BANDUNG – Sebuah penghormatan dalam memperingati satu tahun wafatnya seniman di bidang seni lukis dan kaligrafi, doktor ilmu seni rupa dan desain dari Kota Bandung Dr.Tjutju Widjaja S.Sn, M.Sn.
Acara ini dihadirkan dalam bentuk perjalanan Karya dan Karsa melalui Pendidikan, Seni dan Sosial dalam rangka mengenali kembali identitas seniman perempuan Tjutju Widjaja.
Kegiatan berlangsung di Intercontinental Bandung Dago Pakar pada 5 – 7 Desember 2023 ini juga ditujukan sebagai bagian dari persiapan penyelenggaraan pameran tunggal Tjutju Widjaja di d-Gallerie (Jakarta) pada awal tahun 2024 nanti.
Persiapan serta penyelenggaraan kegiatan pameran yang telah beliau kerjakan lebih dari lima puluh persen itu akan dilanjutkan oleh pihak keluarga bersama dengan d-Gallerie.
Bagi warga, komunitas pendidikan, serta komunitas seni dan Budaya di Bandung, sosok Tjutju Widjaja adalah figur istimewa.
Sebagian dari catatan dan dokumentasi tentang karya dan karsa beliau kini turut ditampilkan.
Peristiwa peringatan ini tidak semata-mata dinyatakan sebagai cara untuk mengingat-ngingat saja, namun yang lebih penting justru menjadikannya sebagai moment untuk terus menghidupkan inisiatif, usaha, dan tindakan.
Serta pengorbanan yang telah beliau berikan menjadi gerak kemajuan seni dan budaya di kota Bandung.
Sebagai figur seorang ibu dan nenek, Tjutju Widjaja terus berupaya untuk menghidupkan sikap penghargaan dirinya pada masalah perempuan dan anak.
Beberapa periode dari ekspresi lukisannya mengangkat tema kepedulian pada masa kini dan masa depan kaum perempuan serta anak-anak.
Semua kisah pengalaman maupun sikap penghargaan yang dinyatakan oleh publik Bandung bagi beliau akan menjadi bahan catatan dan informasi penting bagi pihak keluarga serta menjadi bagian dari gagasan pendirian Museum Tjutju Widjaya di Bandung.
Untuk dikukuhkan sebagai seorang pelukis beliau menempuh jenjang pendidikan formal seni rupa hingga mencapai jenjang tingkat yang tertinggi.
Bergerak dari pendekatan kecenderungan realis, Tjutju Widjaja melakukan eksporasi kemungkinan ekspresi yang mampu terus menghidupkan tradisi seni lukis realisme ke dalam arus perkembangan seni rupa kontemporer.
Tentu saja tidak mudah namun karya-karya yang telah diciptakannya mampu memberikan ‘tawaran estetis’ yang berarti tidak hanya bagi perkembangan seni lukis di Bandung tetapi juga bagi seni rupa Indonesia.
Periode akhir dari karya-karya beliau adalah kecenderungan ekspresi seni yang mengambil inspirasi dari tradisi seni kaligrafi China.
Kecenderungan ini pula yang dibawa dalam proyek karya-karya tugas akhirnya di jenjang doktoral.
Diskusi mengenai lukisan-lukisan terakhir Tjutju Widjaja, dalam tema penciptaan seni kaligrafi, justru mengarah pada jenis perkembangan ekspresi seni lukis lainnya, yaitu kecenderungan abstrakisme.
Sejarah perkembangan ‘seni rupa Bandung’ juga sarat dengan sejarah gagasan abstrakisme dalam tradisi seni lukis modern.
Model penciptaan karya yang dilakukan beliau sendiri menunjukkan kecenderungan untuk mewujudkan ekspresi bentuk yang bersifat abstrak.
Di sini, diskusi tentang wujud abstrak dan metoda abstrakisme yang dikembangkan beliau menjadi menarik.
Ekspresi tulisan, bahkan dalam wataknya yang estetis, pada dasarnya adalah wujud kenyataan abstrak yang diciptakan oleh karakter bahasa.
Fungsi bahasa dalam bentuk penampilannya secara visual adalah ‘simbol’ khas yang mengandung hasil-hasil abstraksi pikiran yang menyimpulkan proses penilaian mengenai sebuah wujud bentuk atau entitas tertentu.
Bahasa yang digunakan dalam interaksi komunikasi umum dan biasa disusun dengan rumusan sistem penandaan yang formal dan pasti demi menjamin makna-makna yang dikomukasikan.
Karya-karya puisi, di sisi yang lain, ‘menyembunyikan’ maksud dari makna yang dipikirkan sang penyair melalui ‘strategi’ susunan estetis atas makna kata.
Ekspresi bahasa dalam cara penyampaian tradisi seni kaligrafi, berikutnya, merupakan cara penyampaian pengalaman berbahasa secara perseptual dan bersifat estetis.
Karya-karya ‘dekonstruksi’ atas tradisi seni kaligrafi yang diciptakan Tjutju Widjaja (alm) di hadapan kita mengundang pengembangan cara pemahaman terbarukan tentang makna, bahasa, dan ekspresi gagasan yang bersifat visual secara sekaligus.
Bekerja sama dengan InterContinental Bandung Dago Pakar yang memberikan dukungan penuh terhadap seniman lokal Bandung, Karya dan Karsa diharapkan dapat dinikmati oleh publik selama tiga hari.
“Kerja sama ini merupakan bentuk kepedulian InterContinental Bandung Dago Pakar terhadap seni, pendidikan, dan sosial di Kota Bandung,” ujar General Manager InterContinental Bandung Dago Pakar, Pascal Caubo, di Bandung Selasa (5/12/23).
“Diharapkan dengan bentuk kepedulian ini, warga Kota Bandung dapat menjaga kelestarian karya-karya dari seniman lokal Bandung, terutama seniman perempuan,” lanjutnya.
Rangkaian Karya & Karsa dapat Anda kunjungi pada tanggal 5-7 Desember 2023 di Intercontinental Bandung Dago Pakar.
Acara juga didukung oleh Papatong Artspace, Humanika, ITB, ISBI Bandung, Unika Maranatha Bandung, Darul Inayan dan YDSP Bandung.
