Home Lifestyle Bahaya Rasa Takut Berlebih, Menular Hingga Bisa Menimbulkan Nyeri

Bahaya Rasa Takut Berlebih, Menular Hingga Bisa Menimbulkan Nyeri

by Slyika

Selama pandemi ini adakah yang merasa menjadi lebih mudah khawatir, gampang panik, hingga kewalahan dengan rasa takut yang sudah mulai keseringan? Kalau iya, serius Anda tidak sendiri.

Menurut penelitian yang dilakukan oleh Handayani di tahun 2010, dalam dekade terakhir masyarakat dunia tampaknya menjadi lebih takut dan lebih khawatir tentang keselamatan, keamanan, penerimaan sosial, dan kesehatan lingkungan daripada masa lalu.

Kondisi ini menghasilkan pengalaman emosi negatif berupa ketakutan yang lebih tinggi. Ditambah adanya pandemi virus corona semakin memicu ketakutan global yang begitu kuat, sehingga sesuatu yang sederhana seperti mengantri dan naik kendaraan umum menjadi terasa seperti sesuatu yang amat berisiko mengancam jiwa.

Menanggapi hal ini, Marcella Evalie Claudia, S.Psi founder dari Psychologytalkid, sebuah komunitas nirlaba yang fokus pada kesehatan mental mengganggap hal tersebut wajar dan manusiawi.

“Menurut saya sendiri rasa takut adalah hal yang sangat wajar sebagai manusia. Sama halnya dengan rasa marah, kecewa, sedih, bahagia, jijik, rasa takut kita itu bersifat valid dan dapat dikendalikan,” tutur Marcella.

Lalu apakah rasa takut itu bisa menular? Mengingat ada yang berpendapat “Ketakutan menyebar Lebih cepat daripada Virus Corona”.

Sebagai praktisi psikologi, Marcella menyetujui apabila rasa takut itu bersifat menular.

“Ketakutan itu bisa menular tidak hanya dari mimik wajah, akan tetapi otak dapat mendeteksi keringat dari seseorang yang sedang tertekan dan hal ini sudah dibuktikan oleh penelitian duo Glickman & Huston di tahun 2019,” ungkap Marcella.

“Reaksinya yang pada umumnya terjadi yaitu, memperingatkan orang lain, tangisan, dan keringat yang kaya akan bahan kimia,” jelasnya lagi.

Rasa Takut Semakin Menambah Rasa Nyeri

Menyinggung hubungan rasa takut dan rasa nyeri, Marcella mengingatkan, “Seseorang yang sudah mengalami rasa nyeri sebelumnya harus berhati-hati dan belajar mengendalikan rasa takut, karena diprediksi rasa nyeri dirasakan lebih intens apabila disertai rasa takut yang meningkat.”

Himbauan ini bukan hanya sekedar praduga karena didukung oleh data makalah yang dimuat di jurnal “PAIN” yang menemukan bahwa dengan cara yang sama, ketakutan akan nyeri sosial memprediksi intensitas stres subjek ketika mereka dikecualikan dalam game virtual.

Namun demikian Marcella berpendapat jika beberapa individu lebih rentan terhadap rasa takut daripada yang lain.  Hal ini juga diperparah oleh aspek komunitas kita yang signifikan andilnya dalam mempengaruhi seberapa besar laju bahaya yang kita pikir sedang kita hadapi. (sinse_novi)

You may also like

Leave a Comment