Home Berita Gus Ilyas: Kita Harus Jaga ke-Indonesiaan, Itu Harga Mati 

Gus Ilyas: Kita Harus Jaga ke-Indonesiaan, Itu Harga Mati 

by Slyika

SURABAYA – Pecinta Tanah Air Indonesia (Petanesia) merupakan kelanjutan dari perkumpulan Pecinta Merah Putih Indonesia (PMPI) yang didirikan Maulana Habib Luthfi bin Yahya pada 2005.

Berdirinya Petanesia sebagai respon atas kondisi Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) yang rentan terhadap perpecahan dan konflik karena perbedaan.

Salah satunya, menumbuhkembangkan semangat kerukunan, kegotongroyongan, persatuan dan kesatuan, cinta tanah air dan bangga pada tanah air Indonesia.

“Selanjutnya, menentang setiap usaha dan tindakan yang merugikan kedaulatan dan keutuhan NKRI. Berikutnya, menjaga dan melestarikan peninggalan dan warisan sejarah bangsa Indonesia,” jelas Ketua Petanesia Surabaya, Gus Ilyas, Kamis (4/8/22).

Dia menjelaskan, ada tiga bidang penting sebagai orientasi program kerja Petanesia. Pertama, bidang agama, yaitu dengan cara bersungguh-sungguh menjadikan agama sebagai pemersatu bangsa dan spirit mencintai Tanah Air Indonesia.

Kedua, bidang penelitian dan pengembangan (litbang) yang ditempuh melalui kajian-kajian dalam upaya mewujudkan cinta Tanah Air Indonesia.

“Ketiga, bidang kaderisasi dengan melakukan pembinaan kepada generasi muda untuk mencintai Tanah Air Indonesia,” tuturnya.

Gus Ilyas menambahkan, Petanesia merupakan salah satu penerus dari perjuangan nasionalisme dan kemerdekaan bangsa Indonesia seperti yang telah dilakukan para pahlawan serta para pendiri bangsa Indonesia.

“Dengan prinsip refleksi pada sejarah bangsa, cinta Tanah Air Indonesia, dan sikap bela negara, Petanesia diharapkan menjadi mesin penggerak nasionalisme yang telah digagas oleh Maulana Habib Luthfi bin Yahya,” tegasnya.

Cucu pendiri NU ini menambahkan, Petanesia memiliki visi terwujudnya insan yang berjiwa patriot, cinta Tanah Air, berkarakter.

Kemudian, toleran dalam kebhinekaan untuk mempertahankan keutuhan NKRI berdasarkan Pancasila dan Undang-Undang Dasar 1945.”

“Petanesia adalah perkumpulan bersifat umum, kekeluargaan, dan pengabdian yang didirikan Maulana Habib Luthfi bin Yahya pada 18 November 2018,” kata Gus Ilyas.

Perkumpulan ini, kata dia, bertujuan meningkatkan sikap dan tekad rakyat Indonesia untuk mencintai dan memiliki Tanah Air Indonesia.

Selain itu, mewujudkan persatuan dan kesatuan Indonesia, serta menciptakan stabilitas nasional dan perdamaian dunia.

Sementara untuk misi Petanesia meliputi, pertama, meningkatkan semangat cinta Tanah Air, nasionalisme dan bela negara bekerja sama dengan TNI dan Polri.

Kedua, memberikan keteladanan dalam bermasyarakat untuk menumbuhkan toleransi dalam kebhinekaan.

Ketiga, membekali warga negara dengan pendidikan dan pelatihan dengan ilmu pengetahuan dan teknologi untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat.

“Keempat, berperan dalam pembangunan nasional melalui kegiatan sosial, ekonomi, budaya dan keagamaan untuk mewujudkan cita-cita pendiri bangsa,” imbuh Gus Ilyas.

Dikatakan dia, hal yang lebih utama adalah menjadi netral yang mampu mengayomi, menjadi teladan untuk kepentingan umat dan bangsa.

“Petanesia hadir untuk gerakan moral yang bisa mengayomi dan menjadi teladan untuk kepentingan umat dan bangsa Indonesia tercinta,” ujarnya.

Sementara itu, Habib Muhammad Luthfi bin Yahya mengatakan, kehadiran organisasi kemasyarakatan (Ormas) Petanesia murni gerakan kebangsaan.

Petanesia semata-mata mendukung keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI).

“Petanesia ormas gerakan kebangsaan untuk mendukung keutuhan NKRI. Bukan organisasi politik dan jangan sekali-kali terpengaruh urusan politik,” tegas Rais Aam Idarah Aliyah Jamiyah Ahlit Thariqah Al-Mu’tabarah An-Nahdliyah (Jatman) ini.

Dikatakannya, hal yang lebih utama adalah menjadi netral yang mampu mengayomi, menjadi teladan untuk kepentingan umat dan bangsa.

“Petanesia hadir untuk gerakan moral yang bisa mengayomi dan menjadi teladan untuk kepentingan umat dan bangsa Indonesia tercinta,” ujarnya.

Menurut Habib Luthfi, untuk mencapai semuanya memerlukan waktu dan kecerdasan. Oleh karena itu, Petanesia mendorong bangsa Indonesia agar bisa menggapai jembatan emas, meski membutuhkan proses yang cukup panjang.

“Dalam dunia pewayangan, ada tiga tokoh yang bisa menjadi contoh bagaimana mereka dengan kecerdasannya serta perannya masing-masing bisa membawa negara yang aman, adil, dan makmur. Mereka adalah Kresna, Werkudara, dan Semar,” ucapnya. (derek)

You may also like

Leave a Comment