Allah Tuntun Manusia Memenuhi Kebutuhan Hidupnya

by Slyika

Hanya Allah-lah tumpuan kehidupan ini. “Semua yang ada di langit dan di bumi selalu meminta kepada-Nya. Setiap waktu Dia dalam kesibukan.” (QS: Ar Rahman: 29).

Betapa kebesaran dan kekuasaan Allah demikian jelas dalam memberikan arah dan memenuhi kebutuhan hidup manusia.

Pengakuan atas kekuasaan Allah SWT, maka hendaklah pemahaman itu juga menjadi kepercayaan yang hakiki bagi umat Islam.

Pemahaman yang kuat sebagaimana konsep pemikiran yang dalam ajaran Islam, percaya secara mutlak bahwa keberadaan Allah dalam mengatur segala sesuatunya dalam kehidupan ini.

Atas kepercayaan itu, maka peran Allah SWT menyuluruh dalam kehidupan seorang manusia. Lantas mengapa  masih selalu kita merasa bahwa kita tidak perlu untuk mengabdi kepada Allah?

Bukan kah Jin dan manusia diciptakan hanya untuk mengabdi kepada Allah.? Hanya Allah-lah tumpuan kehidupan ini.

“Semua yang ada dilangit dan di bumi selalu meminta kepada Nya. Setiap waktu Dia dalam kesibukan.” (QS: Ar Rahman: 29).

Begitulah kebesaran Allah. Tiada yang nyata maupun yang tak nyata kecuali seutuhnya dalam ‘genggaman’ Allah.

Ingat Kembali

Sebagaimana dalam surah Ar Rahman ini, memberikan pengertian, alam seluruhnya ini tidak luput dari kesempurnaan Allah. Allah ciptakan matahari, bulan, bintang, pepohonan, langit yang tinggi, timbangan yang dipasang dan bumi berikut segala isinya untuk memenuhi keperluannya.

Seluruh makhluk dengan berbagai jenis dan spesiesnya yang berbeda-beda diciptakan dengan urusannya masing-masing sesuai dengan kehendak-Nya.

Menandakan kesemua ini, tercipta dengan sempurna dan terkendali sesuai dengan alurnya dan hukumnya.

Hanya kepada Allah SWT sematalah penyerahan kewujudan itu berserah diri. Allah adalah Sang Penguasa atas seluruh seru sekalian alam termasuk alam akhir nanti.

Ya Allah hanya kepadaMu kuserahkan semua yang meliputi diriku yang hanya sebagian kecil dari seluruh ciptaan Mu. Memang sebagaiman Firman Allah berkata,”Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan agar mereka beribadah kepada-Ku.” (QS: Az Zariyat (51): 56). Jelas sekali perintah itu.

Maka dari itu pula berserah dirilah hanya kepada Allah. Allah adalah tempat perserahan diri saat gemuruh ombak yang menghempas, saat sebuah kapal terombang ambing, maka mereka menyeru hanya kepada Allah.

Ketika seorang musyafir kelana tersesat di gurun pasir yang luas, seperti tak berujung dan tandus , ia pun menyeru, bencana yang menimpa dunia ini membuat manusia kehilangan harta benda dan mereka menyeru, ”Ya Allah.”

Ketika ada sesuatu yang tak mampu diselesaikan dan masalah pun makin menjadi menyulitkan, orang-orang akan memohon dan menyeru kepada Allah.

”Hujan dan gemuruh yang bertubi-tubi dan suaranya menggelegar menakutkan manusia, mereka pun menyeru, kepada Allah. Semuanya hanya kepada Allah dan semua menyebut nama Allah.

Perlu kita pikir dan renungkan apa yang ada pada diri, keluarga, rumah, pekerjaan, kesehatan dan harta benda segala macam yang tersedia di sekelilingmu. Janganlah engkau termasuk golongan dari “Mereka mengetahui nikmat Allah, kemudian mereka mengingkarinya…..”(QS An Nahl: 83).

Memang pola pikir kita adakalanya selalu tertuju pada yang terlihat oleh mata, dan menangkap fenomena kehidupan materialistic saja.

Padahal, bukankah setiap hari, di setiap kali sholat, dan tiap raka’at kita selalu membaca ayat yang mulia, ‘Iyyaka na’budu wa iyyaka nasta’in’; hanya kepada-Mu ya Allah kami beribadah, dan hanya kepada-Mu kami meminta pertolongan.

”Oleh sebab itu bagi seorang mukmin, tempat menggantungkan hati dan puncak harapannya adalah Allah semata, bukan selain-Nya.“………….Dan kepada Allah saja hendaknya kamu bertawakal, jika kalian benar-benar orang yang beriman.” (QS. al-Ma’idah: 23).

Ayat yang mulia ini menunjukkan kewajiban menggantungkan hati semata-mata kepada Allah, bukan kepada selain-Nya. Tawakal adalah ibadah.

Barangsiapa menujukan ibadah itu kepada selain Allah maka dia telah melakukan kemusyrikan (lihat al-Jadid fi Syarh Kitab at-Tauhid, hal. 256 dan 260).

“…..Dan barangsiapa yang bertawakal kepada Allah, maka Dia pasti akan mencukupkan (keperluan kamu)….” (QS. ath-Thalaq: 3).

Ayat ini menunjukkan bahwasanya tawakal merupakan salah satu sebab utama untuk bisa mendapatkan kemanfaatan maupun menolak kemadharatan. Tawakal adalah kewajiban dan ibadah.

“Dan janganlah kamu menyembah apa-apa yang tidak memberi manfaat dan tidak (pula) memberi mudharat kepadamu selain Allah. Bila kamu tetap melakukannya niscaya kamu termasuk golongan orang-orang yang zalim.” (QS. Yunus: 106).

Begitulah manusia ini hendaknya hanya berserah diri hanya kepada Allah semata saja. Tiada lain, karena Allah yang bisa memenuhi kebutuhan dan memberikan kemampuan.

Barangsiapa yang bergantung kepada selain Allah, niscaya dia akan ditelantarkan. Sebab hanya Allah satu-satunya tempat berlindung, meminta keselamatan, dan tumpuan harapan.

Allah, Rabb yang menguasai segenap langit dan bumi, tidak ada satupun makhluk yang luput dari kekuasaan dan ilmu-Nya.

Segala manfaat dan madharat berada di tangan-Nya. Maka sungguh mengherankan apabila manusia yang lemah bersandar kepada sesama makhluk yang lemah pula.

Kalaulah Allah yang menguasai hidup dan mati kita, lalu mengapa kita menggantungkan hati kita kepada selian Allah dan benda-benda mati yang tidak menguasai apa-apa?.

“Allah adalah Tuhan tempat meminta dan yang bergantung kepada-Nya segala sesuatunya”.(QS: Al Ikhlas : 2).

Bangun Lubis
Pemred Media Islam assajidin.com

0 comment
2

Related Post

Leave a Comment