Masih Adakah Tempat Aman bagi Wanita di Transportasi Umum?

by Slyika

Baru-baru ini warganet dihebohkan dengan video pelecehan seksual yang terjadi di salah satu gerbong kereta api. Setelah diselidiki, pelecehan tersebut terjadi di kereta Api Argo jurusan Solo-Jakarta.

Mengutip dari Fimela.com, video itu diunggah pertama kali pada hari Minggu (19/6), oleh akun Twitter @Selasarabu yang kuat diduga sebagai korban dari pelecehan seksual tersebut.

Video tersebut telah ramai di tonton lebih dari 2,2 kali, dikomentari oleh 3 ribu orang lebih, dan diretweet sebanyak 19 ribu kali, per Selasa (21/6).

Dari video tersebut, terlihat korban dan pelaku yang memang duduk bersebelahan. Namun tangan pelaku perlahan-lahan mencoba menyentuh paha korban dan merabanya.

“Itu dia berulang kali kyk begitu, ku videoin juga. Sudah ku tegur tapi masih ttp dilakukan. Tapi aku sudah pindah kursi ya, Alhamdulillah sudah aman. Thanks to Bapak Kondektur Argo Lawu Mr Wisnu Dwi P. Rasa campur aduk eh, panik, panas dingin, takut, gabisa gerak,” tulis akun @Selasarabu.

Sebelum kasus ini, sebenarnya sudah marak terjadi kasus pelecehan seksual baik itu di kereta ataupun di tempat lain.

Lalu apa saja hal yang bisa disebut pelecehan seksual? Bentuk-bentuk kejahatan seksual umumnya dilakukan dengan upaya memaksa keinginan salah satu pihak saja untuk merayu, mencolek, memeluk, meremas bagian tubuh, dan segala macam bentuk pelecehan lainnya hingga tujuan utamanya adalah melakukan persetubuhan paksa.

Dari bentuk-bentuk kejahatan seksual adalah sebagai berikut:

Pertama, Perkosaan. Perkosaan bisa dimaknai sebagai serangan dalam bentuk pemaksaan hubungan seksual, dalam serangan seksual itu ada upaya paksa, kekerasan, tekanan psikologis, penyalahgunaan kekuasaan atau mengambil kesempatan dari lingkungan yang penuh paksaan, dalam perkosaan terdapat unsur pemaksaan terhadap korban membuat pihak wanita merasa dirugikan. 

Kedua, Pelecehan Seksual. Pelecehan seksual ini adalah tindakan lewat sentuhan fisik atau nonfisik, yang sengaja atau berulang-ulang, atau hubungan fisik yang bersifat seksual bukan suka sama suka.

Namun pelecehan seksual mengacu pada perbuatan yang oleh korbannya dirasa tidak menyenangkan, karena perbuatan tersebut bersifat intimidasi, menghinakan atau tidak menghargai dengan membuat seorang sebagai obyek pelampiasan seksual.

Ketiga, Eksploitasi Seksual. Eksploitasi seksual tindakan penyalahgunaan kekuasaan yang timpang, atau penyalahgunaan kepercayaan, untuk tujuan kepuasan seksual, atau untuk memperoleh keuntungan.

Bentuk yang kerap terjadi adalah menggunakan kemiskinan keluarga perempuan untuk memasukannya kedalam prostitusi atau bisnis pornografi.

Keempat, Perdagangan Perempuan Untuk Tujuan Seksual. Perdagangan perempuan untuk tujuan seksual ini meliputi tindakan merekrut, mengangkut, menampung, mengirim, memindahkan atau menerima seseorang dengan paksaan atau rayuan untuk tujuan prostitusi atau eksploitasi seksual.

Kelima, Perbudakan Seksual. Perbudakan seksual adalah situasi diman pelaku merasa menjadi ‘pemilik’ atas tubuh korban sehingga berhak untuk melakukan apapun termasuk memperoleh kepuasan seksual melalui pemerkosaan atau cara lain.

Indonesia darurat perilaku pelecehan seksual, kedengarannya memang menyeramkan namun itulah faktanya.

Menurut komisioner tim pemantau Komnas Perempuan, Siti Aminah Tardi, pelecehan seksual juga merupakan salah satu bentuk tindakan kekerasan seksual. Kekerasan seksual ialah aktivitas seksual yang dilakukan tanpa persetujuan korban.

Bentuk kekerasan seksual dapat berupa pemerkosaan terhadap orang asing, pemerkosaan dalam pernikahan atau pacaran, pelecehan seksual secara mental atau fisik, aborsi paksa, dan pelecehan seksual terhadap anak.

Angka kasus kekerasan seksual yang terjadi pada perempuan dan anak di Indonesia masih tinggi. Jumlah kasus kekerasan terhadap perempuan pada periode 1 Januari 2022 hingga 21 Februari 2022 tercatat sebanyak 1.411 kasus.

Jumlah tersebut berdasarkan data Sistem Informasi Online Perlindungan Perempuan dan Anak (SIMFONI PPPA) Kementrian PPPA. Sementara, sepanjang tahun 2021 terdapat 10.247 kasus kekerasan terhadap perempuan yang dilaporkan dengan jumlah korban 10.368 orang.

Dilansir dari kompas.com, Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (PPPA), Bintang Puspayoga, menyebut, data dari kejadian di lingkungan pendidikan membuat miris.

“Jika kita lihat dari data kejadian dalam lingkungan pendidikan membuat kita miris, karena idealnya lingkungan pendidikan menjadi tempat untuk belajar kehidupan dan kemanusiaan justru menjadi tempat di mana nilai-nilai kemanusiaan direnggut dan dilanggar,” jelasnya dalam Webinar Peringatan Hari Perempuan Internasional dengan tema “Lawan Tabu, Perempuan Berani Bersuara”, Selasa (8/3/22).

Pendiri komunitas perEMPUan, Rika Rosvianti juga menceritakan kisah pelecehan seksual di salah satu transportasi umum yang pernah ia alami pada salah satu acara televisi swasta Kick Andy.

Kejadian tersebut terjadi beberapa tahun silam, kondisi bis yang padat membuat ia harus duduk berdempetan dengan seorang pria yang kemudia baru Rika sadari berusaha mengambil kesempatan licik. Pria tersebut mencoba meraba area kewanitaan Rika.

Tidak hanya kejadian tersebut, sebelumnya Rika pernah mendapat pengalaman buruk dari pelaku ekshibisionis. Tindakan mempertontonkan alat kelamin itu pun ia laporkan ke petugas keamanan.

Namun, laporannya tidak ditanggapi serius dan petugas justru menyalahkan dirinya yang berparas cantik dan keluar malam hari.

Dari pengalaman-pengalaman itu, Rika tergerak menyebarkan edukasi soal kekerasan dan pelecehan seksual. Perempuan 34 tahun ini mendirikan komunitas perEMPUan. 

Pelecehan seksual tidak bisa dibenarkan atau dianggap sepele sekalipun, karena dapat menyebabkan berbagai efek negative pada korbannya.

Maka dari itu harus disikapi dengan serius. Bukan hanya menimbulkan rasa tidak nyaman, pelecehan seksual juga membuat korban rentan mengalami berbagai gangguan psikis seperti kecemasan yang meningkat terus menerus, trauma, histeria dan yang terparah depresi.

Korban yang mengalami kekerasan atau pelecehan seksual harus segera diberikan konsultasi dan penanganan untuk trauma korban.

 Cicilia Dwita Ningsih

Mahaiswa S1 Digital Public Relations Telkom University

0 comment
2

Related Post

Leave a Comment