Di hadapan Tuhan semua manusia sama. Ketakwaan kepada-Nya yang membedakannya. Untuk itu agar berusaha optimal melaksanakan seluruh perintah-Nya dan meninggalkan larangan-Nya.
Terkait dengan itu, manusia yang mulia di mata Tuhan adalah yang paling bertakwa kepada-Nya.
Di manapun berada, dalam kondisi apapun, selalu dekat dengan Sang Pencipta.
Penjelasan tentang ketakwaan itu ada di Alquran. Kutipannya di bawah ini.
“Hai manusia, sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling kenal-mengenal. Sesungguhnya orang yang paling mulia di antara kamu di sisi Alloh ialah orang yang paling takwa di antara kamu. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal.” (QS. Al Hujurat: 13).
Melihat hal di atas maka sudah seharusnya sesama manusia saling menghargai dan menghormati. Jangan ada yang memandang rendah orang lain.
Realita dalam kehidupan yang terjadi sering berbeda dari penilaian Tuhan terhadap manusia.
Banyak yang menilai seseorang dari latar belakangnya terkait duniawi. Memilah dan memilihnya.
Selain dari sisi pendidikan, ada yang menilainya dari segi ekonomi, pangkat, jabatan, dan lainnya. Makin tinggi atau lebih dibandingkan yang lain maka semakin dihormati.
Jangan ‘Mengalahkan’ Tuhan
Kenyataannya, mereka yang secara duniawi memiliki kelebihan dibandingkan yang lain terlihat secara kasat mata, belum tentu yang terbaik di mata Tuhan.
Bisa jadi (mungkin) yang paling hina.
Manusia memiliki keterbatasan melihat seseorang.
Hanya yang tampak atau tersurat saja.
Sebaliknya yang tak tampak atau tersirat tidak kelihatannya.
Tuhan sangat baik kepada umatnya. Menutup rapat-rapat aibnya.
Jika semuanya dibuka maka akan terlihat nyata kondisi setiap orang dan yang telah dibuatnya.
Sebaiknya dalam menilai manusia janganlah berbeda dengan Tuhan.
Apalagi sampai “mengalahkan” penilaian-Nya.
Paling hakikih dan tertinggi adalah penilaian Tuhan.
Seharusnya setiap manusia meneladani-Nya dan konsisten melaksanakannya.
Upayakanlah agar menghargai manusia secara universal.
Sama semuanya tanpa sedikit pun membeda-bedakan. Meski dalam keseharian ada perbedaan.
Semua itu kembali kepada rezeki masing-masing individu yang berasal dari Tuhan.
Kelebihan yang dimiliki bukan untuk merendahkan atau menjatuhkan yang lainnya.
Justru mengangkat mereka yang memiliki kekurangan.
Bersikap positif seperti itu membuat hidupnya berkah.
Sekaligus sebagai contoh nyata meneladani Tuhan.
Ingat, sebaik-baiknya manusia adalah yang paling bertakwa kepada Tuhan.
Untuk itu biasakanlah menghargai semua orang secara universal.
Dr Aqua Dwipayana
Pakar Komunikasi dan Motivator Nasional
