Learning Loss Harus Bagaimana? Sebuah Refleksi Pembelajaran Tatap Muka Minggu ke 4

by Slyika

Kaki-kaki kecil itu berjalan tertunduk, aku coba menangkap apakah wajahnya yang tertutup masker 2 lapis itu menyembunyikan wajahnya. Ini hari pertama mereka ke sekolah setelah 2 tahun lamanya tak bertatap muka, bersenda dalam gurau dan belajar bersama.

“Selamat pagiiii anak anak.sini sini sama bu Ingga ya, aah..aku lupa, mereka belum mengenal aku. Aku dekati mereka, tetap berjarak tak boleh terlalu dekat. “Ikutin tanda panah biru di lantai ya nak..mereka tertunduk mengikuti panah itu jalan menuju tempat cuci tangan dan masuk menuju kelas, duduk di sana menunggu teman-teman yang lain.

Masuk ke kelas, aku sapa mereka dengan sangat semangat sekali, aku pastikan mereka nyaman, mereka berkesan dengan hari ini, semalaman aku sebagai gurunya saja tak bisa tidur dengan tenang menantikan hari ini. Tapi usahaku sepertinya belum berhasil. Mereka diam, kaku, tak bersemangat.

Kami lewati belasan menit pertama “ice breaking” dengan ice yang belum breaking. Baru kali ini aku mati gaya didepan anak muridku. Aku coba lanjutkan dengan pelajaran yang telah lalu yang mudah, seperti dugaan awalku, mereka tak memahaminya. Aku merasa gagal hari itu.

Begitulah gambaran hari pertama ketika Pertemuan Tatap Muka yang aku alami.

Learning loss kah??

Learning loss adalah istilah yang mengacu pada hilangnya pengetahuan dan keterampilan baik secara umum atau spesifik. Atau terjadinya kemunduran proses akademik karena suatu kondisi tertentu.

Upaya maksimal saya tujukan bukan pada tujuan akhir berupa nilai nilai, tapi pada mengembalikan marwah kecintaan mereka terhadap belajar dan proses belajar yang benar. Selama 2 tahun Belajar Dari Rumah (BDR) banyak perubahan yang terjadi.

Perubahan fisik yang terlihat jelas dapat saya simpulkan seperti dibawah ini:

1. Mata minus/silinder, Penggunaan gadget saat BDR memberi pengaruh banyak terhadap kesehatan mata mereka. Belajar dengan posisi yang tidak benar, membaca sambil tiduran menjadi sebab utama
2. Obesitas, berada terus di dalam rumah, tanpa melakukan aktivitas olahraga berakibat pada kenaikan berat badan siswa.

Perubahan perilaku/sikap

1. Malas, kecenderungan tidak melakukan aktivitas fisik yang rutin melahirkan sikap malas dalam banyak hal.
2. Introvert, komunikasi secara langsung menjadi sangat berkurang, interaksi hangat yang didapat pada pertemuan langsung sulit didapatkan. Anak menjadi asik
dengan dunianya sendiri, dunia maya.
3. Manja dan mudah menyerah, selama BDR ada banyak kemudahan yang didapati dalam pembelajaran, baik yang didapat dari sekolah dan guru, pun tentunya dari orangtua dirumah.

Itu adalah sebagian yang saya rasakan, mungkin guru lain merasakan hal yang sama. Semua hal di atas menimbulkan Learning Loss.

Ada beberapa praktik baik pembelajaran yang saya coba lakukan untuk mengantisipasi Learning Loss yang terjadi di kelas yang saya ajar;

1. Kreativitas tanpa batas, Pada pembelajaran awal saya mati gaya, saya ganti strategi. Saya hindari hal hal berat yang membosankan. Saya coba memakai gambar- gambar guna mendukung pendalaman materi hari PTM. Saya gunakan video pembelajaran, saya pakai musik, saya bernyanyi, bergerak.

2. Pendekatan personal ke setiap siswa.  Hal ini perlu usaha ekstra. Pendekatan saya dengan cara mengomentari status mereka menjadi cara yang ampuh yang berefek langsung. Saya rasakan perubahan sikap mereka dengan cepat. Menjadi akrab dan dekat.

3. Beri umpan balik. Hal ini sangat berkesan buat anak murid saya, setiap pembelajaran saya usahakan selalu memberikan respon. Walau cuma sekedar kalimat dengan
emoticon sederhana. Penguatan pada pelajaran yang belum dikuasai. ” Ini sudah bagus nak, mungkin ditambahkan sedikit dibagian ini..” dst

4. Ajak orang tua berkolaborasi. Komunikasi dan kerjasama yang baik akan sangat berpengaruh pada tingkat keberhasilan proses pembelajaran. Orangtua sigap adalah aset yang berharga.

Ingga 

Guru Kelas 6 SDN Kalibata 01, Jaksel

0 comment
10

Related Post

Leave a Comment