Home Opini Kekalahan Nurhadi Menjadi Pelajaran Berharga bagi Anies Baswedan

Kekalahan Nurhadi Menjadi Pelajaran Berharga bagi Anies Baswedan

by Slyika

Perebutan pucuk pimpinan Himpunan Pengusaha KAHMI (HIPKA), sebuah Organisasi Pengusaha Muslim yang mewadahi alumni HMI telah berakhir Rabu (7/12/22) lalu di Hotel Sultan, Jakarta.

Munas HIPKA ke-3 yang dibuka Ketua MPR-RI Bambang Soesatyo dan ditutup Menparekraf Sandiaga Uno itu berhasil memilih Ketua Umum HIPKA yang baru, Kamrussamad yang juga Anggota Komisi XI DPR-RI dari Fraksi Partai Gerindra Dapil-3 DKI Jakarta.

Dalam perebutan kursi Ketua Umum HIPKA yang dramatis dan menegangkan itu, Kamrussamad berhasil mengalahkan Nurhadi M Musawir dengan selisih suara yang cukup telak sekaligus mengejutkan.

Dari 35 suara pemilih Badan Pengurus Wilayah (BPW), Kamrussamad berhasil mendapatkan 28 suara sedangkan Nurhadi hanya 6 suara.

Padahal sehari sebelumnya, Nurhadi yang juga salah seorang deklarator dan Sekjen HIPKA selama 12 tahun (2010-2022) itu, diperkirakan akan menang mudah karena sudah mengantongi dukungan suara 24 BPW.

Namun hanya dalam sehari terjadi eksodus massal suara para pendukungnya ke kubu Kamrussamad, sehingga Nurhadi hanya kebagian 6 suara dan Kamrussamad 28 suara.

Padahal, sebagai deklarator dan Sekjen HIPKA periode 2010-2022 bersama Ketua Umum Tubagus Farich, Nurhadi jauh lebih populer dikalangan para Ketua HIPKA di provinsi atau BPW dibandingkan Kamrussamad yang menjabat sebagai salah seorang Ketua HIPKA.

Nurhadi-lah yang sering keliling Indonesia untuk melantik dan menerbitkan serta mengesahkan SK mereka sampai terbentuk di 34 provinsi seluruh Indonesia.

Sebagai orang kedua di HIPKA setelah Tubagus Farich yang sudah sepuh, boleh dikatakan kharisma kepemimpinan dan ketokohan Nurhadi dikalangan para Ketua HIPKA provinsi dan kabupaten/kota seluruh Indonesia sudah sangat masyhur, bahkan boleh dikatakan melebihi Ketua Umum Tubagus Farich sendiri.

Dengan demikian, sesungguhnya Nurhadi telah “berkampanye” untuk menjadi orang pertama di HIPKA selama 12 tahun.

Maka tidaklah mengherankan jika pada hari pertama munas, 24 dari 34 BPW yang memiliki hak suara sudah berkomitmen untuk mendukung Nurhadi, sebagai balas jasa terhadap kebaikan Nurhadi yang telah menerbitkan SK dan melantik mereka sebagai Ketua BPW di masing-masing provinsi.

Mereka sama datang ke kamar Nurhadi di lantai 6 untuk menyatakan dukungannya terhadap mantan Anggota DPR RI dari FPAN tersebut.

Namun apa yang terjadi pada hari kedua? Ternyata terjadi pembelotan secara besar-besaran, dari semula mereka pendukung Nurhadi berbalik menjadi mendukung Kamrussamad. Mengapa hal itu bisa terjadi?

Dari hasil investigasi penulis sebagai pemerhati HIPKA, terjadinya pembelotan para Ketua BPW yang selama ini menjadi pendukung Nurhadi itu diduga disebabkan adanya “Serangan angin malam yang dingin mengigilkan” yang menyebabkan mereka semua “masuk angin” dan berbalik menjadi pendukung Kamrussamad.

Sehingga dari 24 pendukung Nurhadi, 18 diantaranya “masuk angin” dan hanya 6 yang tetap istiqomah dan konsisten mendukung Nurhadi, meski serangannya begitu bertubi-tubi dan dahsyat.

Kalau diibaratkan perang Rusia versus Ukraina, pertahanan Ibu Kota Ukraina Kiev yang kuat menjadi porak poranda pada akhir Oktober lalu setelah diserbu puluhan Drone Kamikaze Shahed-136 buatan Iran yang dibeli Rusia, dimana pada moncongnya terdapat bom dahsyat seberat 50 kg mampu meruntuhkan gedung gedung bertingkat di Ibu Kota Kiev.

Jadi, meski Nurhadi telah membangun pertahanan kuat dan berlapis-lapis selama 12 tahun sebagai Sekjen HIPKA yang sangat berpengaruh dan dihormati karena kejujurannya, namun setelah diserbu “Drone Kamikaze Samad-50” semuanya menjadi porak poranda.

Para loyalis Nurhadi tidak mampu melawan bahkan mempertahankan serbuan dahsyat dari “Drone Kamikaze Samad-50” yang bersenjatakan bom dahsyat Rp dan USD (dolar Amerika) tersebut.

Pelajaran Bagi Anies

Sekarang yang menjadi pertanyaan adalah, apa yang bisa diambil pelajaran dari kekalahan Nurhadi secara tragis ini bagi bakal calon Presiden Anies Baswedan pada Pilpres 2024 mendatang?.

Pertama, dukungan rakyat yang demikian gegap gempita dan bergelora terhadap Anies, dimana salah satu lembaga survei mencatat jika hari ini diadakan pilpres, maka Anies akan menang mutlak dengan 75 persen suara pemilih; maka itu tidak akan menjamin kemenangan bagi Anies.

Sebab suara sebesar itu akan rontok dan masuk angin semua jika lawan Anies memiliki strategi politik dengan mengerahkan “Drone Kamikaze Oligarki 2024” dengan muatan bom dahsyat Rp500 ribu persuara melalui serangan fajar.

Para pemilih dan loyalis Anies di berbagai daerah akan rontok satu persatu menjadi mencoblos lawan Anies pada Pilpres 2024 nanti, apakah itu Ganjar, Puan, Prabowo, Erick atau lainnya.

Kedua, sebagaimana pernah dikatakan pengacara Brigadir Joshua, Kamarudin Simanjuntak, oligarki Taipan China siap menyediakan dana Rp300 triliun untuk menjegal menggagalkan atau mengalahkan Anies pada Pilpres 2024 mendatang.

Dana sebesar itu sudah lebih dari cukup untuk digunakan membeli para pejabat eksekutif, yudikatif, legislatif, KPU, Bawaslu, partai politik, TNI, Polri, ormas-ormas bahkan suara rakyat pemilih yang mencapai 204 juta suara tersebut.

Ketiga, pada Pilpres 2019 lalu yang diduga penuh dengan kecurangan, sumber kecurangan suara terjadi pada KPU Pusat dan KPUD di daerah tetapi muaranya pada KPU Pusat.

Hal itu telah dibuktikan pada kasus penjegalan Partai Ummat baru baru ini. Untuk itu agar kecurangan tidak terulang kembali, seluruh Komisioner KPU Pusat seharusnya “direshuffle” dengan Komisioner baru yang memiliki integritas, amanah, kejujuran, kecerdasan serta ketaqwaan yang tinggi.

Sehingga nanti diharapkan akan menghasilkan seorang pemimpin bangsa dan negara yang benar-benar membela dan melindungi rakyat, mensejahterakan rakyat, dicintai rakyat dan bukan boneka oligarki Taipan Aseng, Aamiin…

Abdul Halim
Jurnalis Muslim dan Pemerhati HIPKA

You may also like

Leave a Comment