TULISAN bagus itu hanya salah satu penunjang. Esensinya, bagaimana narasi yang terdapat di buku tersebut bermanfaat bagi pembacanya. Menambah literasi baru, meningkatkan kualitas diri, baik dalam hubungan vertikal (Habluminallah) dan horizontal (Habluminannas).
JIKA setelah membaca, kemudian menjadi paham (mengerti), sepertinya banyak sekali. Tetapi, apakah kemudian mampu mengamalkan ilmu dan pengetahuannya, rasanya masih sedikit. Ini yang disebut, keberkahan karya tulis dalam sebuah buku atau keberkahan ilmu dalam konteks menimba ilmu.
KEBERKAHAN sebuah karya (tulis) jauh lebih penting ketimbang fokus kepada kemampuan memahami. Sama padannya, berapa banyak orang pintar, tetapi tidak bermanfaat di masyarakat karena tiadanya unsur keberkahan. Namun, tidak sedikit orang biasa jauh lebih cemerlang di masyarakat lantaran keberkahan mengikutinya.
BAGI penulis, mendokumentasikan pandangan seorang ulama besar, seperti DR. KH. Noer Muhammad Iskandar, SQ adalah kebanggaan sekaligus tantangan. Diperlukan niat yang mulia, dikerjakan dengan etika dan penuh rasa, serta kehati-hatian. Dimasukkan unsur spiritualitas agar menjadi sebuah keberkahan.
SEBELUM memulai, harus izin terlebih dahulu dengan ziarah (sowan) makamnya. Dilanjutkan mohon doa restu ke ahlul bait (keluarganya). Sebelum menyusun narasi, maupun mengedit diawali kirim doa kepada Rasulullah SAW dan “Sang Kiai”. Berulang kali, disesuaikan dengan jumlah sub judul atau tema.
AGAR tidak terjadi kesalahan spelling (ejaan), ukuran font juga diperbesar. Jika diperlukan dibaca dua kali, persis mengedit berita. Data dan fakta, tak terkecuali bahasa asing, terutama yang berhubungan dengan ayat dan hadist, juga harus di-check and recheck dan seterusnya.
HARAPANNYA, bisa memberikan yang terbaik bagi semua pihak, mewujudkan sebuah buku yang memberikan keberkahan (bertambahnya kebaikan) bagi semuanya.
TEPAT di Bulan Ramadhan 1442 Hijriah, kumpulan lembaran kertas tersebut selesai disusun. Momentum bulan suci diharapkan memberkahi sebuah “pekerjaan cinta” ini.
BUKU “Saksi Kebajikan Sang Kiai” hadir sebagai pembuktian bahwa Sang Kiai adalah sosok dengan sejuta kebajikan. Tidak hanya diakui oleh orang dalam (keluarga dan saudaranya), tetapi juga orang luar (sahabat, teman, kolega, dan para santri)
PANCARAN ilmu dan amal menggambarkan kepribadian yang pantas untuk diambil keteladannya. Tradisi pendidikan agama berbasis pesantren dijadikan benteng pertahanan, sekaligus akulturasi peradaban modern yang terbaik tanpa mengurangi tradisi lama yang masih baik. (Al Muhaafadzatu Alaa Al qodimissholih Wal Ahdzu Biljaddidil Al Ashlah)
SANG Kiai kini telah tiada. Tetapi, ajaran kebaikannya harus tetap hidup sejalan dengan mengalirnya amal soleh yang telah dilakukannya. “Abah, mohon maaf jika ada kesalahan tulisan dan etika pembuatan. Mohon dari yang setitik dan tak berarti ini dapat diterima dengan senang hati. Aaamiiin YRA”
MOHON maaf lahir dan bathin,
Semoga bermanfaat,
Wallahu’alam.
Nurcholis Qadafi
Wartawan Senior, Penceramah dan Usahawan
