali perubahan dalam diri generasi milenial atau dapat disebut dengan remaja sebelum memasuki fase dewasa baik perubahan biologic, psikologik, maupun perubahan sosial.
Keadaan serba tanggung ini seringkali memicu terjadinya konflik antara remaja dengan dirinya sendiri (konflik internal) yang apabila tidak diselesaikan dengan baik maka akan memberikan dampak negatif terhadap perkembangan remaja tersebut di masa mendatang, terutama terhadap pematangan karakternya dan tidak jarang memicu terjadinya gangguan mental.
Kesehatan mental adalah sebuah keadaan kesejahteraan dimana individu mengenali kemampuan mereka, secara normal mampu mengatasi tekanan hidup, bekerja secara produktif dan bermanfaat serta memberikan kontribusi kepada masyarakat.
Generasi milenial seringkali mengalami burnout yang berdasarkan The Health of America Report, burnout adalah hal nyata yang berdampak pada generasi milenial, terutama dalam hal kesehatan mental dan emosional mereka.
Kondisi ini juga dapat memicu masalah mental seperti depresi. Kesehatan mental menempati ruang yang semakin besar dalam beban penyakit dunia.
Dimensi Psikologis, sosial, serta spiritual generasi milenial di masa revolusi industry 4.0 sangat sangat dipengaruhi oleh teknologi media sosial.
Revolusi industry yang menuntut orang untuk berpikir dengan cepat, informasi dan aktualisasi diri dengan jelas diperlihatkan di media sosial, sehingga mau tidak mau generasi milenial harus ikut dalam perkembangan teknologi ini.
Internet cenderung menjadikan generasi milenial cenderung menjadi penyendiri karena sering menghabiskan waktunya dengan internet sehingga menciptakan perasaan kesepian.
Ketika rasa puas tidak didapat di media sosial seringkali generasi milenial mengalami permasalahan dalam pengelolaan emosi yang tidak dapat terkontrol akibat perkembangan arus teknologi.
Tetapi dalam kenyataan nya generasi milenial masih membutuhkan peran orang terdekat dan support system untuk membantu menyelesaikan masalah mereka.
Kerti Eriani
Mahasiswa Digital Public Relations, Telkom University
