اللهُ أَكْبَرُ، اللهُ أَكْبَرُ، اللهُ أَكْبَرُ. اللهُ أَكْبَرُ، اللهُ أَكْبَرُ، اللهُ أَكْبَرُ. اللهُ أَكْبَرُ، اللهُ أَكْبَرُ، اللهُ أَكْبَرُ، وَلِلَّهِ الْحَمْدُ
الْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِي جَعَلَ الْأَعْيَادَ مَنَارًا لِلْمُتَّقِينَ، وَأَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ الْمَلِكُ الْحَقُّ الْمُبِينُ، وَأَشْهَدُ أَنْ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ الصَّادِقُ الْوَعْدِ الْأَمِينُ. اَللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ أَجْمَعِينَ
أَمَّا بَعْدُ، فَيَا عِبَادَ اللهِ، أُوصِيكُمْ وَنَفْسِي بِتَقْوَى اللهِ فَقَدْ فَازَ الْمُتَّقُونَ.
Jamaah Shalat Idul Adha yang Dirahmati Allah,
Hari ini, gema takbir membahana membelah angkasa, mengagungkan asma Allah yang Maha Besar.
Di saat yang sama, jutaan saudara kita di tanah suci baru saja menyelesaikan wukuf di Arafah dan melontarkan jumrah, sebuah miniatur pengadilan mahsyar yang mengingatkan kita bahwa ego, kesombongan, dan jabatan duniawi semuanya akan runtuh di hadapan Allah Azza wa Jalla.
Idul Adha bukan sekadar perayaan penyembelihan hewan kurban.
Ia adalah momentum untuk menyembelih “ego kekuasaan”, kerakusan, kezaliman, cinta dunia, dan hasrat menguasai manusia demi kepentingan pribadi maupun kelompok.
Sebab yang paling sulit disembelih bukanlah hewan kurban, melainkan hawa nafsu yang bercokol dalam dada manusia.
Jamaah yang Dimuliakan Allah,
Al-Qur’an telah memberikan garis tegas bahwa setiap amanah dan kedudukan yang dimiliki manusia di muka bumi memiliki standar Ilahiyah yang mutlak. Allah SWT berfirman dalam Surah Al-Hajj:
اَلَّذِيْنَ اِنْ مَّكَّنّٰهُمْ فِى الْاَرْضِ اَقَامُوا الصَّلٰوةَ وَاٰتَوُا الزَّكٰوةَ وَاَمَرُوْا بِالْمَعْرُوْفِ وَنَهَوْا عَنِ الْمُنْكَرِۗ وَلِلّٰهِ عَاقِبَةُ الْاُمُوْرِ
“Orang-orang yang jika Kami beri kedudukan di bumi, mereka melaksanakan salat, menunaikan zakat, menyuruh berbuat makruf, dan mencegah dari yang munkar. Dan hanya kepada Allah kesudahan segala urusan.” (QS. Al-Haj [22]: 41)
Ayat ini menegaskan bahwa kekuasaan bukan hak absolut untuk mengendalikan manusia, melainkan amanah Ilahiyah untuk menegakkan agama dan keadilan.
Keberhasilan sebuah pemerintahan tidak diukur dari megahnya pembangunan, luasnya kekuasaan, atau kuatnya citra politik, tetapi dari tegaknya shalat sebagai fondasi moral, hidupnya keadilan sosial melalui zakat, serta keberanian kolektif dalam menegakkan kemakrufan dan mencegah kemungkaran.
Dimensi spiritual dan sosial dalam ayat ini berkelindan secara kausalitas.
Shalat yang ditegakkan oleh para pemegang amanah menjadi fondasi moral dan benteng spiritual, ia menjaga kesucian hati pemimpin agar melahirkan kebijakan yang adil, sekaligus mencegah lahirnya tirani dan kezaliman.
Sebaliknya, kekuasaan yang gagal mewujudkan nilai-nilai tersebut telah kehilangan ruh spiritual dan legitimasi moralnya.
Ketika hubungan dengan Allah rusak, maka hubungan dengan manusia pun ikut rusak.
Kekuasaan tanpa moralitas bukanlah tanda kemuliaan, melainkan bisa menjadi istidraj, kenikmatan semu yang meninabobokan sebelum datangnya kehinaan.
Tanpa evaluasi dan pertobatan, kekuasaan yang korup hanya akan menyeret pelakunya pada kerugian di dunia dan kebinasaan di akhirat.
Jamaah yang Dirahmati Allah,
Rasulullah SAW bersabda dalam hadis riwayat Sunan Ibnu Majah:
إِنَّ مِنَ النَّاسِ مَفَاتِيحَ لِلْخَيْرِ، مَغَالِيقَ لِلشَّرِّ، وَإِنَّ مِنَ النَّاسِ مَفَاتِيحَ لِلشَّرِّ مَغَالِيقَ لِلْخَيْرِ، فَطُوبَى لِمَنْ جَعَلَ اللَّهُ مَفَاتِيحَ الْخَيْرِ عَلَى يَدَيْهِ، وَوَيْلٌ لِمَنْ جَعَلَ اللَّهُ مَفَاتِيحَ الشَّرِّ عَلَى يَدَيْهِ
“Sesungguhnya di antara manusia ada yang menjadi pembuka pintu kebaikan dan penutup pintu keburukan. Dan sesungguhnya di antara manusia ada yang menjadi pembuka pintu keburukan dan penutup pintu kebaikan.”
Hadis ini menyingkap hakikat peran manusia dalam sejarah: sebagai kunci kebaikan atau gerbang keburukan.
Ada yang menjadi jalan kemaslahatan melalui lisan dan teladan hingga kemungkaran terhalang.
Sebaliknya, ada yang menjadi katalis kerusakan melalui ucapan dan tindakan hingga keburukan meluas menjadi kelumrahan.
Ketika peran ini berada di tangan penguasa, dampaknya menjadi berlipat ganda. Sebab kekuasaan adalah pengganda akibat.
Satu kebijakan dapat menghadirkan kemaslahatan bagi jutaan jiwa, namun satu keputusan zalim juga dapat melahirkan penderitaan yang diwariskan lintas generasi.
Ia bisa menjadi pintu keberkahan yang melembagakan kebaikan secara sistemik, atau menjadi pintu kehancuran yang melegalisasi kerusakan hingga keburukan bertransformasi menjadi tatanan.
Jamaah yang Dimuliakan Allah,
Hari ini kita sedang menghadapi krisis besar: melemahnya keberanian nahi munkar di hampir seluruh lapisan kehidupan.
Kemungkaran tidak lagi dianggap ancaman moral, tetapi perlahan dinormalisasi, dipertontonkan, bahkan dilegalkan atas nama kepentingan politik, ekonomi, hak asasi, dan kebebasan tanpa batas.
Sebagian penguasa terjebak dalam pragmatisme kekuasaan dan transaksi kepentingan.
Kekuasaan yang seharusnya menjadi alat pelayanan berubah menjadi instrumen mempertahankan pengaruh dan melindungi oligarki.
Hukum menjadi tajam kepada rakyat kecil namun tumpul kepada pemilik modal dan kekuatan politik.
Ironisnya, ditengah meningkatnya kriminalitas dan keberingasan sosial, kita juga menyaksikan lahirnya cara pandang yang kehilangan kejernihan moral.
Ada pejabat yang menyatakan bahwa perampok dan pelaku kejahatan tidak boleh ditembak karena hak asasi mereka harus dilindungi.
Tentu Islam mengajarkan penghormatan terhadap hak asasi manusia dan melarang tindakan zalim terhadap siapa pun.
Namun pertanyaannya, jika hak pelaku begitu lantang dibela, lalu siapa yang melindungi hak asasi para korban ?
Siapa yang membela hak pedagang kecil yang hartanya dirampas ?
Siapa yang menjaga hak rakyat yang hidup dalam ketakutan akibat premanisme dan kekerasan jalanan ?
Siapa yang memulihkan hak keluarga yang kehilangan anggota keluarganya akibat kebrutalan para pelaku kejahatan ?
Ketika belas kasih hanya diarahkan kepada pelaku sementara penderitaan korban diabaikan, maka keadilan sedang kehilangan keseimbangannya.
Hukum akhirnya tampak lebih sibuk melindungi pelaku kejahatan daripada menghadirkan rasa aman bagi masyarakat.
Islam adalah agama rahmat dan keadilan sekaligus.
Ia melarang kezaliman, tetapi juga tidak membenarkan kelemahan yang membiarkan kemungkaran tumbuh tanpa ketegasan.
Sebab membiarkan kejahatan merajalela atas nama toleransi yang keliru justru merupakan pengkhianatan terhadap hak hidup masyarakat luas.
Karena itu, negara tidak boleh kalah oleh premanisme.
Negara tidak boleh tunduk kepada rasa takut.
Dan negara tidak boleh kehilangan keberpihakan kepada rakyat kecil yang setiap hari hidup di bawah ancaman kriminalitas dan kekerasan sosial.
Disisi lain, sebagian organisasi sosial dan kelompok masyarakat juga kehilangan independensi moralnya.
Kritik menjadi selektif, keras kepada lawan, namun diam terhadap kemungkaran yang dilakukan kelompok sendiri.
Banyak organisasi yang awalnya berdiri tegak sebagai kontrol sosial dan moral, kini perlahan melunak setelah masuk ke dalam lingkaran fasilitas duniawi.
Nahi munkar tidak lagi dilakukan secara objektif, ia tajam ketika berhadapan dengan lawan, namun tumpul dan senyap ketika kemungkaran itu dilakukan oleh pihak yang memberi mereka keuntungan politik.
Sementara masyarakat luas perlahan terseret pada budaya apatis.
Banyak orang memilih diam demi rasa aman pribadi.
Padahal ketika kemungkaran dibiarkan menjadi sistem, dampak kerusakannya akan menimpa seluruh masyarakat tanpa terkecuali.
Masyarakat hari ini didera ketakutan, takut kehilangan pekerjaan, takut dikucilkan, atau takut tersangkut masalah hukum jika berani bersuara.
Kita sering berlindung di balik dalih, “Yang penting urusan saya aman.”
Kita lupa bahwa ketika kemungkaran dibiarkan mengakar menjadi sebuah tatanan, maka azab dan dampak kerusakannya akan menimpa semua orang tanpa terkecuali, baik pelaku maksiat maupun orang shalih yang memilih diam.
Jamaah yang Dimuliakan Allah,
Kemerosotan berjamaah ini memicu lahirnya mentalitas sekuler yang memisahkan keshalihan pribadi dengan keshalihan sosial.
Kita rajin shalat, namun kita membiarkan kezaliman merajalela di depan mata kita.
Nabi Ibrahim dan Nabi Ismail mengajarkan kepada kita bahwa inti kurban adalah keberanian menyembelih ego. Ibrahim tidak mempertahankan ego sebagai ayah.
Ismail tidak mempertahankan ego sebagai manusia yang ingin tetap hidup. Keduanya tunduk total kepada perintah Allah.
Inilah pelajaran terbesar Idul Adha, bahwa peradaban tidak akan lahir dari manusia-manusia yang mempertuhankan jabatan, kelompok, dan kepentingannya sendiri.
Bangsa ini membutuhkan pemimpin yang berani mengorbankan ambisi demi keadilan, ulama yang berani menyampaikan kebenaran tanpa takut kehilangan kedekatan dengan penguasa dan masyarakat yang tidak diam ketika melihat kemungkaran tumbuh menjadi sistem.
Pada akhirnya, kekuasaan hanyalah titipan yang sementara. Jabatan akan berakhir, pengaruh akan memudar, dan manusia akan kembali berdiri sendirian di hadapan Allah.
Yang tersisa bukanlah seberapa lama seseorang berkuasa, tetapi apakah ia menjadi kunci kebaikan atau justru pintu kerusakan bagi rakyatnya.
Maka, berbahagialah pemimpin dan elemen umat yang menjadi kunci kebaikan, dan celakalah mereka yang justru berubah menjadi gerbang keburukan bagi sesama.
Kekuasaan bukan sekadar jabatan, melainkan penentu arah peradaban.
Ditangan pemimpin yang adil, ia menjadi jalan turunnya rahmat.
Di tangan pengkhianat amanah, ia menjadi penarik murka Ilahi.
Dari sanalah nasib suatu bangsa ditentukan, bergerak menuju puncak keberkahan, atau terjerumus dalam jurang kebinasaan.
Maka pada hari raya kurban ini, marilah kita menyembelih ego, ketamakan, dan kesombongan dalam diri kita.
Sebab kehancuran sebuah bangsa tidak dimulai dari lemahnya ekonomi atau teknologi, melainkan dari matinya hati nurani dan hilangnya keberanian menegakkan kebenaran.
بَارَكَ اللهُ لِيْ وَلَكُمْ فِي الْقُرْآنِ الْعَظِيْمِ، وَنَفَعَنِيْ وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنَ الآيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيْمِ. أَقُوْلُ قَوْلِيْ هَذَا وَأَسْتَغْفِرُ اللهَ الْعَظِيْمَ لِيْ وَلَكُمْ، فَاسْتَغْفِرُوْهُ إِنَّهُ هُوَ الْغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ
Munajat
Jamaah yang Dirahmati Allah,
Mari kita pungkasi ibadah shalat Idul Adha ini dengan menundukkan hati, memohon kepada Allah SWT agar kita, pemimpin-pemimpin kita, ormas, dan seluruh lapisan masyarakat diselamatkan dari fitnah kekuasaan serta penyakit ketidakpedulian yang merusak.
اَللَّهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ وَالْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ اَلْأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَالْأَمْوَاتِ
Ya Allah, zat yang menggenggam setiap hati manusia. Jadikanlah kami, anak cucu kami, ormas-ormas kami, serta para pemimpin kami sebagai pembuka pintu-pintu kebaikan dan penutup pintu-pintu keburukan. Jauhkanlah kami dari sifat pengecut yang mendiamkan maksiat dan melegalisasi kezaliman di muka bumi ini.
Ya Allah, anugerahkanlah kepada bangsa kami pemimpin-pemimpin yang takut kepada-Mu, yang menegakkan shalat sebagai benteng moral, yang menunaikan zakat untuk keadilan ekonomi, serta yang memiliki keberanian mutlak untuk menyeru pada kemakrufan dan menumbangkan kemungkaran.
رَبَّنَا لَا تُزِغْ قُلُوبَنَا بَعْدَ إِذْ هَدَيْتَنَا وَهَبْ لَنَا مِنْ لَدُنْكَ رَحْمَةً إِنَّكَ أَنْتَ الْوَهَّابُ. رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الْآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ.
عِبَادَ اللهِ، إِنَّ اللهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَالْإِحْسَانِ وَإِيتَاءِ ذِي الْقُرْبَى وَيَنْهَى عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ وَالْبَغْيِ يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُونَ. فَاذْكُرُوا اللهَ الْعَظِيْمَ يَذْكُرْكُمْ، وَاشْكُرُوْهُ عَلَى نِعَمِهِ يَزِدْكُمْ، وَلَذِكْرُ اللهِ أَكْبَرُ.
والسَّلامُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ
Irfan S Awwas
Ulama dan Pengamat Politik Nasional
Redaktur: Abdul Halim
