Sekitar 10 hari sebelum lebaran Idulfitri 1 Syawal 1447 Hijriyah, saya telah menukar pecahan uang rupiah baru di lima kota kota, Makassar, Bogor, Jakarta, Surabaya, dan Malang.
Jumlahnya ratusan juta rupiah.
Menukar pecahan uang rupiah baru menjelang lebaran Idul Fitri merupakan kebiasaan lama saya, sejak belasan tahun lalu.
Setiap tahun jumlahnya selalu bertambah.
Saya menukar pecahan uang baru nominal Rp2 ribu, Rp5 ribu, Rp10 ribu, Rp20 ribu, Rp50 ribu dan Rp100 ribu.
Sebagian besar uang tersebut adalah pesanan saudara-saudara dan teman-teman.
Biasanya menjelang lebaran, mereka mengontak saya.
Menyampaikan rincian uang yang mau ditukar. Setelah semuanya direkap, saya tukar ke bank.
Setelah itu saya serahkan seluruh uangnya sesuai pesanan masing-masing.
Saya berusaha memenuhi semua pesanan uang baru tersebut.
Meski ketersediaannya tergantung stok di bank.
Sebagian besar uang baru yang ditukar tersebut untuk dibagi-bagikan saat lebaran.
Membahagiakan banyak orang terutama penerimanya.
Saya sangat bersyukur dan berterima kasih sekali kepada teman-teman di beberapa bank karena membantu menukar uang baru pesanan saya.
Mereka melayani dengan sangat baik. Alhamdulillah.
Saat di Yogyakarta persiapan lebaran, setelah melaksanakan aktivitas yang padat di berbagai propinsi selama Ramadan, mendadak ada saudara yang mau menukar uang baru.
Sedangkan stoknya di saya menipis.
Ketika menyampaikan permohonan tukar uang itu pada H-4 lebaran, bisa saja saya mengatakan sudah tidak ada.
Apalagi waktunya telah mepet menjelang Hari Raya. Cuma saya tidak tega.
Saat itu saya menjawab stok uang baru di saya sudah menipis. Hanya beberapa saja.
Itu pun nominalnya tidak lengkap terutama pecahan Rp5 ribu, Rp10 ribu dan Rp20 ribu yang menjadi favorit dan paling banyak permintaannya.
Saya jawab Insya Alloh sambil berpikir kepada siapa saya minta tolong tukar uangnya.
Ada beberapa alternatif teman yang bekerja di bank di Yogyakarta.
Saya kemudian memutuskan lewat WhatsApp (WA) mengontak Pemimpin Bank Muamalat Cabang Yogyakarta Evia Lutvita Sarie.
Menyampaikan rincian pecahan uang baru yang mau saya tukar.
WA-nya juga saya kirimkan kKepada Direktur Bisnis Bank Muamalat Ricky Rikardo Mulyadi sebagai pemberitahuan.
Beberapa saat kemudian Vita, panggilan akrab Evia Lutvita Sarie merespon WA saya.
Menginfokan rincian pecahan uang baru yang tersedia dan total jumlahnya.
“Hari ini kami buka smp jam 15.00 Pak Aqua. Nt smpkan k Satpam sj klo bpk mau ambil tukeran uang baru. Sdh sy info k satpam…🙏” Vita merespon lewat WA.
Sekira sejam sebelum kantornya tutup, saya ke Bank Muamalat cabang Yogyakarta.
Karyawati di bagian teller dengan ramah melayani saya. Juga ketemu Vita.
“Terima kasih banyak Bu Vita yang telah membantu menukar pecahan uang baru. Mohon maaf mendadak,” ujar saya.
Sedangkan Ricky dari Jakarta memonitor. Lewat WA, pria rendah hati itu bertanya ke saya. “Pak Aqua bagaimana uangnya, sdh dapat?”
“Selamat sore Pak RICKY. Alhamdulillah uangnya sudah dapat. Bu VITA n timnya dengan sangat baik melayani saya. MasyaALLAH… Salam hormat buat keluarga. Terima kasih banyak Pak RICKY untuk semua bantuannya. Alhamdulillah…” Jawab saya.
Begitu tiba di rumah Yogyakarta, uangnya saya serahkan kepada yang mau menukarnya. Tuntas sudah tugas saya.
Penerima uangnya senang dan bahagia.
Tidak menyangka dalam waktu yang mepet menjelang lebaran, bisa mendapatkan pecahan uang baru sesuai dengan keinginannya.
Melihat ekspresinya itu, saya lebih senang dan bahagia sekali. Dapat membantu mereka yang membutuhkannya.
Ikhlas Membantu
Kedua orangtua saya, almarhum bapak Syaifuddin dan almarhumah Ibu Asmi Samad, selalu menasehati kelima anaknya termasuk saya yang paling kecil, di mana pun berada, setiap ada kesempatan membantu sesama yang membutuhkannya. Melakukannya dengan ikhlas.
Kami semua anaknya berusaha konsisten melakukannya.
Selain untuk melaksanakan nasihat orangtua, juga buat membahagiakan mereka yang dibantu.
Selama ini, saya meyakini membantu dengan ikhlas sama dengan menabung.
Setiap melakukannya kepada siapa saja, tabungannya bertambah.
Semakin sering berbuat baik, tabungannya bertambah. Dari hari ke hari, jumlahnya makin banyak.
Setiap saat, sering tiba-tiba tabungannya keluar. Sesuai dengan kebutuhan saya.
Telah banyak contoh tentang ini. Saat saya membutuhkan bantuan, Tuhandengan cara-Nya mengirimkan “malaikat” yang wujudnya manusia.
Hitungannya bisa detik, menit, dan jam.
Semua itu membuat saya ketagihan untuk terus berbuat baik dengan ikhlas.
Memperbanyak tabungan baik untuk di dunia maupun di akhirat. Alhamdulillah.
Dr Aqua Dwipayana
Pakar Komunikasi dan Motivator Nasional
