Kasus covid yang sudah mulai mereda pada awal tahun 2022 seolah menjadi nafas segar bagi warga Indonesia karena telah dibukanya kembali semua aktivitas warga.
Sekolah kembali dibuka dan kehidupan kembali seperti semula dengan tetap mengikuti protokol kesehatan yang berlaku atau disebut juga dengan new normal.
Namun, seolah tak ingin kehilangan pamornya, corona kebali hadir dengan varian baru BA.4 dan BA.5 yang bertepatan dengan cuaca extrem yang sedang melanda indonesia belakangan ini membuat semakin bias antara flu biasa ataukah Covid-19.
2 Maret 2020 adalah tanggal ditemukannya kasus covid pertama di Indonesia yang menjadi awal pedih bagi semua orang. Banyak aktifitas dibatasi sehingga berdampak pada kehidupan dan sumber pendapatan masyarakat.
Dilansir dari situs The Straits Time, Omicron varian BA.4 dan BA.5 pertama kali terdeteksi di Afrika Selatan pada awal tahun 2022.
Hal ini menandakan bahwa mereka telah melewati strain BA.1 dan BA.2, yang mendorong timbulnya wabah Omicron asli termasuk di Singapura.
Menurut Epidemiolog dari Griffith University Australia Dicky Budiman bahwa sub varian ini berbeda dengan varian sebelumnya.
Berdasarkan studi di laboratorium tersebut, BA.4 dan BA.5 lebih fusogenik dan patogenik jika dibandingkan dengan BA.2.
Selain itu, dari studi juga ditemukan bahwa angka reproduksi efektivitas BA.4 dan BA.5 1,2 lebih tinggi jika dibandingkan dengan BA.2 atau subvarian lain.
Artinya lebih cepat penularannya atau transmisinya karena kalau sudah angka reproduksi lebih dari 1 artinya ada pertumbuhan eksponensial yang akan terjadi,”
Dikarenakan penularannya yang cepat, masyarakat perlu mengetahui ciri virus ini dan mewaspadai gejalanya.
Dicky Budiman menyebut gejala subvarian Omicron BA.4 dan BA.5 tidak lebih ringan dibandingkan varian COVID-19 lainnya.
Gejala yang relatif ringan itu pada dasarnya disebabkan oleh imunitas masyarakat yang sudah terbentuk terhadap COVID-19.
Di tengah hiruk pikuk pemberitaan mengenai omicron jenis baru ini keadaan diramaikan dengan keadaan iklim Indonesia yang saat ini sedang tidak menentu atau lebih akrab dengan istilah cuaca ekstrem.
Saat cuaca tidak menentu seperti sekarang, turunnya tekanan udara, kenaikan tajam kelembapan udara, atau turunnya suhu udara secara tiba-tiba atau yang dikenal dengan musim pancaroba membuat daya tahan tubuh jadi menurun dan dapat memicu terjadinya sakit kepala, flu , batuk, terutama migrain.
Imun yang menurun juga menjadi penyebab rentannya terkena berbagai macam penyakit.
“Di musim pancaroba ini biasanya terjadi peningkatan jumlah pasien yang datang ke rumah sakit,” kata dokter spesialis penyakit dalam dari Rumah Sakit Carolus Jakarta, Laurentius Aswin Pramono, saat diskusi panas dalam di Jakarta.
“Yang paling sering adalah batuk, pilek, dan rasa panas di tubuh meskipun kadang tidak disertai kenaikan suhu tubuh. Tenggorokan juga terasa kering dan sakit untuk menelan. Inilah yang oleh masyarakat disebut panas dalam.”
Keadaan saat ini seolah menjadi bias ditengahnya banyak orang yang sakit menjadikan pemikiran abu-abu di masyarakat , apakah hanya flu biasa ataukah terkena covid .
Untuk mengetahui lebih lanjut berikut adalah gejala yang ditimbulkan oleh Omicron varian BA.4 dan BA.5, umumnya mirip dengan varian COVID-19 lainnya, seperti: demam, batuk, sakit tenggorokan, sakit kepala, mual, diare, muntah, kembung, mudah lelah, sakit perut, kehilangan nafsu makan, badan pegal, melemahnya indra penciuman
Sedangkan Dilansir dari WHO, gejala flu terdiri dari, demam, batuk, sakit kepala, nyeri otot, tidak enak badan, sakit tenggorokan, hidung tersumbat (pilek).
Jika dilihat sekilah terlihat cukup mirip antala gejala flu dan juga omicron varian BA.4 dan BA.5. Untuk memastikan, selain ditinjau dari gejala yang timbul silahkan lakukan swab dan test PCR.
Jika Anda mulai merasa sakit mulailah untuk menjaga jarak dengan orang sekitar. Anda mumgkin tidak merasakan gejala signifikan, namun hal tersebut bisa berbeda bila terkena di orang lain.
Jagalah kesehatan dengan rutin berolah raga serta minum dan makan makanan bergizi , agar kondisi tubuh tetap fit dan bugar dalam menjalani aktifitas sehari-hari .
Karena sejatinya setiap raga dijaga dan dipenuhi haknya untuk istirahat cukup serta diperlakukan dengan baik.
Dorroti Yatamata Zafira
Mahasiswa S1 Digital Public Relations Telkom University
