Home Opini Relevansi Hijrah Rasulullah SAW di Era Modern, Dari Sejarah Menuju Solusi Kontemporer

Relevansi Hijrah Rasulullah SAW di Era Modern, Dari Sejarah Menuju Solusi Kontemporer

(3-Selesai)

by Slyika

Peristiwa hijrah bukan sekadar monumen sejarah yang diam, melainkan living tradition (tradisi yang hidup) yang menawarkan kerangka kerja (framework) untuk menyelesaikan masalah modern.

Relevansinya dapat dipetakan ke dalam 3 dimensi utama, Psikologis-Spiritual, Manajerial-Kepemimpinan, dan Sosiopolitik-Berbangsa.

A. Dimensi Psikologis-Spiritual: Hijrah sebagai Terapi Krisis Identitas dan Mental

Di era disrupsi digital, manusia modern menghadapi krisis makna, kecemasan (anxiety), dan kehilangan identitas.

Konsep Hijrah menawarkan solusi melalui transformasi internal (Hijrah Maknawiyah).

1. Manajemen Diri di Tengah Distraksi Digital:

Konteks: Algoritma media sosial dirancang untuk mempertahankan perhatian pengguna pada konten yang sering kali dangkal, provokatif, atau hedonis. Ini menciptakan “penjara digital” yang mirip dengan tekanan sosial di Mekkah pra-Islam.

Aplikasi Hijrah: Melakukan digital detox atau kurasi konten adalah bentuk hijrah modern. Meninggalkan akun-akun yang memicu iri hati (hasad), kebencian, atau pornografi, dan beralih ke konten edukatif serta inspiratif. Ini adalah implementasi dari prinsip “meninggalkan apa yang dilarang Allah” dalam ruang siber.

Dampak: Mengembalikan ketenangan jiwa (tuma’ninah) dan fokus pada tujuan hidup yang lebih tinggi.

2. Resiliensi Melalui Tawakkal Aktif:

Konteks: Ketidakpastian ekonomi global dan perubahan iklim memicu rasa takut akan masa depan.

Aplikasi Hijrah: Meneladani sikap Nabi di Gua Tsur. Rasulullah SAW tidak panik meski musuh ada di depan mata, karena beliau telah melakukan usaha maksimal (ikhtiar) sebelum berserah diri. Dalam psikologi modern, ini sejalan dengan locus of control internal: fokus pada apa yang bisa kita kendalikan (usaha, persiapan, skill), dan menerima hasil akhir sebagai ketentuan Illahi. Ini mengurangi stres kronis akibat keinginan mengontrol hal-hal di luar kuasa manusia.

B. Dimensi Manajerial-Kepemimpinan: Profil Pemimpin Profetik

Hijrah adalah studi kasus terbaik tentang manajemen perubahan (change management) dan kepemimpinan strategis. Para pemimpin organisasi, korporasi, atau negara dapat belajar dari langkah-langkah Rasulullah SAW

1. Perencanaan Berbasis Data dan Risiko (Risk Management):

Rasulullah SAW tidak berhijrah secara impulsif. Beliau menggunakan jalur berlawanan arah (selatan, bukan utara), menyewa pemandu profesional non-Muslim (Abdullah bin Uraiqit), dan menyiapkan logistik tersembunyi.

Relevansi Modern: Dalam bisnis atau politik, keputusan strategis harus didasarkan pada analisis risiko yang matang, bukan emosi. Penggunaan tenaga ahli profesional (terlepas dari latar belakang SARA mereka) adalah kunci efisiensi, sebagaimana Nabi mempekerjakan pemandu ahli navigasi.

2. Membangun Tim Inti yang Solid (Team Building):

Keberhasilan Hijrah bergantung pada spesialisasi peran: Abu Bakar (pendamping strategis), Asma’ & Abdullah (intelijen & logistik), Amir bin Fuhairah (penghapus jejak). Setiap orang tahu tugasnya dan saling melengkapi.

Relevansi Modern: Pemimpin harus mampu menempatkan orang pada posisi yang tepat (the right man in the right place). Kolaborasi tim yang solid dengan pembagian peran yang jelas adalah kunci keberhasilan proyek kompleks.

3. Visi Jangka Panjang di Tengah Krisis Jangka Pendek:

Meski sedang diburu, Nabi tetap memikirkan masa depan Madinah. Beliau tidak hanya menyelamatkan nyawa, tetapi membawa visi peradaban.

Relevansi Modern: Pemimpin tidak boleh terjebak dalam pemadaman kebakaran (firefighting) harian saja, tetapi harus tetap memegang visi besar (big picture) organisasi untuk 5-10 tahun ke depan.

C. Dimensi Sosiopolitik-Berbangsa: Model Koeksistensi Inklusif

Piagam Madinah yang lahir pasca-Hijrah adalah blueprint bagi masyarakat majemuk (plural) yang damai. Ini sangat relevan bagi negara-negara demokratis multi-etnis dan multi-agama seperti Indonesia.

1. Kontrak Sosial Berbasis Keadilan, Bukan Dominasi:

Piagam Madinah mengakui keberadaan Yahudi Bani Qainuqa’, Bani Nadhir, dan Bani Quraizhah sebagai bagian dari komunitas politik (Ummah Wahidah) bersama Muslim. Mereka memiliki otonomi agama dan hukum internal, namun bersatu dalam pertahanan eksternal.

Relevansi Modern: Ini menolak konsep negara teokrasi eksklusif maupun negara sekuler yang anti-agama. Model Madinah menawarkan jalan tengah: Negara menjamin kebebasan beragama dan keadilan bagi semua warga, sementara nilai-nilai moral agama menjadi roh publik yang mempersatukan. Ini adalah fondasi kuat bagi toleransi aktif, bukan sekadar toleransi pasif.

2. Mengatasi Polarisasi Politik Melalui Etika Publik:

Demokrasi modern sering terjebak dalam polarisasi tajam (“kami vs mereka”) yang merusak kohesi sosial.

Aplikasi Hijrah: Spirit Muakhah mengajarkan bahwa perbedaan pilihan politik atau pandangan fikih tidak boleh memutus ikatan kemanusiaan dan persaudaraan. Kritik boleh dilakukan, tetapi harus dengan adab (qaulan sadida) dan tanpa dehumanisasi lawan. Hijrah menuntut kita untuk “berpindah” dari budaya hujat menuju budaya dialog konstruktif.

3. Pemberdayaan Ekonomi Berbasis Solidaritas:

Sistem Muakhah di Madinah mengatasi kesenjangan ekonomi antara Muhajirin (yang miskin karena meninggalkan harta di Mekkah) dan Ansar (yang memiliki sumber daya). Ini bukan sekadar charity, tapi kemitraan ekonomi.

Menginspirasi model ekonomi kerakyatan dan filantropi Islam (Zakat, Wakaf, Sedekah) yang tidak hanya bersifat konsumtif, tetapi produktif. Perusahaan atau komunitas muslim didorong untuk menciptakan ekosistem ekonomi yang inklusif, dimana yang kuat membantu yang lemah bukan dengan belas kasihan, tapi dengan pemberdayaan kapasitas.

Kesimpulan

Hijrah Rasulullah SAW menawarkan resep lengkap bagi kebangkitan peradaban.

Ia mengajarkan bahwa perubahan besar dimulai dari keberanian individu untuk berubah (hijrah nafs), didukung oleh strategi kolektif yang cerdas (hijrah ijtimaiyah), dan bermuara pada tatanan sosial yang adil dan rahmatan lil ‘alamin.

Bagi muslim modern, berhijrah berarti tidak lagi puas menjadi penonton sejarah, tetapi menjadi aktor utama yang menulis babak baru peradaban Islam yang progresif, moderat, dan bermartabat.

KH Ahmad Minda, Pengurus Pimpinan Wilayah Muhammadiyah DKI Jakarta

Redaktur: Abdul Halim

You may also like

Leave a Comment