Terus Berbuat Baik, Cuekin Mereka yang Nyinyir

by Slyika

BOGOR Selama pandemi Covid-19 ini kesempatan untuk berbuat baik kepada sesama terbuka selebar-lebarnya. Melakukannya pada banyak orang, baik yang dikenal maupun tidak. Perbuatan itu mulia sekali apalagi jika diniatkan sepenuhnya ibadah, karena TUHAN, bukan yang lain.

Banyak sekali perbuatan baik yang bisa dilakukan selama pandemi Covid-19, sebab sangat banyak orang yang membutuhkan pertolongan. Tidak semata-mata materi, tapi bisa juga wujud yang lain.

Jadi yang dapat berbuat baik selama pandemi Covid-19 tidak hanya mereka yang punya materi, tetapi dapat dilakukan setiap orang. Asal ada kemauan untuk melakukan itu. Semuanya diawali dari niat dan hati yang bersih.

Mereka yang memiliki materi cukup bahkan lebih, saat pandemi Covid-19 ada yang butuh penguatan dan motivasi dari orang lain. Apalagi ketika kondisinya susah.

Ada yang sedang terbaring di rumah sakit karena terpapar Covid-19. Ada juga yang bisnisnya terpuruk. Tidak ada pemasukan sama sekali. Bahkan pengeluarannya yang banyak dan terus-menerus.

Mereka butuh orang lain untuk menyalurkan curahan hatinya. Menyimak unek-uneknya hingga mereka puas menceritakan ganjalan dalam hati dan pikirannya.

Orang yang mau menyimak semua keluhan mereka, sama dengan memberikan obat. Nilainya mahal sekali. Seluruhnya tersalurkan sehingga mengurangi beban hati dan pikirannya.

Apalagi jika orang yang menyimak itu kemudian mampu menenangkan dan menyenangkan hati mereka yang sedang sakit. Semua kalimat yang disampaikan menyejukkan. Memotivasi buat memberi harapan.

Membuka Saluran Komunikasi
Saat ini, banyak orang yang membutuhkan orang lain untuk mau dengan serius dan sungguh-sungguh menyimak keluhannya. Membuka saluran komunikasi buat penyampaian unek-uneknya.

Jika kita bisa melakukannya, laksanakanlah. Tidak ada ruginya. Untungnya banyak sekali. Salah satunya bisa membahagiakan dengan membuat hati dan pikiran orang yang sedang susah jadi plong.

Mereka yang dibantu pasti senang sekali. Beban berat di hati dan pikirannya jadi berkurang. Mereka akan merasa berhutang budi seumur hidup pada semua orang yang pernah membantunya.

Di saat kondisinya kritis dan krisis, TUHAN mengirimkan “malaikat” yang wujudnya manusia untuk membantunya. Meringankan penderitaannya.

Di sisi lain, saat kita berbuat baik, mungkin ada yang nyinyir. Jumlahnya tidak banyak. Hanya satu dua orang. Minoritas.

Meskipun yang kita dilakukan positif – membantu banyak orang meringankan beban penderitaan mereka – ada saja komentar miring. Melihat dari sudut pandang yang berbeda dan negatif.

Biasanya yang komentar negatif orangnya itu-itu saja. Memang sudah karakter mereka dari sananya.

Rezekinya Seret
Selama pandemi Covid-19 dan setelah ini, orang-orang nyinyir itu tidak usah ditanggapi. Jangan buang-buang energi menanggapi mereka.

Anggap saja seperti anjing menggonggong kafilah berlalu. Jadi apapun yang disampaikannya biarkan saja. Tidak perlu ditanggapi. Lama-lama mereka bakal kelelahan sendiri.

Orang-orang yang karakternya seperti ini perlu dikasihani. Dari waktu ke waktu mereka mempersempit ruang geraknya sendiri.

Akibat ulah negatifnya, selain dosanya selalu bertambah, temannya pasti berkurang. Seiring dengan itu rezekinya seret.

Mereka baru sadar ketika TUHAN memberi cobaan. Saat butuh bantuan orang lain, bakal susah mendapatkannya. Di samping malu menyampaikannya karena (mungkin) pernah menyakiti orang yang akan dimintai bantuan, juga belum tentu dibantu.

Belajar dari semua hal di atas, selama pandemi Covid-19 adalah momentum yang sangat besar dan terbuka lebar untuk membantu banyak orang sesuai kemampuan masing-masing. Jika menemukan orang yang nyinyir atas perbuatan baik yang dilakukan, cuekin saja. Sedetikpun jangan membuang waktu untuk menanggapi mereka.

Semoga semakin banyak orang yang bisa dibantu untuk meringankan beban mereka. Aamiin ya robbal aalamiin.

Dr Aqua Dwipayana

Pakar Komunikasi dan Motivator Nasional

0 comment
1

Related Post

Leave a Comment