Bahaya Kanker Kepala dan Leher, CISC Adakan Virtual Edukasi Ingatkan 4 Penyebab Angka Kematian Tinggi

by Slyika

JAKARTA – Dalam rangka memperingati Hari Peduli Kanker Kepala Leher, CISC (Indonesian Cancer Information & Support Center Association) mengadakan edukasi virtual dengan tema “Waspadai Bahaya Kanker Kepala dan Leher” melalui aplikasi zoom yang diadakan Selasa (27/07) bertepatan dengan Hari Kanker Kepala dan leher sedunia.

Acara yang dihadiri oleh Masyarakat umum dan anggota CISC ini menghadirkan dua nara sumber dengan masing-masing memaparkan materi yaitu Prof. Dr. dr.Soehartati A. Gondhowiardjo, Sp.Rad(K)Onk.Rad dengan pembahasan “ Manajemen Awal Kanker Kepala dan Leher” dan dr. Nadia Ayu Mulansari, SpPD, K-HOM dengan mengupas topik “Peran kemoterapi pada kanker dan Leher”.

Berdasarkan laporan estimasi data kanker dunia, Globocan 2020, terdapat jumlah kasus baru sebesar 931.922 dan angka kematian sebanyak 467.125 dan Asia merupakan terbanyak, termasuk Indonesia menyumbang 33.798 jumlah kasus baru dengan angka kematian 20.861. Kanker kepala dan leher merupakan hal yang sulit bagi pasien. Kanker ini dapat terlihat jelas di tubuh pasien dan sangat mempengaruhi kegiatan sehari- hari seperti makan, minum, berbicara yang pada akhirnya berdampak pada kehidupan sosialnya.

“Kanker kepala dan leher adalah kanker yang berasal dari sel-sel skuamous yang membatasi permukaan mukosa lembab di dalam mulut, hidung dan tenggorok) dan sering disebut Karsinoma sel skuamous kepala dan leher. Selain itu, kanker kepala dan leher dapat berasal dari kelenjar ludah tetapi kanker kelenjar ludah relatif jarang dijumpai,” papar dr. Nadia.

dr. Nadia

“Sederhananya kanker kepala dan leher terjadi pada organ saluran pernafasan dan bagian atas saluran pencernaan mencakup (termasuk bibir, mulut, lidah, hidung, tenggorokan, pita suara, dan bagian dari esofagus dan tenggorokan). Tentunya akan sangat mempengaruhi kualitas hidup (Quality of life) penderitanya seperti berbicara, bernafas, penglihatan, pendengaran, makan dan menelan,” tutur Prof. Tati.

Prof. Tati

Angka kematian yang tinggi untuk kanker kepala dan leher ditenggarai dipengaruhi beberapa hal sebagai berikut :
1. Ketakutan pasien dan kurangnya pengenalan dan kewaspadaan masyarakat mengenai kanker kepala dan leher serta gejala awal (dalam hal populer, kanker payudara dan leher rahim mendapatkan perhatian lebih dalam upaya pencegahan dan pengendalian kanker di Indonesia).
2. Gejala kanker kepala dan kanker leher tidak mempunyai ciri khas dan sering kali rancu dengan penampakan gejala alergi maupun auto imun, sehingga sulit dideteksi lebih awal.
3. Sulitnya upaya pencegahan sekunder, misal pemeriksaan Pap Smear untuk mencegah kanker leher Rahim dan upaya “sadari” pada pencegahan kanker payudara, sehingga pada kasus kanker kepala dan leher maka pengobatan primer yang sering menjadi pilihan.
4. Banyak pasien kanker yang menunda pengobatan ke Rumah sakit karena takut terpapar Covid 19. Paradigma ini yang harus diubah. karena yang pasti sudah kena kanker belum tentu kena covid 29. Penundaan akan berpotensi meningkatkan stadium kanker menjadi advance dan tentu akan menjadi lebih sulit untuk diobati.

Dengan adanya Webinar ini, diharapkan masyarakat umum lebih mengenal dan waspada akan gejala kanker kepala dan kanker leher sekaligus memberikan edukasi mengenai pentingnya mencegah faktor resiko pemicu kanker walaupun penyebab pasti kanker sampai saat ini belum diketahui. (sinse_novi)

0 comment
3

Related Post

Leave a Comment