BERITAIND.COM, JAKARTA – Pensiun dari dunia militer tidak selalu menjadi pintu masuk menuju kehidupan serba mewah. Setidaknya, prinsip itu yang dipegang Brigjen TNI (Purn) Amrizar.
Alih-alih mengejar jabatan baru atau menikmati kemewahan setelah purna tugas, ia memilih menjalani kehidupan sederhana dengan menekuni musik, mengelola podcast Pojok Tentara, serta sesekali mengurus kebun dan sawah milik istrinya di Makassar, Sulawesi Selatan.
“Hidup itu pilihan. Saya memilih hidup apa adanya. Yang penting rezeki membawa berkah bagi keluarga,” kata Amrizar saat berbincang dengan media di kediamannya di kawasan Karawaci, Tangerang, Minggu (8/11/26).
Ia tidak menampik bahwa kehidupan sejumlah koleganya setelah pensiun jauh lebih mapan secara ekonomi.
“Saya bukan anak orang kaya dan juga tidak lihai berbisnis. Jadi, setelah pensiun, ya menjalani kehidupan seperti sekarang. Dinikmati dan disyukuri saja,” tuturnya.
Dua Tahun Hasilkan Tujuh Album
Di tengah kesederhanaan hidupnya, Amrizar justru menemukan ruang yang lebih luas untuk mengembangkan kreativitas.
Musik yang semasa aktif berdinas belum bisa digeluti secara maksimal kini menjadi kesibukan utama.
Sebagai Ketua Dewan Pembina Forum Wartawan Hiburan (Forwan) Indonesia, Amrizar aktif menjalani sejumlah kegiatan di luar dunia musik.
“Setelah pensiun, saya lebih leluasa menuangkan pemikiran ke dalam syair lagu, termasuk mengangkat persoalan sosial dan politik yang sedang terjadi,” ujarnya.
Ia menyoroti fenomena pamer kemewahan, mengejar kedudukan, hingga menghalalkan berbagai cara demi mendapatkan pengakuan dari lingkungan sekitar.
“Bahkan, ada yang menghalalkan segala cara demi memperoleh harta dan kedudukan,” ungkap musisi yang memilih blues sebagai salah satu warna musiknya itu.
Menikmati Kehidupan Tanpa Beban Jabatan
Selain bermusik, pria berdarah Minang yang dikaruniai empat anak tersebut juga mengisi waktu dengan mengelola podcast Pojok Tentara.
Bagi Amrizar, pensiun bukan berarti berhenti berkarya.
Baginya, kesehatan, keluarga, kesempatan berkarya, dan ketenangan menjalani hidup merupakan anugerah yang patut disyukuri.
Amrizar seolah ingin menunjukkan bahwa ukuran keberhasilan seseorang setelah pensiun bukan semata-mata kemewahan yang berhasil dikumpulkan, melainkan seberapa jauh ia masih bisa memberikan makna melalui hal-hal yang dicintainya.
