Sarung

by Slyika
SARUNG kemudian menjadi pakaian khas bagi sebagian besar masyarakat Indonesia, baik perkotaan maupun di pedesaan. Mendunia setelah orang-orang besar kerap menggunakan sarung daripada celananya.
TETAPI, siapa sangka jika sarung mengandung filosofis yang luar biasa. Sarung terdiri dua suku kata ; SARU-NE (Kemaluan/Sesuatu yang membuat malu) itu DIKURUNG (ditutupi). Disatukan katanya, membentuk kata SARUNG.
KEMALUANNYA yang berarti aurat jangan dipertontonkan, tetapi harus ditutupi. Sehingga, tidak menimbulkan fitnah bagi orang yang melihatnya. Bermakna pula, sesuatu yang membuat malu (aib) seseorang, jangan diperlihatkan. Melainkan harus “disimpan” rapat-rapat agar tidak menimbulkan persoalan sosial di masyarakat. Dari sarung, ternyata ada ilmu yang dapat diambil.
JIKA ada orang yang masih suka buka aurat dan buka “kemaluan orang”, sejatinya orang tersebut tidak menggunakan “sarung” sebagai falsafah dalam hidupnya. Sarung mengajak hidup ke jalan yang benar, meski hanya bersifat simbolistik.
SARUNG juga membuat ruang lebih demokratis, “luas bergerak” ketimbang celana. Lebih elastis, mengikuti kebebasan penggunanya. Coraknya juga banyak, sesuai selera pemiliknya.
Pun, tidak dibatasi dengan diameter perut, prosedur resleting, dan proposal kancing. Dari sudut pandang ini, sarung mengajarkan hidup tanpa tekanan, simpel, fleksibel, dan mudah beradaptasi dengan situasi.
YANG lebih penting lagi, tingkat resiko terkena najisnya juga sedikit ketika buang hajat besar dan kecil. Tinggal lepas (copot), tak kalah cepat dengan durasi waktu buang hajat.
Kesunahan Rasul yang menganjurkan pipis nongkrong, juga lebih mudah dijalankan. Apalagi yang terkena penyakit “bolak balik toilet” karena hajat kecil, sarung menjadi pilihan pakaian yang memudahkan.
KATA orang dulu (sejarah), SARUNG adalah simbol perlawanan terhadap budaya barat yang dibawa oleh penjajah karena menggunakan celana terus menerus. Perbedaan kebiasaan, bukti penolakan Rakyat Indonesia atas penjajahan fisik, akal, pikiran, serta penjajahan budaya.
KENAPA harus sarung ? Kata Kiai, tafa’ulan (mengadopsi kebaikan) kebiasaan yang baik dari saudagar Gujarat dan Arab pada Abad 14 dalam menutup aurat, diprediksi menjadi alasan khusus.
Mereka terbiasa menggunakan sarung saat berniaga. Apalagi bagi negara Yaman (Hadramaut), budaya sarung sudah ada sejak nenek moyangnya.
KINI kecepatan aktivitas dan efektivitas zaman merubahnya. Celana dianggap lebih mudah dalam berkegiatan, terlihat serius, terutama bagi kaum abangan. Kendati demikian, saat di rumah, sarung tetap menjadi idola dalam berpakaian. Tak ada yang perlu dipersoalkan, karena semuanya bernilai baik dan manfaat.
BAGI kalangan kiai yang notabene tak terikat rutinitas formal dan kaum santri yang mayoritas bebas ikatan kerja dalam berprofesi, sarung masih dipertahankan dalam beraktivitas.
Namun demikian, dalam kondisi “darurat” kiai dan santri juga pandai menggunakan celana.
DEMIKIAN khazanah filosofis sarung, dengan harapan bisa diaplikasikan dalam konsep hidup yang lebih baik.
SEMOGA bermanfaat. Mohon maaf lahir dan bathin. Wallahu’alam.

Nurcholis Qadafi

Wartawan Senior, Penceramah dan Usahawan

0 comment
2

Related Post

Leave a Comment