OKU RAYA – Pekan Olahraga Daerah tingkat Provinsi (Propov) Sumatera Selatan XIII tahun 2021 menjadi ternoda karena tidak dipertandingan cabang olahraga Bulutangkis. Pertandingan olahraga multievent ini merupakan yang terbesar di Sumsel, karena mempertandingkan hampir semua cabang olahraga dari tradisional hingga modern.
Sayangnya di tahun 2021, olahraga multievent ini seperti kurang bergairah karena tidak mempertandingkan cabang bulutangkis. Padahal cabang bulutangkis sendiri paling digemari masyarakat setelah sepakbola. Tidak heran jika seharusnya menjadi olahraga multievent yang tidak pernah absen dari penyelenggaraan dan selalu dinanti oleh para penggemarnya mulai dari anak-anak, remaja hingga orang dewasa.
Sebagai olahraga yang digemari masyarakat, tentu saja bulutangkis memiliki gengsi tersendiri bagi daerah yang merebut medali. Tidak heran kalau banyak daerah menyediakan bonus besar jika atletnya berhasil meraih medali emas, perak atau perunggu.
Cabang olahraga bulutangkis ini, menjadikan pengurusan cabor bulutangkis tingkat daerah kabupaten kota di Sumsel melakukan seleksi yang ketat untuk atletnya yang akan diturunkan di Porprov.
Banyak atlet-atlet bulutangkis yang berlatih diluar daerah harus dipanggil pulang untuk berjuang dan mengangkat nama daerahnya. Bahkan ada juga beberapa daerah akhirnya harus mengambil atlet luar daerah untuk merebut medali dengan cara membeli atau yang biasa disebut dengan istilah Player Entry.
Tahun ini, persoalan Player Entry pemain pada porpov dilarang, baik diambil dari daerah Sumsel sendiri maupun dari luar Sumsel. Sebab hal ini dinilai menghambat perkembangan pembinaan atlet cabor bulutangkis di daerah.
Walaupun sudah mendapat larangan tegas dari penyelenggaraan event, tetapi keinginan untuk mengangkat daerah ternyata tetap dimanfaatkan oleh pengurus PBSI daerah dengan cara membeli atlet dari luar. Hal ini ternyata mendapat kecamatan dari beberapa daerah di Sumsel yang menolak masuknya atlet dari luar Sumsel.
Beberapa daerah yang melakukan penolakan tersebut yaitu Muara Enim, Banyuasin, Musi Banyuasin, Mura, Muratara, Lubuk Linggau, OKI, Ogan Ilir, Prabumulih, Lahat, Pagar Alam, Pali.
Sementara daerah lainnya, yaitu OKU Induk, OKU Selatan, OKU Timur dan Kota Palembang tetap ingin melanjutkan pertandingan. Tetapi pertandingan tersebut hanya sebagai pelengkap eksbisi.
Pemerhati Bulutangkis Sumsel, Irawan mengatakan batalnya cabang bulutangkis pada Porpov Sumsel 2021 di OKU Raya ini menjadi penyelenggaraan terburuk sepanjang pertandingan multievent.
“Bulutangkis itu olahraga besar dan banyak diminati penonton setelah sepakbola. Sangat disayangkan kalau di event besar ini, bulutangkis tidak bisa digelar pada Porpov 2021,” ujar Irawan.
Mantan Pelatih Bulutangkis Sumsel ini, mengaku bahwa Porpov merupakan ajang pembinaan atlet-atlet daerah, khususnya cabang bulutangkis. Dari sini akan muncul atlet daerah yang bisa bertanding di event yang lebih besar seperti Porwil maupun PON bahkan internasional. Tetapi jika penyelenggaraan melegalkan atlet luar ikut berkompetisi tentu saja pembinaan tidak dapat berjalan.
“Saya yakin tingkat pengurusan organisasi PBSI saat ini sangat baik, tetapi kepengurusan dibawah ini harus melalui pembinaan lagi sehingga persoalan beli pemain tidak terjadi seperti sekarang ini,” jelas Irawan.
Mantan Wakil Binpres PBSI Sumsel 2012- 2018 ini menambahkan, secara prestasi atlet Bulutangkis Sumsel Tidak kalah dengan luar daerah. Ini terbukti ketika masa ke pengurusan beberapa kali bisa berprestasi hingga tingkat nasional, seperti misalnya lolos PON Jawa Barat, juara 3 Kejurnas Bulutangkis di Jakarta dan Solo.
“Kuncinya adalah pembinaan atlet yang baik, dan selama ini ketika itu ada PPLP dan banyak atlet dibina disana. Sekarang ini fasilitas sudah sangat memadai dan ketua pengurus sudah sangat baik. Tentu saja jika kemauan pembinaan baik akan dapatkan atlet yang baik juga,” ujar paltih yang berhasil mengantarkan atlet Bulutangkis Paralimpik Sumsel meraih medali Perak di Papua 2021 ini,” pungkasnya. (noverta)
